Tuesday, May 6, 2014

Book Review: Sequence by Shita Hapsari

.
BOOK review
Started on: 30.April.2014
Finished on: 1.May.2014

Judul Buku : Sequence
Penulis : Shita Hapsari
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 254 Halaman
Tahun Terbit: 2014
Harga: Rp 37,400 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4.5/5
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Banting setir memang tidak mudah, salah-salah bisa terpeleset dan masuk jurang. Namun, siapa bilang hidup itu mudah? Selama ini Klaris sering merasa terpanggil untuk mengikuti aktivitas sosial yang melibatkan anak-anak. Mungkin ini momen tepat baginya untuk serius menekuni apa yang ia anggap baik itu."
Kisah ini berawal dari seorang perempuan bernama Klarissa, lulusan psikolog yang memiliki pekerjaan mapan dan kekasih selama lima tahun bernama Tedi. Namun selama ini, Klarissa selalu tertarik pada anak-anak berkebutuhan khusus dan ia sangat ingin menggapai impiannya sebagai seorang guru. Ada pula Ine, seorang atasan yang bekerja di kantor yang sama dengan Klarissa. Ia berkedudukan tinggi dan tentunya tidak pernah khawatir soal uang, akan tetapi yang Ine butuhkan tidak dapat dibeli dengan semua itu. Sedangkan Yuni, seorang pramukantor yang bekerja di tempat yang sama pula, harus bekerja keras demi anaknya yang ia duga autis. Setiap dari mereka memiliki permasalahan dan kehidupan yang berbeda, dan takdir mereka yang saling bersilangan mengubah segalanya.

Keinginan Klarissa untuk mengubah jalan hidupnya sangat ditentang oleh kekasihnya. Tedi menyayangkan pendidikan yang sudah ditempuh oleh Klarissa dan juga karirnya yang sudah mapan. Akan tetapi tekad Klarissa membawanya ke Sekolah Hebat, sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus; dan di sana ia bertemu dengan Choky - konselor Sekolah Hebat yang memperkenalkannya pada dunia mengajar. Klarissa dengan cepat menjadi akrab dengan Choky; dan ia sama sekali tidak berencana menceritakan soal lelaki itu pada Tedi.
"Apa yang aku lakukan di sini? Mengapa aku ada di sini melayani orang-orang ini, dan bukan anakku?"
Di kantor, Yuni sempat melihat brosur tentang Sekolah Hebat yang tergeletak di meja Klarissa - mengingatkannya pada anak lelakinya, Dewa. Dewa yang sudah berusia empat tahun itu masih belum bisa berbicara dan selalu terfokus pada hal-hal tertentu; salah satunya adalah kancing-kancing milik Yuni. Yuni dan suaminya harus bekerja keras demi mendapat uang, sehingga Dewa terpaksa ia titipkan pada tetangga. Berkat penawaran dari Klarissa, ia mencari tahu lebih banyak tentang Sekolah Hebat - akan tetapi uang selalu menjadi kendalanya. Belum lagi bencana yang menimpa keluarga Yuni membuatnya semakin terdesak dan tidak memiliki pilihan.
"Ine menyadari kesalahannya: perjuangannya tidak lantas berakhir dengan lulusnya Lana dari terapi bicara. Hidup seorang anak tidak bisa dibereskan hanya dengan memasrahkannya kepada guru-guru sekolah. Memberinya fasilitas terbaik tidak serta-merta menjadi substitusi kebutuhannya akan pelukan dan kata-kata sayang."
Yuni juga sempat memperoleh bentakan dari atasannya, Ine, yang sedang mengalami hari yang buruk akibat berita tentang suaminya. Belakangan, ia membayar orang untuk mengikuti suaminya yang ia curigai sedang berselingkuh. Hubungan rumah tangga Ine semakin lama semakin dingin; begitu pula hubungannya dengan anak gadisnya, Lana. Saat sedang mengikuti jejak suaminya, ia berkenalan dengan seorang chef muda bernama Ludi di sebuah restoran. Lelaki yang menawan itu berhasil menerbitkan kebahagiaan di hati Ine; membuat wanita itu terus menerus kembali dan mencari Ludi.

