Thursday, December 19, 2013

Book Review: Rhapsody by Mahir Pradana

.
BOOK review
Started on: 14.December.2013
Finished on: 16.December.2013

Judul Buku : Rhapsody: Selalu ada Alasan Untuk Pulang
Penulis : Mahir Pradana
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 322 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 40,800 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4.5/5

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Untuk apa? Untuk apa dia bersedia membantu seorang pemilik hostel yang sudah hampir bangkrut dalam menjalankan bisnisnya? Untuk apa dia susah-susah memberi masukan demi masukan kepada aku, si wirausahawan muda yang sangat tidak berpengalaman?
Hanya karena aku pernah membantu almarhum ibunya mengangkat sebuah lemari dapur?
Nonsense. Semua ini tidak masuk akal."
Kisah ini adalah tentang Al (bernama lengkap Abdul Latif). Setelah kedua orangtuanya meninggal, bisnis hotel yang dimiliki Ayahnya terus menurun. Oleh karena itulah, Al mengambil alih pengelolaan bangunan tersebut dan memulai segala sesuatunya dari nol. Bisnis yang ingin Al jalankan adalah menjadikan bangunan tersebut sebuah hostel yang bisa menampung banyak orang dengan harga terjangkau. Memiliki hostel-nya sendiri sudah menjadi impian terbesar bagi Al, karena selama ia berkelana di negara Eropa, hostel-lah yang selalu menjadi penyelamatnya. Akan tetapi menjalankan bisnis hostel tidaklah mudah. Dan bukan tidak pernah kata menyerah itu mampir dalam pikirannya. Hingga suatu saat seseorang yang tidak diduga datang untuk memutarbalikkan nasibnya.

Al menjalankan bisnis hostel-nya dibantu oleh Bebi - ia adalah mantan karyawan di salon kakak perempuan Al, dan bernama asli Bambang. Dalam masa ketika hostel itu terpuruk, Bebi tetap berada di sisinya. Dan kedatangan seorang lelaki Spanyol bernama Miguel Carrion-lah yang akan mengubah hostel Makassar Paradise yang dijalankan oleh Al. Miguel belum pernah bertemu dengan Al, yang ia miliki hanyalah foto Al bersama Ibu-nya, Agatha Carrion. Setelah berusaha keras akhirnya Al teringat pada seorang Ibu tua yang pernah dibantunya di Berlin. Dan Miguel berkata bahwa ia datang untuk membalas budi itu pada Al.
"Aku tersihir oleh kata-katanya. Meskipun aku tidak pernah terbayang untuk menyamakan Sultan Hasanuddin dengan Napoleon Bonaparte, kata-kata Miguel memang sangat menginspirasi. Benar juga. Sebuah patung atau monumen apa pun hanya akan menjadi sebongkah batu berlumur cat, jika tidak diberi "nyawa" berupa cerita perjuangan di baliknya. Patung hanyalah simbol yang bisa lapuk termakan waktu, tetapi sebuah cerita perjuangan akan hidup abadi."
Sejak kedatangan Miguel, Al melakukan berbagai macam revolusi untuk meningkatkan pengunjung hostel-nya. Dimulai dari mendaftarkan hostel-nya di database hostel seluruh dunia hingga memberikan ide cemerlang tentang paket tour keliling Makassar - hasilnya, Makassar Paradise pun menjadi tempat singgah populer bagi warga negara asing. Dan popularitas itu membuat seorang gadis memutuskan untuk tinggal di hostel tersebut; gadis bernama Sari Desiana - mantan kekasih Al waktu kuliah dulu.
"Apa, sih yang dimaksud jatuh cinta?
Mengapa menggunakan kata "jatuh"? Apakah karena ketika kita merasakan cinta, kita tidak bisa mengendalikan diri? Apakah sebaiknya kita pasrah saja ketika "jatuh" dan menunggu sampai terbentur di dasar?
Jangan salahkan gravitasi jika jatuh cinta, kata Einstein.
Kalau begitu apa yang membuat kita begitu hilang kendali?"
Pertemuannya dengan Sari mengingatkan Al tentang cinta, dan tidak butuh waktu lama bagi Al untuk kembali jatuh cinta dengan sosok perempuan yang smart dan menyenangkan itu. Namun proses CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) itu tidak selalu berjalan mulus bagi Al - bahkan cobaan datang dari temannya sendiri. Akan tetapi kisah ini tidak hanya tentang Al, tetapi juga tentang kakak perempuannya, Siska. Beberapa kali mereka mendapatkan tawaran harga yang bagus untuk bangunan yang dijadikan hostel oleh Al, dan Siska tidak bisa melihat masa depan yang cerah untuk Makassar Paradise yang pendapatannya pas-pas saja. Hostel itu adalah impian terbesar Al, dan ia tidak berniat untuk melepasnya begitu saja.

