Friday, November 13, 2015

Book Review: Last Forever by Windry Ramadhina

.
BOOK review
Started on: 31.October.2015
Finished on: 4.November.2015

Judul Buku : Last Forever
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 384 Halaman
Tahun Terbit: 2015
Harga: Rp 58,650 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 5/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------  
"'Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri.' Mungkin sekarang kau memikirkan ulang kata-kata itu."
Samuel Hardi dan Lana Hart; sepasang pembuat film dokumenter ini menjalani sebuah hubungan yang akan membuat orang bingung setiap kali mereka mendengarnya. Lana tinggal di Washington sedangkan Samuel tinggal di Jakarta. Sesekali, dalam jangka waktu yang lama, Lana akan muncul di hadapan Samuel dan mereka akan menghabiskan malam yang intim bersama—kemudian Lana akan pergi begitu saja. Meskipun telah menjalani hubungan tersebut selama bertahun-tahun, keduanya tidak menyebut diri mereka sebagai sepasang kekasih. Karena Samuel dan Lana sama-sama tidak menyukai komitmen, tidak menyukai ikatan, dan sama sekali tidak mempercayai pernikahan. Hingga tiba saat ketika Lana mendapat kesempatan dari National Geographic untuk mengerjakan film dokumenter impiannya, sehingga ia harus tinggal di Jakarta dan bekerjasama dengan Studio milik Samuel. Saat itulah semuanya berubah.

"Namun, memangnya, dia punya pilihan apa lagi? Dia tidak rela impian-impiannya lepas dari genggamannya seperti impian-impian ibunya. Bagaimana jika dia berakhir sama? Bagaimana jika dia menjadi malaikat yang menangis kala senja karena menyesal kehilangan apa yang pernah dimilikinya?"
Sewaktu perubahan itu datang, Lana seketika dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit yang harus mempertaruhkan karir yang amat ia cintai. Seiring berjalannya waktu, hubungannya dengan Samuel menjadi semakin rumit. Hubungan tanpa komitmen yang begitu mereka nikmati dulu kini mulai dipertanyakan. Ketakutan bahwa mereka akan semakin saling menyakiti satu sama lain menghantui mereka. Dan pada akhirnya, pengorbanan pun harus dilakukan. Apakah Samuel dan Lana siap untuk membuat pengorbanan tersebut?
"Kata "cinta" membuat Lana geli. Dia menggeleng. Hubungannya dengan Samuel tidak sedalam itu. Dia tidak tahu apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan mereka, tetapi yang jelas bukan "cinta".
"Berakhir sudah. Dia kehilangan Lana. Setelah malam ini, mereka tidak akan bisa seperti dahulu lagi. Apa yang mereka miliki selama tujuh tahun akan hilang. Itu tidak terelakkan. Dia telah mengambil risiko. Dan, dia kalah."
image source: here. edited by me.
Aku selalu menikmati penulisan Windry Ramadhina yang manis dan tidak pernah mau melewatkan buku terbarunya. Dan di buku kali ini, Windry Ramadhina tetap berhasil memikatku dengan tulisannya yang apik serta dua karakter utamanya yang sangat berkesan. Buku yang ditulis dari sudut pandang ketiga ini diawali dengan memperkenalkan kedua karakter utamanya: Samuel Hardi dan Lana Hart, serta hubungan yang mereka jalani selama bertahun-tahun. Konflik utama ceritanya muncul tidak lama kemudian, tetapi aku tidak akan menceritakannya dalam review agar yang belum membaca bisa ikut menikmati kejutannya :) Yang jelas konflik tersebut menimbulkan banyak permasalahan lain dalam ceritanya. Hal yang paling aku sukai dari buku ini adalah melihat perkembangan yang terjadi pada karakter Lana dan Samuel. Aku sangat suka bagaimana dua karakter yang sama-sama anti-komitmen garis keras ini perlahan-lahan mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Pembaca akan melihat dengan jelas perjalanan emosi yang harus dilalui oleh Samuel dan Lana dalam cerita ini. Banyak ketakutan, kekhawatiran, dan juga ketidakrelaan saat mereka harus menghadapi apa yang ada di depan. Setelah semua emotional rollercoaster yang harus aku lewati bersamaan dengan kedua karakternya, ending-nya yang manis benar-benar membuatku turut bahagia. Entah apakah hanya aku saja yang terlalu tenggelam dalam ceritanya, yang jelas hatiku menghangat saat membaca adegan terakhir yang sederhana namun menyentuh :')
"Sungguh, dia tidak memahami jalan pikiran lelaki dan perempuan muda zaman sekarang. Mereka kelewat skeptis. Seakan-akan, dunia ini telah menjelma sangat buruk dan mereka tidak berani mengambil risiko menderita. Atau, barangkali, mereka semata-mata tidak berani percaya bahwa di balik risiko tersebut ada harapan meskipun setitik."
Mengesampingkan kedua karakter utamanya sebentar, aku harus mengatakan bahwa karakter favoritku dari buku ini adalah Rayyi, orang yang bekerja untuk Samuel. Karakter Rayyi merupakan karakter utama dalam novel Windry Ramadhina yang berjudul, Montase (2013); dan sebenarnya cukup ironis karena dalam review-ku untuk Montase aku malah memilih Samuel Hardi sebagai karakter favoritku XD. Karakter Rayyi yang cukup menyebalkan bagi Samuel terasa seperti angin segar karena ia selalu mengatakan hal-hal yang memang perlu didengar oleh atasannya itu. Di tengah semua konflik yang pelik dalam buku ini, kemunculan Rayyi selalu berhasil membuatku tersenyum saat membaca :)

