Monday, January 19, 2015

Book Review: Hannibal Rising (Hannibal Lecter, #4) by Thomas Harris

.
BOOK review
Started on: 11.January.2015
Finished on: 13.January.2015

Judul Buku : Hannibal Rising (Hannibal Lecter, #4)
Penulis : Thomas Harris
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 416 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 52,700 (http://www.bukabuku.com/)

Rating: 2.5/5
Red Dragon (Naga Merah) (Hannibal Lecter, #1) by Thomas Harris
The Silence of the Lambs (Domba-domba Telah Membisu) (Hannibal Lecter, #2) by Thomas Harris
Hannibal (Hannibal Lecter, #3) by Thomas Harris
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Hannibal kecil sudah mati pada tahun 1945 di luar sana, di tengah salju, sewaktu berusaha menyelamatkan adik perempuannya. Hatinya ikut mati bersama Mischa. Apa jadinya dia sekarang? Belum ada kata yang tepat untuk menggambarkannya. Karena tidak ada istilah yang lebih tepat, kita sebut saja dia itu monster."
Pada tahun 1941 di Lithuania, keluarga Lecter melarikan diri ke sebuah gubuk untuk menghindari tentara Jerman. Akan tetapi keluarga mereka kurang beruntung saat bom diledakkan, menewaskan seluruh anggota keluarga kecuali Hannibal Lecter yang masih berusia 8 tahun, dan adik perempuannya, Mischa. Sembari bertahan hidup, mereka kedatangan sekelompok orang yang mencari-cari bahan makanan. Tak lama kemudian, Mischa diambil oleh sekelompok orang itu; dan yang Hannibal ketahui, yang tersisa dari Mischa hanyalah gigi-gigi bungsunya. Hari itu Hannibal Lecter kehilangan segalanya; bersamaan dengan itu juga perlahan-lahan ia mulai kehilangan dirinya sendiri dan menjadi sosok yang berbeda.

"Duniaku di Hiroshima luluh lantak dalam sekejap. Duniamu juga telah direnggutkan darimu. Sekarang kau dan aku hanya memiliki dunia yang kita ciptakan bersama-sama. Saat ini. Di dalam ruangan ini."
Hannibal kemudian tinggal bersama pamannya, Robert Lecter dan istrinya, Lady Murasaki. Hannibal yang telah berhenti bicara sejak kejadian nahas itu, perlahan-lahan mulai membuka dirinya terhadap Lady Murasaki. Dengan usahanya mengingat kembali detail kejadian di masa yang lampau, Hannibal berhasil mengingat wajah orang-orang yang merenggut nyawa adiknya. Ia berusaha keras melacak nama orang-orang tersebut dan mengincar mereka, karena ia bertekad untuk membalaskan dendam atas kematian Mischa.
"Dengan usaha-usaha kita sendiri, mungkin kita akan melihat bagaimana binatang yang bersemayam di dalam dirinya menolehkan kepala dan bergerak naik, memasuki dunia..."
image source: here.
Sangat disayangkan sekali seri Hannibal Lecter ini berakhir dengan kurang memuaskan untukku, karena seperti buku sebelumnya, aku memiliki ekspektasi yang cukup tinggi untuk buku ini. Pertama-tama, aku harus menjelaskan bahwa aku tidak tahu apakah kekecewaanku ini disebabkan oleh terjemahannya, atau memang ceritanya yang tidak berhasil memberikan kepuasan untukku. Entah mengapa sejak mulai membaca buku ini, banyak hal yang membingungkan bagiku—dan ceritanya pun tidak berhasil menarik perhatianku. Meskipun begitu, tentu saja aku mendorong diriku sendiri untuk terus membaca; karena aku selalu penasaran dengan latar belakang kehidupan Hannibal Lecter dan apa yang membuatnya jadi sosok yang demikian menyeramkan.

Seperti buku sebelumnya, alur ceritanya berjalan cukup lambat—sehingga harus bersabar sebagian besar waktu aku membacanya. Diawali dengan kisah keluarga Lecter yang hidup makmur dan bahagia; serta memperkenalkan karakter Hannibal yang sangat cerdas dengan kemampuan di atas rata-rata. Semuanya memburuk ketika tempat Hannibal hanya tinggal berdua saja dengan adik perempuannya, Mischa, sementara semuanya meninggal. Kejadian yang terjadi pada Hannibal dan Mischa meninggalkan trauma yang hebat dalam dirinya yang masih kecil. Dan dari situlah awal mula segalanya; kemarahan yang bersemayam dalam hatinya memicu hasrat untuk membalas dendam. Yang selanjutnya terjadi adalah proses bagaimana Hannibal melacak orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian adiknya, dan caranya membalaskan dendam. Sewaktu membaca, aku selalu tidak sabar menantikan Hannibal beraksi, tetapi ada beberapa bagian buku ini yang terasa bertele-tele. Mungkin bagian tersebut bertujuan untuk meningkatkan intensitas ceritanya, namun sayangnya aku tidak merasa demikian—yang mungkin juga disebabkan oleh terjemahannya. Walaupun aku kurang puas dengan alurnya, tentu saja masih ada momen-momen yang berhasil membuatku menganga lebar karena aku tidak menduga apa yang Hannibal rencanakan. Bagian-bagian itulah yang mendorongku memberikan rating 2.5 untuk buku ini. Dan meskipun pada akhirnya aku tidak begitu menyukai buku ini, setidaknya sekarang aku tahu lebih banyak tentang masa lalu Hannibal dan 'aksi-aksi' perdananya.