Walaupun pada awalnya tidak saling mengenal, ketiga wanita itu memberi pengaruh pada kehidupan satu sama lain. Kisah mereka yang saling bertautan menceritakan perjalanan hidup Klarissa, Yuni, dan Ine yang penuh dengan lika-liku. Apakah Klarissa dapat meraih impiannya sebagai guru meskipun sepertinya sudah terlambat? Bagaimana nasib Yuni dan anaknya yang berkebutuhan khusus? Apakah rumah tangga Ine memiliki harapan untuk kembali utuh lagi?

Baca kisah selengkapnya di Sequence.
image source: here. edited by me.
Pertama-tama aku mau mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk penulisnya, Shita Hapsari, yang sudah mengirimkan buku ini untuk aku baca dan resensi :)) Selain menjadi pemenang lomba novel yang diadakan oleh Bentang, Shita Hapsari juga adalah salah satu pemenang lomba menulis yang diadakan oleh GagasMedia (yang masih belum tahu terbitnya kapan). Mengetahui hal tersebut, aku yakin Shita Hapsari adalah seorang penulis yang berbakat, sehingga aku memiliki harapan yang cukup tinggi untuk buku ini :) Dan novel ini telah membuktikan hal tersebut, karena selama membaca, aku sangat menikmati penulisannya yang sangat luwes dan mengalir dengan baik.

Buku ini dituliskan dari sudut pandang orang ketiga; dan setiap bab-nya diawali dengan nama salah satu dari tiga karakter utamanya yang sedang disorot (Klarissa, Yuni, atau Ine). Ceritanya diawali dengan kisah Klarissa, dan sepertinya memang porsinya jauh lebih banyak dalam buku ini. Selanjutnya, permasalahan setiap karakter dijabarkan, hingga kemudian ditelusuri secara perlahan satu persatu. Aku sangat menyukai bagaimana transisi cerita satu karakter ke yang berikutnya terasa sangat mengalir dan tidak dipaksakan. Semakin ke belakang, ceritanya pun semakin terasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Permasalahan masing-masing karakternya semakin lama juga semakin bertautan, dengan sedikit twist yang tidak aku duga. Alur cerita yang apik ini diakhiri dengan penutup yang manis dan membuatku merasa puas saat menutup bukunya :) *Menilai dari sampul buku ini, awalnya aku mengira ceritanya akan fokus pada kisah cinta atau sejenisnya. Dan meskipun memang ada unsur romance dalam buku ini, aku rasa buku ini lebih condong ke genre fiksi kontemporer - yang menceritakan tentang sepotong kehidupan; yang mungkin bisa ditemukan dalam hidup kita sehari-hari :))
"Sejauh yang ia pahami, setiap orang punya problem hidup masing-masing, dan selama kamu tidak bisa dan tidak diminta untuk terlibat di dalam masalah orang lain, tidak ada gunanya mencoba menyelami dan menghakimi."
Meskipun ada banyak karakter yang cukup menarik di buku ini, aku tidak menemukan karakter yang menjadi favoritku :( Dibandingkan karakternya, aku lebih tertarik dengan pesan-pesan yang diberikan oleh buku ini lewat karakter dan konflik yang ada. Yang menjadi favoritku adalah moral yang disampaikan lewat karakter Ine beserta segala permasalahan rumah tangganya. Meskipun hubungan Ine dengan suaminya sudah berubah dingin dan sudah melakukan kesalahan besar terhadap satu sama lain, tidak ada kata terlambat - selama mereka rela memberi kesempatan kedua, meskipun belum bisa sepenuhnya memaafkan atau melupakan. Aku sangat menghargai fakta bahwa Ine memberi kesempatan kedua itu karena memikirkan tentang anaknya. Karena di zaman modern ini, pasangan suami-istri sepertinya sangat mudah mengambil keputusan untuk bercerai - tanpa memikirkan akibatnya, terutama bagi anak. Selain itu ada pesan-pesan lain juga yang membuatku semakin menyukai buku ini ;)

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati Sequence dan segala tautan yang terjadi antar karakternya. Pokoknya aku salut dengan cara penulisnya menghubungkan satu karakter dengan yang lain secara alami dan juga konfliknya yang membaur menjadi satu. Hanya satu hal yang aku keluhkan (mungkin lebih kepada penerbitnya), yaitu adanya halaman yang terulang - sehingga aku sempat bingung saat membaca. Pada akhirnya, aku sangat menantikan terbitnya karya Shita Hapsari yang selanjutnya, karena aku benar-benar menyukai caranya menuliskan sebuah cerita :)
by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...