Walaupun bukan karakter favoritku, itu bukan berarti aku tidak menyukai karakter Samuel Hardi, karena ia adalah karakter yang sangat berkesan untukku. Kepribadiannya yang arogan dan perfeksionis memberi pesona tersendiri pada karakternya. Karena sosoknya yang angkuh itulah, gesture manis sekecil apapun yang ia lakukan jadi terasa menyentuh. Namun yang paling aku suka adalah sewaktu karakter yang sangat keras ini perlahan-lahan melembut, bahkan nyaris terlihat lemah saat dihadapkan pada perasaannya. Sedangkan karakter Lana Hart memiliki luka masa lalu yang membuatnya takut terhadap komitmen. Ia selalu takut kehilangan kebebasan untuk melakukan apa yang dia cintai dan menyesalinya kemudian. Meskipun karakternya tidak seangkuh Samuel, Lana juga adalah sosok yang keras kepala yang tidak mudah digoyahkan.
"Samuel bukan takut berhadapan dengan penolakan. Dia takut keinginannya memiliki Lana justru akan menyebabkannya kehilangan perempuan itu. Dia akan kehilangan perempuan itu juga apabila tidak segera berbuat sesuatu. Malakama. Sialan benar."
"Dalam hubungan lelaki dan perempuan, memang harus ada yang dikorbankan. Itu yang membuat hubungan berhasil. Itu yang menjadikan hubungan berharga."
Dalam buku ini, Windry Ramadhina sukses membuatku tenggelam dalam kisah Samuel dan Lana serta membuatku bersimpati terhadap apa yang dilalui oleh kedua karakternya. Ceritanya juga sedikit banyak memberikan pencerahan tentang komitmen; mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi orang-orang yang selama ini juga merasakan ketakutan/kekhawatiran yang sama seperti Samuel atau Lana. Selain itu, aku juga suka latar belakang pekerjaan Samuel dan Lana yang adalah pembuat film dokumenter; apalagi karena mereka bekerjasama dengan National Geographic. Sedikit banyak aku jadi tahu seluk-beluk pekerjaan tersebut. Aku akan terus menantikan karya Windry Ramadhina yang selanjutnya, karena aku tidak sabar untuk kembali menikmati penulisannya yang selalu berhasil membuatku terbuai :))
"Dia tidak tahu bagaimana omong kosong tersebut berhasil memengaruhi Samuel. Dia tidak mengerti mengapa lelaki itu membiarkan dirinya berubah. Yang jelas, dia dan lelaki itu tidak lagi sama. Sekarang, mereka berdiri berseberangan."
by.stefaniesugia♥ .

6 comments:

  1. gak sabar pengen bacaaa,,,udah po tapi blom sampe :)

    makasih reviewnya kak :)

    ReplyDelete
  2. Kak Stef, boleh tanya itu font yang dipake buat tulisan "Last Forever" di ilustrasinya apa? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh maaf nih aku lupa XD Nanti kalo aku ketemu aku update ya :D

      Delete
  3. Hihi lucu dee. Pada review Montase karakter favorit Kak Stefanie adalah Samuel, dan sekarang pas nulis review untuk Last Forever jadi kebalik, Rayyi yang difavoritkan. :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...