Monday, December 8, 2014

Book Review: Hannibal (Hannibal Lecter, #3) by Thomas Harris

.
BOOK review
Started on: 25.November.2014
Finished on: 4.December.2014

Judul Buku : Hannibal (Hannibal Lecter, #3)
Penulis : Thomas Harris
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 664 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 66,300 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 3/5
Red Dragon (Naga Merah) (Hannibal Lecter, #1) by Thomas Harris
The Silence of the Lambs (Domba-domba Telah Membisu) (Hannibal Lecter, #2) by Thomas Harris
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Dr. Lecter punya tingkah laku sempurna. Tidak kaku, tapi santai dan elegan. Waktu itu aku sedang mengikuti kursus tertulis dan dia berbagi pikiran denganku. Itu tidak berarti dia tidak akan membunuhku kalau ada kesempatan. Satu sifat dalam diri seseorang tidak menghilangkan sifat lainnya. Sifat-sifat itu bisa berdiri berdampingan. Sifat baik dan sifat mengerikan."
Tujuh tahun telah berlalu semenjak Dr. Hannibal Lecter berhasil lolos dari penjara dan hilang tanpa jejak. Sedangkan Clarice Starling sedang dalam keadaan yang terpuruk dalam karirnya saat ia menembak seorang kriminal yang sedang menggendong bayi. Ketika nama Clarice Starling muncul di berita, Dr. Hannibal Lecter mengiriminya surat. Saat itulah Dr. Hannibal Lecter kembali muncul sedikit di permukaan, dan perhatian FBI mulai terarah kepadanya. Dan salah satu korban Dr. Hannibal Lecter yang masih hidup, Mason Verger, dikabarkan memiliki petunjuk atas keberadaan Hannibal Lecter. Mason yang separuh wajahnya dimakan oleh anjing itu akan memberikan imbalan yang sangat besar bagi orang yang bisa membawa Dr. Hannibal Lecter hidup-hidup untuk membalaskan dendamnya.

Oleh karena itulah banyak orang yang berusaha mengincar keberadaan Hannibal Lecter demi imbalan tersebut, termasuk Rinaldo Pazzi, seorang detektif dengan reputasi yang buruk. Ia berhasil melacak keberadaan Hannibal Lecter yang telah merubah beberapa hal pada dirinya dan menggunakan nama yang berbeda. Dengan segala upaya, Pazzi berusaha untuk mendapatkan bukti bahwa yang ia temukan memang adalah Dr. Hannibal Lecter. Dan ia pun pergi menemui Mason Verger untuk melakukan tugas sesuai yang diperintahkan. Akan tetapi tidak semua rencana tersebut berjalan dengan lancar pada akhirnya.
"Pada upacara-upacara komuni di pesta Natal di seluruh dunia, orang-orang saleh percaya bahwa melalui mukjizat konsekrasi, mereka benar-benar menyantap tubuh dan darah Kristus. Mason mulai mempersiapkan upacara yang jauh lebih mengesankan. Ia mulai menyusun rencana supaya Dr. Hannibal Lecter dimangsa hidup-hidup."
Sementara itu, Clarice Starling juga melakukan penyelidikannya sendiri. Ia berusaha melacak keberadaan Dr. Hannibal Lecter dengan mengetahui selera pria itu. Starling bahkan menemui Barney, penjaga tahanan yang bersama Lecter selama 6 tahun, untuk mencari petunjuk. Akibat berbagai macam konspirasi yang terjadi, Starling selalu terlambat satu langkah karena FBI mendapat akses terhadap surat-suratnya terlebih dahulu. Perburuan Dr. Hannibal Lecter berjalan panjang, namun hanya satu sedikit orang yang tersisa pada akhirnya.
"Orang-orangmu mungkin saja membunuhku di jalan. Tapi kau menginginkan aku hidup-hidup, bukan?....Karena kau sangat ingin melihatku, izinkan aku memberikan beberapa kata penghiburan, dan kau tahu aku tak pernah berdusta.
Sebelum mati, kau akan melihat wajahku.
Hormatku,
Hannibal Lecter, MD."

Sepertinya aku menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap buku ini karena aku tahu Hannibal Lecter akhirnya akan menjadi pusat dari ceritanya. Dua buku pertama dari seri Hannibal Lecter lebih fokus terhadap misteri pembunuhan berantai yang dilakukan oleh orang lain sementara Hannibal Lecter ditahan. Dan di buku ketiga ini, aku sangat berharap dapat melihat lebih banyak aksi Hannibal Lecter—karena meskipun kedengaran aneh, aku selalu mendukung Hannibal dan ingin ia menang pada akhirnya. Akan tetapi entah mengapa buku yang panjang ini terasa berjalan lambat dan tidak menyuguhkan apa yang aku harapkan. Meskipun demikian, buku ini memiliki momen-momen yang berhasil membuatku menganga lebar saat membacanya.