Kisah ini adalah perjalanan hidup Al. Seperti kehidupan pada umumnya, hidup Al juga penuh dengan banyak canda tawa, dan ada pula tantangan yang menyulitkan. Akan tetapi satu hal ia percayai, bahwa semua hal terjadi karena suatu alasan; dan kejadian buruk bisa menuntun kita kepada kejadian yang lebih baik tanpa kita sadari. Bagaimanakah nasib hostel Makassar Paradise yang dihadapkan dengan berbagai masalah? Apakah Al dapat meraih cintanya atau malah terluka seperti yang ia alami dulu?
"Aku masih berjalan dengan langkah gontai ketika sebuah suara serak seorang wanita tua menegurku.
Ya, pada saat itulah aku bertemu dengan Agatha Carrion.
Ibunya Miguel.
Pada suatu hari di musim gugur, 2 Agustus 2009.
You see, I guess everything does happen for a reason.
Tanpa kejadian tragis yang menimpaku di Berlin malam tersebut, mungkin semua cerita ini takkan pernah terjadi."
Baca kisah selengkapnya di Rhapsody.
image source: here. edited by me.
Ini adalah pertama kali aku membaca karya solo Mahir Pradana dan aku seketika jatuh cinta dengan gaya tulisannya yang sangat mengalir (aku pernah baca tulisannya di Menuju(h) dalam bentuk cerpen, tapi sudah tidak begitu ingat yang mana ceritanya). Membaca buku ini rasanya seperti sedang membaca buku harian Al, yang penuh dengan perasaan dan menggambarkan dengan baik kehidupan yang penuh dengan jatuh bangun, senyum dan tangis. Di bagian ucapan terima kasih yang ditulis oleh penulisnya, ia mengatakan buku ini berawal dengan cerita perjalanan, namun kemudian berkembang menjadi novel yang ditambahi bumbu fiksi. Aku rasa itulah yang membuat kisah ini terasa begitu hidup. Aku pun jadi bertanya-tanya, kira-kira bagian mana yang benar-benar terjadi, dan mana yang fiksi :p

Ceritanya dituliskan dari sudut pandang pertama Al - sang karakter utama; seperti yang sudah aku katakan, cara penulisan inilah yang membuatku merasa seperti sedang membaca buku harian. Alur ceritanya sendiri sebenarnya aku rasa cukup random - tidak ada konflik tertentu yang menjadi pusatnya, segala sesuatunya mengalir secara naturally seiring dengan berbagai kejadian yang muncul. Satu hal yang cukup membuatku bingung (meskipun ini tidak aku bahas di ringkasan cerita) adalah kisah-kisah tentang memori Al bersama dengan Nadia (mantan pacarnya) sewaktu berkeliling Eropa. Sewaktu aku melihat ada bagian ini, aku pikir Nadia akan muncul lagi dalam kehidupan Al, tetapi ternyata yang muncul adalah mantan pacar yang lain. Selain daripada itu, aku sangat menyukai semua konflik yang ada dalam kisahnya. Banyak sekali hal unexpected yang terjadi dan juga twist yang membuat pengalaman membaca buku ini sangat menyenangkan untukku. Ending-nya adalah sebuah penutup yang manis - semua permasalahan diselesaikan dengan baik dan membuatku bisa menutup buku ini dengan senyum :))

Tidak banyak karakter yang terlibat dalam cerita Rhapsody ini, dan bukunya sendiri menyatakan dengan jelas siapa-siapa saja yang berperan penting di dalam ceritanya. Al, Bebi, Miguel, Siska, Simon (karakter sampingan), dan Sari adalah para karakter yang menjadi pusat cerita buku ini. Tidak ada karakter antagonis, semuanya karakter protagonis yang menyenangkan ^^ Karakter yang paling unik (dan menjadi favorit) untukku adalah Bebi alias Bambangito (orang Spanyol suka menambahkan -ito pada nama orang yang mereka anggap teman). Bebi adalah karakter yang benar-benar meriah - dan yang paling aku sukai adalah gaya bicaranya yang kocak, bahasa Inggris sembarangan, dan tentunya okkots! Karena aku punya beberapa teman yang berasal dari Makassar, aku cukup familiar dengan okkots dan bisa membayangkan lucunya si Bebi ini. Bagi yang belum tahu, okkots adalah kebiasaan logat Makassar yang suka menambahkan huruf G atau mengurangi huruf G pada sebuah kata. Misalnya kata makan menjadi makang, pulang menjadi pulan. Meskipun berperan sebagai karakter yang konyol dalam buku ini, Bebi juga punya momen yang membuatku terharu :')

Overall,aku sangat menyukai buku ini dan aku rasa tidak sulit untuk menikmati gaya penulisan Mahir Pradana yang sangat luwes. Sosok Al yang benar-benar gigih dalam meraih impiannya adalah sesuatu yang patut diteladani. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari sebuah cerita yang sederhana ini, tetapi aku tidak akan menuliskannya semua di sini supaya tidak spoiler ;) Aku juga ingin sekali membaca karya Mahir Pradana yang lain, dan akan menunggu saat ketika ia menerbitkan novel terbarunya :)

by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...