Monday, June 18, 2012

Book Review: Trave(Love)ing by Roy Saputra dkk

.

BOOK review
Started on: 17.Juni.2012
Finished on: 18.Juni.2012

Trave(Love)ing by Roy Saputra dkk.

Judul Buku : Trave(Love)ing
Penulis : Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi
Penerbit : Gradien Mediatama
Tebal : 256 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 37,400 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4.5/5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Padahal, melupakan itu tak pernah gampang, dan manusia tidak dirancang untuk melupakan sesuatu. Manusia dirancang untuk memahami sesuatu, dan belajar meneruskan hidup tanpa orang-orang atau sesuatu yang ada dalam kenangan itu. Forget is forever getting. And remembering heals."

Cerita ini adalah kisah 4 orang, yang melakukan sebuah perjalanan untuk move on; melupakan kenangan lama tentang cinta, bahkan berusaha melupakan orang yang bersangkutan. Dimulai dari Dendi, yang diputuskan oleh pacarnya karena hubungan jarak jauh yang menghalangi hubungan mereka. Setelah itu, ia memutuskan untuk backpacking berdua dengan tas ranselnya pergi ke Singapura. Tujuan awalnya hanyalah sekadar untuk refreshing, menjauh dari orang-orang yang dikenalnya. Meskipun dengan menjauh ia tidak bisa begitu saja menghapus kenangan lama yang Adulu pernah begitu manis, tetapi sekarang berubah menjadi pahit jika diingat kembali. Satu hal yang tidak pernah diduga oleh Dendi, bahwa ia akan bertemu dengan seseorang; yang akan mendorongnya untuk mengejar perempuan itu bahkan sampai ke Thailand.

Dendi sedang menceritakan kisah perjalanannya pada Grahita, seorang teman yang ia kenal lewat permainan hashtag, #rhyme. Keduanya bertemu di Bandara, saat Dendi baru saja pulang dan Grahita hendak berangkat memulai perjalanannya. Tidak jauh berbeda dengan Dendi, Grahita pun telah melewati permasalahan cintanya sendiri, dan ia hendak melakukan perjalanan ke Bali dalam rangka move on. Akan tetapi, secara sadar maupun tidak, pikirannya sekaligus hatinya selalu kembali pada sosok itu; sosok yang ia sebut Mr. Kopi. Ia terus mengingat kenangan-kenangannya bersama lelaki itu; tetapi kenyataan tentang keduanya yang berbeda agama membuat semuanya menjadi tidak mungkin.

"Pedih adalah menghapus semua hal yang berhubungan dengannya tanpa terkecuali.
Lebih pedih lagi menyadari bahwa otakmu terlalu bodoh untuk kau suruh melupakannya barang satu tarikan nafas saja."
"Pedih adalah memejamkan mata, menangis tanpa suara, 
tak terlihat siapa-siapa, dan membiarkannya mengering tanpa usaha.
Lebih pedih lagi mengucek mata perlahan, berharap air mata tidak tumpah, lalu membalikkan badan dan tersenyum pada dunia."

Saat di Bali, Grahita mengetahui lewat twitter bahwa Mia - rekan sekerjanya dulu, akan pergi ke Dubai. Sebenarnya, Mia pergi ke Dubai dalam rangka pekerjaan dari kantor untuk mengikuti sebuah kursus. Akan tetapi dalam hati, ia merasa perjalanan ini adalah cara baginya untuk menghindari seseorang yang tidak ingin ditemuinya. Kenangan yang membuat hatinya terluka berhubungan dengan seorang lelaki; yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya, kemudian mereka menjalin hubungan. Sayangnya, tak lama kemudian semuanya harus berakhir. Meskipun lelaki itu meminta Mia untuk tetap menjadi teman, Mia sungguh tidak bisa menyanggupi dan hanya bisa melihatnya sebagai orang asing agar ia tidak terluka lebih jauh.

Penulis yang terakhir, Roy, seseorang yang sudah menjadi pendukung setia Liverpool FC. Saat Liverpool akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim sepakbola Malaysia, ia langsung merencanakan keberangkatannya tanpa pikir panjang. Ia menganggap perjalanan ini mungkin bisa membantunya move on dari patah hati yang baru saja ia alami. Patah hati yang disebabkan oleh seorang perempuan yang memutuskan hubungan secara sepihak karena lelaki lain. Sekeras-kerasnya ia berusaha melupakan, ia tetap terus teringat kenangan-kenangan yang pernah membuatnya tersenyum. Namun ia merasa, ini adalah saatnya untuk move on.

"Seperti halnya PMS pada perempuan, patah hati sering kali menjadi alasan tertinggi untuk menjadi pembenaran bagi kita saat melakukan hal paling ngawur sekalipun."
"Sungguh dunia enggak adil. Jatuh di sungai aja ada cara penyelamatannya, tapi kalau jatuh cinta kok enggak ada?"
Baca perjalanan move on mereka di Trave(Love)ing.


Buku yang ditulis oleh empat orang ini meskipun dengan cerita yang berbeda-beda tetap terasa seperti satu kesatuan untukku; karena selalu ada sesuatu yang menghubungkan satu orang dengan yang lainnya. Seperti pada awal pertemuan Dendi dengan Grahita di bandara, kemudian Grahita membaca tweet Mia, sampai kepada pertemuan Dendi dan Roy di Singapura. Aku sangat senang dan terhibur sekali dengan gaya penulisan yang menyenangkan dari awal; penuh dengan celetukan-celetukan yang kocak bahkan terkadang konyol. Setiap dari penulis mempunyai selera humor mereka sendiri-sendiri. Meskipun begitu, di sisi lain cerita ini menyampaikan dan menggambar perasaan patah hati yang mereka rasakan dengan baik. Oleh karena itu, meskipun buku ini akan terasa lucu di beberapa bagian, ceritanya pun bisa sekaligus menyayat hati.