Sebelum aku mulai membahas lebih lanjut tentang buku ini, perlu aku tekankan bahwa aku membaca versi terjemahannya. Dan terkadang terjemahan bisa mengubah banyak hal dari teks aslinya, termasuk kenikmatan membaca. Aku mungkin akan membahas tentang topik terjemahan ini dalam post yang lain :) Salah satu hal yang cukup mengecewakan untukku dari buku ini adalah alurnya yang terasa lambat, dan juga perkembangan cerita yang berjalan sedikit demi sedikit. Aku rasa alur yang lambat ini mungkin disebabkan oleh banyaknya karakter yang menjadi fokus ceritanya, seperti Mason Verger, Rinaldo Pazzi, Paul Krendler, dan sejumlah orang lain yang memburu Hannibal Lecter. Namun tentu saja, di antara alur yang lambat itu masih terdapat saat-saat menegangkan yang membuatku kembali semangat membaca. Sebagian besar adalah saat pengungkapan hal-hal yang tidak terduga olehku, dan juga tentunya saat Dr. Hannibal Lecter beraksi. Meskipun ada beberapa saat ketika aku merasa bosan sewaktu membaca buku ini, aku tetap meneruskannya hingga selesai karena penasaran dengan ending ceritanya. Ending buku ini sama sekali di luar dugaanku (dan jujur saja aku sama sekali tidak bisa menebak kemana arah ceritanya), dan aku sama sekali tidak tahu harus berkomentar seperti apa... Karena aku sendiri speechless sewaktu membaca akhir ceritanya. Dan walaupun aku merasa kecewa dengan beberapa aspek buku ini, aku masih penasaran dengan buku terakhir seri ini, Hannibal Rising, yang menceritakan tentang masa lalu Hannibal. Karena satu-satunya faktor yang tidak mengecewakanku dari buku ini adalah karakter Dr. Hannibal Lecter.
"Mason Verger, tanpa hidung dan bibir, tanpa jaringan lunak di wajahnya, penampilannya seakan hanya gigi, seperti makhluk samudra yang amat sangat dalam. Walau kita sudah terbiasa melihat topeng, rasa kaget melihat Mason datang agak kemudian. Rasa kaget itu baru tiba setelah menyadari bahwa ini adalah wajah manusia, dengan pikiran di baliknya."
Sebelum membahas tentang karakter favoritku, aku mau menyinggung sedikit tentang salah satu karakter utama yang lain dalam buku ini, yaitu Mason Verger. Menurutku, karakter ini lebih aneh dan lebih freaky dibandingkan Dr. Hannibal Lecter. Selain wajahnya yang rusak akibat dimakan anjing, ia memiliki hobi menyakiti anak-anak dan menambahkan air mata anak tersebut pada martini-nya (??!). Adegan itu benar-benar membuatku menganga, karena tidak pernah membayangkan akan ada orang seperti itu (ya, meskipun dia hanya karakter fiksi). Dan karakter favoritku masih tetap Dr. Hannibal Lecter; yang benar-benar elegan dalam segala ke-abnormalan-nya. Meskipun ia disiksa, ia sama sekali tidak bereaksi—seolah tidak ada apa-apa. Dan mungkin ini akan menjadi sedikit spoiler; saat babi-babi yang seharusnya memangsa Hannibal Lecter tidak mencium rasa takut darinya, mereka sama sekali tidak berkutik dan memangsa korban yang lain. Pada saat itu aku ingin bertepuk tangan untuk Hannibal Lecter. Dan dalam buku ini, pembaca mendapat sedikit cuplikan tentang latar belakang Hannibal Lecter yang membentuknya menjadi sosok yang ada sekarang. Aku sangat suka bagaimana kisahnya itu membuatku bersimpati terhadap karakternya, meskipun tentu saja tetap tidak bisa membenarkan semua perbuatannya.

Secara keseluruhan, aku memang sedikit kecewa dengan buku ini: termasuk alur ceritanya, penerjemahannya, dan juga banyaknya typo yang membuatku meragukan apakah ceritanya diterjemahkan dengan benar atau tidak. Akan tetapi di sisi lain aku juga cukup senang karena bisa kembali melihat Dr. Hannibal Lecter beraksi. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku cukup bersemangat untuk menyelesaikan seri ini dan membaca buku terakhirnyayang akan menjelaskan masa lalu kehidupan seorang Hannibal Lecter. Setelah menyelesaikan seri ini, aku masih bimbang apakah akan menonton film adaptasinya atau tidak; karena sepertinya akan jauh lebih menyeramkan dibanding bukunya.
"Sejak jawaban sebagian terhadap doanya itu, Hannibal Lecter tidak terganggu lagi oleh pemikiran-pemikiran tentang belas kasihan atau apa pun. Nuraninya seakan sudah mati."

by.stefaniesugia♥ .
 

2 comments:

  1. Aku baru aja nonton filmnya kak 3 hari yang lalu 'silence of the lambs' dan jodie foster yang meranin clarice starling ini pas masih mudanya cantiknya minta ampun :' setelah baca review ini baru tau jg kalau hannibal itu series hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh udh ntn filmnya yahh, ak takutt hahaha xD Iya tp yg di Hannibal ini Clarice Starling-nya diperanin sm Julianne Moore :DD

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...