Tuesday, January 22, 2013

Book Review: Montase by Windry Ramadhina

.
BOOK review
Started on: 20.January.2012
Finished on: 20.January.2012

Judul Buku : Montase
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 368 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 49,000 (http://www.bookoopedia.com)

Rating: 4.5/5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan? Bagimu, impian itu adalah menjadi pembuat film dokumenter... Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan."
Sebuah kisah yang berawal dari seorang lelaki bernama Rayyi - mahasiswa di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Cerita ini diawali dengan kekalahannya dalam sebuah Festival Film Dokumenter Greenpeace yang diikutinya; Rayyi dikalahkan oleh seorang gadis asal Jepang bernama Haru Enomoto yang sedang melakukan studi banding di IKJ. Kesan pertama Rayyi terhadap gadis liliput dari Jepang itu tidak begitu baik - apalagi mengingat kekalahan yang masih tidak bisa ia terima. Namun, kehadiran Haru Enomoto dalam kehidupan Rayyi, secara perlahan mengubah diri lelaki itu dan juga masa depannya.

Selama ini Rayyi mengambil Peminatan Produksi - padahal yang sebenarnya ia inginkan adalah Peminatan Dokumenter. Semua itu terjadi karena latar belakang keluarga Rayyi: ayahnya, bernama Irianto Karnaya, adalah seorang sineas terkenal Indonesia yang telah memproduksi banyak film dan sinetron. Mau tidak mau, beban yang sama pun jatuh ke pundak Rayyi; dan tentu saja Ayahnya berharap anak satu-satunya dapat melanjutkan kesuksesannya. Akan tetapi, yang tidak diketahui oleh Ayah Rayyi, anaknya sembunyi-sembunyi mengikuti kelas Dokumenter IV - yang diajar oleh Samuel Hardi, seorang sutradara film dokumenter terbaik Asia.
"Ada sesuatu dalam film dokumenter, entah apa, yang menyebabkan aku sangat tertarik. Kejujurannya, mungkin, atau detail-detail autentik yang memperlihatkan kehidupan apa adanya. Barangkali juga, pemikiran yang membumi, kesadaran akan keberadaan masalah-masalah di dunia, dan kepedulian untuk mengatasi semua itu. Atau, bisa jadi, momen magis kala film itu usai dan aku merasa ada sesuatu yang berubah dari diriku."
Dengan mengikuti kelas Dokumenter, Rayyi lagi-lagi harus bertemu dengan Haru Enomoto - yang memang mengambil Peminatan Dokumenter. Dan untuk tugas pertama Dokumenter IV, entah apa yang membuat Rayyi memutuskan untuk merekam Haru dalam filmnya. Hal tersebut membuat Rayyi dan Haru menghabiskan banyak waktu berdua - dan perlahan-lahan Rayyi seperti tersedot oleh Haru, bahkan menjadi candu terhadap gadis Jepang itu.

Seiring berjalannya waktu, Rayyi pun semakin dekat dengan Haru dan ia membiarkan gadis yang ceroboh itu masuk ke dalam kehidupannya. Semakin mengenal Haru, Rayyi akhirnya mengetahui bahwa gadis itu sangat pandai melukis - tetapi ia memilih belajar dokumenter demi membahagiakan kedua orangtuanya. Saat itu, Rayyi merasa yang terjadi pada dirinya sangat serupa dengan Haru - akan tetapi juga sangat berbeda. Meskipun Haru tidak meraih impiannya untuk melukis, ia sama sekali tidak mempunyai penyesalan karena impiannya yang lebih besar adalah membahagiakan orangtuanya. Lewat Haru pula, Rayyi memperoleh kekuatan yang besar untuk meraih impiannya sendiri. Namun saat Rayyi mulai mempunyai perasaan lebih terhadap Haru, waktu yang mereka miliki bersama harus berakhir.
"Dia bergurau. Bibirnya tersenyum, tetapi ada kesedihan tersirat samar di matanya.
Bodohnya, saat itu aku tidak mengerti arti dari tatapan Haru yang pilu. Saat aku mengerti, itu sudah terlambat."
Baca kisah selengkapnya di Montase.
image source: here. edited by me.
Jujur saja, saat akan membaca buku ini, aku sama sekali tidak memiliki bayangan sedikitpun tentang alur ceritanya. Aku membeli buku ini hanya berdasarkan nama Windry Ramadhina yang tertulis pada sampulnya - ini adalah kali ketiga aku membaca karyanya. Prolog pada bagian awal cerita itu telah membuatku penasaran tentang kehidupan Rayyi dan juga Haru yang menuliskan surat kepada lelaki itu. Buku ini pun tidak langsung memaparkan semua permasalahannya di hadapan pembaca, tetapi perlahan-lahan kita diperkenalkan kepada karakternya: dimulai dari Rayyi dan teman-temannya (Sube, Andre, dan Bev), kecintaan Rayyi kepada film dokumenter, dan juga kedatangan seorang Haru di antara mereka. Meskipun masalahnya muncul secara perlahan-lahan, aku sangat menikmati ceritanya - apalagi karakter-karakter yang ada dalam buku ini menyenangkan.

Ringkasan cerita di atas sebenarnya tidak berbicara banyak, karena isi buku ini jauh lebih daripada itu. Konfliknya pun tidak hanya tentang berputar di sekitar hubungan Rayyi-Haru saja; bahkan aku merasa roman antara mereka hanyalah masalah yang sekunder. Menurut pendapatku sendiri, konflik utama dalam kisah ini adalah tentang perjuangan seorang Rayyi yang berusaha keras meraih impiannya - meskipun ia terhalang oleh sang Ayah, ia tidak dengan begitu mudah menyerah (berkat dorongan Haru). Mengesampingkan segala macam konflik yang ada dalam ceritanya, aku merasa gaya penulisan Windry Ramadhina-lah yang membuat semuanya terasa pas. Karena buku ini ditulis dari sudut pandang Rayyi, semua perasaan yang ia rasakan dapat kita ketahui - dan aku merasa mengenal sang karakter utama ini dengan baik. (*Ending tidak akan dibicarakan supaya tidak spoiler bagi yang belum baca :p)

Karakter favoritku dalam Montase adalah Samuel Hardi; entah mengapa aku tidak memilih karakter utamanya - tapi Samuel Hardi juga dapat disebut sebagai karakter sampingan yang cukup penting dan berpengaruh. Meskipun ia digambarkan sebagai lelaki yang suka bermain dengan wanita - entah mengapa aku bisa jatuh hati pada karakter ini. Sikapnya yang angkuh dan menyebalkan justru membuatku semakin tertarik dengan karakter ini; karena di balik sikapnya itu, ia juga mempunyai sisi yang peduli dan perhatian. Selain Samuel Hardi, aku juga menyukai Sube - sahabat Rayyi - yang biasanya dipanggil Bule. Karakter ini mempunyai kesan yang menyenangkan dan menghibur saat aku membacanya :))

Overall, aku sangat menikmati buku ini! Aku sebenarnya cukup bingung rating berapa yang ingin aku berikan untuk buku ini. Menilai kenikmatan membacanya, aku sangat ingin memberi rating 5; tetapi karena ada beberapa faktor (seperti ending yang lumayan mudah tertebak), akhirnya aku memutuskan untuk memberikan rating 4.5. Meski demikian, aku tetap memberikan dua jempol untuk Windry Ramadhina atas karyanya - dan aku selalu menantikan buku yang selanjutnya ;))

by.stefaniesugia♥ .

1 comment:

  1. Wah seru tentang pembuat film dokumenter! Baru nih.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...