"Namun sekuat apa pun usahamu, terkadang ada beberapa hal yang memang enggak bisa dipaksakan. Cinta adalah salah satunya."
"Bekas itu tidak akan pernah bisa hilang... Tidak selamanya 'bekas' itu buruk, kadang ia diperlukan untuk mengingatkan kesalahan kita agar tak terulang kembali."
"Ini hanya masalah pilihan. Seperti yang pernah ia bilang, enggak ada pilihan yang benar atau salah, yang ada hanyalah konsekuensi dan pilihan."

Selain itu, menurutku porsi setiap orang dibagi dengan baik; dan juga porsi tentang travelling sekaligus tentang move on terasa seimbang. Di satu sisi, kita diajak melihat berbagai macam tempat baru yang mereka kunjungi; dan di sisi yang lain kita diajak menelusuri isi hati mereka yang sebenarnya belum benar-benar sembuh dari sakitnya. Ada saat-saat ketika buku ini membuatku sangat ingin pergi mengunjungi tempat yang mereka ceritakan; seperti Burj Khalifa yang ada di Dubai, bangunan yang memegang predikat gedung tertinggi di dunia (dan juga karena Tom Cruise pernah berjalan di dalamnya di film Mission Impossible: Ghost Protocol, seperti yang ditulis di buku ini :P). Ada pula saat ketika buku ini membuatku lapar dan ngidam karena ingin makan kepiting saos padang (berhubung ada gambarnya, jadi tambah ngiler...). Tetapi ada pula saat ketika aku benar-benar merasakan apa yang mereka rasakan saat melakukan perjalanan tersebut: sebuah keinginan di hati untuk melupakan kenangan lama, tetapi tanpa sadar pikiran kita selalu kembali ke sana. Kalau boleh aku menyimpulkan, saat membaca buku ini aku seperti sedang membaca buku harian mereka secara rahasia. Dan lewat kisah kehidupan (dan perjalanan) mereka, aku mendapatkan banyak pelajaran bahkan pengalaman secara tidak langsung. Aku sangat bisa bersimpati dengan penulis-penulis ini, karena salah satunya ada yang pernah terjadi kepadaku (tidak akan kukatakan yang mana, karena review ini bukan tentang aku tentunya ;P). Mungkin juga ada beberapa pembaca lain yang merasakan hal yang sama, karena yang mereka lalui adalah hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

"Tapi, sering kali si empunya masalah merasa apa yang dia tanggung adalah paling berat. Semua orang di muka bumi ini tipe orang 'lo enggak tahu sih beratnya jadi gue'.
Everyone you meet in this world is facing some form of battle."

Satu hal yang terpaksa membuatku menurunkan 0.5 rating - padahal aku sangat menikmati dan menyukainya - adalah terkadang buku ini membuatku bingung. Cerita-ceritanya disusun secara bergantian dimulai dari Dendi, Grahita, Mia, Roy, kemudian melanjutkan tentang Dendi yang sebelumnya, Grahita, Mia, Roy, dan begitu seterusnya. Belum begitu lama diajak mengenal satu penulis, ceritanya sudah berpindah ke penulis yang berikutnya; dan terkadang aku sempat sedikit lupa apa yang terjadi dengan penulis yang sebelumnya (please mind my short-term memory). Meskipun demikian, aku merasa ada poin plus tersendiri dari penyusunan seperti ini. Aku seringkali dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya karena dipotong dan diganti dengan penulis lain; sehingga aku terus-menerus ingin membaca dan melanjutkan hingga habis.

Secara keseluruhan, buku ini membuatku tertawa dan terhibur, sekaligus membuatku merenung dan menyentuh perasaanku. Buku ini juga sekaligus membawaku pergi jalan-jalan ke Singapura, Thailand, Bali, Malaysia, dan Dubai lewat tulisan-tulisannya. Tidak lupa juga aku memberikan pujian untuk desain sampul yang manis kepada Ellina Wu, tutorku di kampus, a great artist :) So in the end, I'll say this is a pretty well-written book! It's time to move on, now.

"Gue baru menyadarinya. The universe was trying to teach me from this 'The doors are closed' voice. Tutup. Sudah saatnya masa lalu ditutup. Kita tidak pernah tahu ada masa depan seperti apa yang siap menyambut di balik pintu yang baru, sebelum menutup pintu yang lama."


 
by.stefaniesugia♥ .

4 comments:

  1. Dendi...mantap banget bro.

    ternyata lo bisa bikin novel juga.
    gw salut sama tweet lo yg selalu nyambung dan merangkai cerita.

    cerita pertama yg gw baca adalah cerita gokil antara transformer dan ketika cinta bertasbih.

    sam cerita horor tentang kantor lo di tweeter

    ReplyDelete
  2. wih, ternyata buku ini buku yang bagus banget :D

    *apalagi quote-quotenya sangat... apa ya istilahnya? #jleb banget :))

    ReplyDelete
  3. iiiissshhh buku galau nih kayaknya, hehehe.. ;)

    ReplyDelete
  4. @Rean: yuupp baguss mmg, kerenn :D:D
    @mba annisa: emg galau banget baca ini bukuuu ;P tapi asik galaunya sambil jalan2 traveling ;D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...