Tentunya aku tidak akan melewatkan pembahasan karakter Hannibal Lecter dalam buku ini. Dan akhirnya aku tahu bahwa kecerdasan(atau bahkan kejeniusan)-nya memang telah ada sejak lama. Sejak kecil Hannibal mempelajari hal-hal unik dengan guru pribadinya Mr. Jakov. Ia bisa dengan cepat mempelajari sejumlah bahasa asing, dan pada akhirnya ia juga menjadi semacam expert dalam bidang anatomi—yang tentunya berperan penting dalam 'aksi'-nya kemudian. Aku selalu terpukau dengan ketenangan Hannibal; bahkan saat melakukan hal paling kejam sekalipun detak jantungnya tidak lebih dari 72. Aku cukup menyukai evolusi karakter Hannibal yang semakin lama seolah semakin mati hati nurani-nya. Seolah ia bukan lagi manusia normal saat buku ini berakhir. Dan perlu aku tekankan bahwa Hannibal bukan madman yang sembarangan bertindak; ia pasti punya alasan mengapa korbannya patut 'dihukum'. Dalam buku ini, ada banyak karakter lain yang sebenarnya bisa saja ia bunuh, tetapi Hannibal memilih untuk tidak melakukannya. Hal itu adalah salah satu karisma dan pesona Hannibal yang membuatku menyukai karakternya. Satu lagi karakter yang cukup menarik dari buku ini adalah Lady Murasaki, istri dari paman Hannibal. Ia berperan cukup besar dalam buku ini, karena ia berusaha untuk menghentikan semua madness yang diciptakan oleh Hannibal. Namun pada akhirnya tidak disebutkan dengan jelas apa yang terjadi pada karakternya.

http://31.media.tumblr.com/ca3f2a616118821affd79e52c3a1e589/tumblr_nc85ciDmX21tgnm3po6_400.gif http://31.media.tumblr.com/e0a307d9514fa87d901b1ec109f4540b/tumblr_nc85ciDmX21tgnm3po2_400.gif

Dibandingkan buku-buku sebelumnya, aku sangat tertarik untuk menonton adaptasi film untuk Hannibal Rising. Alasan terutama adalah karena aku suka dengan pemeran Hannibal Lecter (Gaspard Ulliel) dan Lady Murasaki (Gong Li), yang menurutku akan memainkan karakter masing-masing dengan sempurna. Tetapi di sisi lain tentu saja aku juga takut.... jadi aku masih menimbang-nimbang apakah akan menontonnya atau tidak. Bagi yang belum pernah nonton film yang sudah cukup lama ini (sejak tahun 2007), silahkan lihat trailer-nya di bawah :)) Dan overall, meskipun dengan perasaan agak kecewa, aku senang akhirnya bisa menyelesaikan seri Hannibal Lecter ini. Entah apakah aku akan bisa menemukan sosok anti-hero yang 'sehebat' ini dalam buku yang lain. It's been a pleasure knowing you, Hannibal. And please, don't eat my brain.
"Dia tidak tersiksa oleh amarah pada Grentz. Dia sama sekali tidak tersiksa oleh kemarahan lagi, atau oleh mimpi-mimpi. Ini untuk senang-senang saja dan membunuh Grentz lebih menyenangkan daripada main ski."
 
 by.stefaniesugia♥ .
 

4 comments:

  1. Seri penutup justru adalah prekuel ya? Hmm. Jadi penasaran.

    Btw, kalau ingin mencari bacaan bagus dengan tokoh utama anti-hero yang keren, mungkin bisa coba baca Vicious by V.E. Schwab. Aku sendiri belum baca, tapi sudah cukup banyak membaca review mengenai buku tersebut, yang sebagian besar memuji buku itu. Aku sangat berharap buku itu diterjemahkan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa ini prekuel buku-buku sebelumnya :D Aku juga sering denger Vicious, tp msh belum kebaca e-booknya XD thanks rekomendasinyaaa ;))

      Delete
  2. Prekuel dari Hannibal? Aku belum pernah baca bukunya, tapi kalau filmnya sudah dan berhasil membuat kulit merinding.. -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha iyaaa makanya aku belum berani nonton filmnya XD

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...