Wednesday, May 16, 2018

Book Review: Pergi by Tere Liye

.
BOOK review
Started on: 5 Mei 2018
Finished on: 13 Mei 2018

Title: Pergi
Author: Tere Liye
Publisher: Republika
Pages: 460 pages
Year of Publication: 2018
Price: Rp 63,200 (http://www.bukukita.com/)

Rating: 3/5
*Bagi yang belum membaca buku pertamanya, review ini mungkin mengandung spoiler.
Baca review Pulang by Tere Liye
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan... Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut?... Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut."
Bujang menduduki posisi Tauke Besar Keluarga Tong sejak meninggalnya Tauke Besar yang lama. Bersama dengan tim-nya, ia menjalankan misi untuk mengambil kembali prototype anti serangan siber yang seharusnya menjadi milik Keluarga Tong. Akan tetapi misinya terhalang oleh kedatangan seseorang yang menyebut dirinya sebagai El Espiritu. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa orang tersebut mengetahui nama asli Bujang yang tidak banyak orang ketahui. Hingga akhirnya Bujang bertekad untuk mengungkap siapa sebenarnya sosok misterius tersebut.

"Dan lebih penting lagi, ke manakah aku sendiri akan pergi? Apakah aku akan menjadi monster seperti itu terus-menerus?"
Di samping kegelisahannya tentang El Espiritu, Bujang juga harus menangani serangan dari Master Dragon. Satu-satunya jalan yang ia dapat pikirkan adalah membanguan aliansi dengan keluarga penguasa shadow economy lain yang memiliki visi dan misi yang sama dengan Keluarga Tong. Akan tetapi melumpuhkan Master Dragon bukanlah hal yang mudah. Bahkan banyak orang yang gugur akibat serangan-serangan yang dikirim oleh Master Dragon. Semua kejadian tersebut membuat Bujang bertanya-tanya, akan kemanakah ia pergi? Langkah apa yang selanjutnya akan ia ambil untuk masa depan Keluarga Tong?
"Tapi itu memang satu-satunya jalan keluar. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh."
image source: here. edited by me.
Sewaktu membeli buku ini, aku tidak tahu kalau buku ini adalah kelanjutan dari novel yang berjudul Pulang, yang aku baca pada tahun 2015 (baca review Pulang). Buku pertamanya cukup berkesan untukku karena seingatku ceritanya seru dan penuh dengan adegan aksi—walaupun alur cerita buku pertamanya hanya samar-samar dalam ingatanku. Untungnya, buku ini menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang terjadi di buku sebelumnya, termasuk merekap ulang latar belakang karakter-karakter yang berperan besar dalam jalannya cerita.

Dalam sekuel kisah Si Babi Hutan, Bujang sekarang memiliki posisi sebagai Tauke Besar Keluarga Tong setelah kematian Tauke Besar yang lama. Kemunculan sosok misterius yang menghalangi misi Bujang menjadi pembuka ceritanya. Hal tersebut membuatku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut tentang identitas di balik sosok misterius yang mengetahui nama asli Bujang dan berhasil mengalahkannya dalam pertarungan jarak dekat. Sayang, ceritanya kemudian lebih banyak fokus tentang usaha Bujang untuk mengalahkan Master Dragon. Kedua alur cerita tersebut berjalan bersisian: di satu sisi Bujang berusaha menguak misteri di balik orang misterius yang menyebut dirinya sebagai El Espiritu, dan di saat yang sama ia berusaha membangun aliansi untuk menjatuhkan Master Dragon. Permasalahan yang pertama terasa lebih sendu dan emosional, sedangkan yang satu lagi penuh dengan adegan aksi yang menegangkan. Tapi entah mengapa, beberapa bagian dari buku ini terasa bertele-tele dan penuh dengan penjelasan yang tidak begitu relevan dengan jalannya cerita. Meski demikian, ending ceritanya membuatku kembali penasaran karena Bujang akhirnya memilih ke mana ia akan pergi. Tentu saja aku tidak bisa menceritakan terlalu detail untuk menghindari spoiler, yang jelas ia menemui El Espiritu dan mendapatkan sebuah tawaran. Akhir ceritanya seperti sengaja dibuat menggantung; entah untuk mempersiapkan buku kelanjutannya atau agar pembaca bisa mereka-reka sendiri apa yang akan dilakukan oleh Bujang selanjutnya. πŸ€”
"Apa sesungguhnya yang kucari dalam hidup ini? Aku akan pergi ke mana lagi?... Apakah memang langit adalah batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pilihan hidupku? Apakah aku benar-benar bangga dengan seluruh yang pernah aku lakukan?"
Karakter favoritku masih tetap sama seperti saat aku membaca buku pertamanya, yaitu Salonga—guru menembak Bujang. Beberapa bagian favoritku dari buku ini melibatkan Salonga dan pembahasannya tentang filosofi kehidupan. Ia membahas tentang kehidupan mereka sebagai salah satu penguasa shadow economy yang merupakan area abu-abu. Dan baik jahatnya seseorang bergantung pada perspektif karena sesungguhnya setiap orang memiliki alasan mereka masing-masing. Ia juga menceritakan tentang perumpamaan dua petani yang menggambarkan pentingnya rasa cukup dan kemampuan untuk bersyukur dengan keadaan yang ada. Bagi kalian yang penasaran dengan perumpamaannya secara lengkap, silahkan baca sendiri bukunya πŸ˜‰.

Selain itu ada kejutan yang menyenangkan yaitu kemunculan karakter Thomas (karakter utama Negeri Para Bedebah—baca review-nya disini) dalam buku ini. Negeri Para Bedebah adalah salah satu novel karya Tere Liye favoritku, yang tema ceritanya agak mirip dengan seri novel Si Babi Hutan karena Thomas juga tipe karakter anti-hero yang abu-abu. Bagi yang belum membaca buku tersebut, jangan khawatir karena kehadiran Thomas hanya muncul dalam satu adegan tertentu dan tidak berperan banyak.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan sekuel yang kurang memuaskan untukku dari berbagai macam aspek. Walaupun memiliki jumlah halaman yang cukup banyak, sebenarnya tidak terlalu banyak hal signifikan yang terjadi dan juga tidak banyak perkembangan yang dialami oleh karakternya. Selain dari misteri masa lalu keluarga Bujang yang terungkap, aku merasa aspek peperangan antar penguasa shadow economy tidak begitu menarik untukku. Buku sebelumnya jauh lebih seru dan menegangkan, menurut pendapatku secara pribadi. Meski demikian, aku tetap menikmati dengan baik penulisan Tere Liye karena sudah membaca begitu banyak karya yang ia tulis sebelumnya. Semoga di kesempatan berikutnya aku bisa lebih menikmati kisah yang ditulis oleh beliau 😊.
 
by.stefaniesugia♥ .

2 comments:

  1. Semenjak tau kalau Tere Liye adalah seorang mas-mas.

    Aku jadi gak mau baca karyanya.

    Jahat gak si?

    https://rifalnurkholiq.blogspot.co.id/2018/05/ketemu-sama-kenalan-baru-yang.html?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang banyak yang ngira kalo Tere Liye itu perempuan awalnya, padahal bukan πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...