Monday, May 13, 2013

Book Review: Jakarta Kafe by Tatyana

.
BOOK review
Started on: 7.May.2013
Finished on: 10.May.2013

Judul Buku : Jakarta Kafe
Penulis : Tatyana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 296 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 46,750 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 3/5
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jakarta Kafe adalah sebuah buku berisi 25 cerita pendek yang menceritakan berbagai macam potong kehidupan manusia. Setiap kisah berusaha menggambarkan kehidupan Jakarta dari berbagai sisi dan juga paradoks-paradoksnya. Dimulai dari kisah tentang hubungan lelaki-perempuan yang sudah sama-sama berkeluarga, tentang perjuangan, rasa suka, tentang rasa iri, kehidupan suami-istri, dan lain sebagainya. Lewat cerita-ceritanya yang singkat, penulis menggambarkan kenyataan hidup yang banyak terjadi di sekitar kita.

"Akan halnya dengan segala ketidaksempurnaan saya berkaitan dengan selulit dan lain sebagainya itu, suami saya berkomentar pendek: Keindahan justru terpacar dari ketidaksempurnaan.
Apalah, untuk sekadar menghibur diri dari segala ketidaksempurnaan."
Di antara 25 cerita yang ada dalam buku ini, aku hanya akan menuliskan beberapa cerita dalam ringkasan ini. Yang pertama adalah sebuah cerita berjudul Daddy; yang menceritakan tentang adanya sepasang suami-istri cantik dan tampan yang terkesan sebagai pasangan mesra. Keduanya saling memanggil dengan sebutan sayang "Mommy and Daddy" di depan orang lain. Mommy adalah yang tergaya di antara semua ibu muda di kompleks - mulai dari rambut, baju, obrolan, hingga kegiatannya yang mewah. Kehadiran Mommy yang mempunyai keluarga harmonis dan karier yang hebat menimbulkan kecemburuan. Akan tetapi suatu hari Mommy terlihat berada di sebuah resto bersama seorang lelaki muda gagah sambil makan siang - yang tidak terlihat seperti sekadar makan siang bersama. Kisah ini menyampaikan bahwa mungkin keluarga yang terlihat paling harmonis dan paling mesra dari luar, mungkin saja tidak demikian kenyataannya.
"Saya sadar, bahkan pada zaman serba-hip dengan tren anti kemapanan yang silih berganti datang-pergi dengan cepatnya seperti sekarang, laki-laki masih diharapkan untuk memulai. Perempuan... rupanya masih banyak yang lebih senang menunggu. Kejarlah daku kau kusekap. Dengan postscriptum tertulis bold-italic-underline: kalau aku mau."
Kisah lainnya yang berjudul Gloom, menceritakan tentang seorang duda dengan satu anak perempuan yang istrinya telah meninggal karena sakit. Dan berkat beberapa teman, sebuah perkenalan dirancangkan antara sang duda dengan seorang perempuan. Pertemuan mereka di sebuah kafe membuat keduanya memperbincangkan tentang cinta, pernikahan, dan status yang terdiri atas satu kata: sendiri.
"Tapi, menurut pengalaman, tidak ada kilat dan petir yang bisa dikejar. Cinta biasanya enggan dikejar-kejar, diburu-buru supaya ada. Ada pun, sesiap-siapnya diberikan pun, belum tentu manusia yang jadi objeknya bersedia diberi."
Cerita berjudul Bungur di Pertigaan berkisah tentang Mbok Nah, berusia 60-an, yang sehari-hari mendorong gerobak dagangan sayur-mayur. Ia biasanya beristirahat di keteduhan pohon bungur yang rimbun; akan tetapi pohon bungur yang tinggi itu akan segera ditebang untuk membuat pos hansip tambahan. Prita, merasa khawatir jika pohon bungur tersebut ditebang, maka Mbok Nah akan kehilangan tempat istirahatnya. Prita yang melihat kegigihan Mbok Nah dalam bekerja berusaha keras agar pohon bungur yang selama ini meneduhkan Mbok Nah tidak jadi ditebang.
"Seharusnya mereka bisa belajar dari Mbok Nah. Bukan cuma agar tetap bisa makan sehari dua kali, Mbok Nah menganggap keseharian yang tidak diisi dengan bekerja adalah hidup yang menyia-nyiakan titah Tuhan. Selama kakinya masih kuat, dia harus terus bergerak. Hitung-hitung sambil cari rezeki karena uang harus dicari, tidak datang sendiri..."
Masih ada banyak cerita lagi dalam buku ini; ada yang mengharukan dan juga menimbulkan emosi bermacam-macam. Salah satu cerita favoritku dari buku ini berjudul Palaran (yang kutipannya aku tuliskan di bawah), akan tetapi aku tidak akan membahasnya dalam ringkasan ini - siapa tahu ada yang tertarik mau membaca :) 25 cerita yang ada dalam buku ini masing-masing memiliki pesan yang berbeda-beda; dan semuanya itu disampaikan lewat potongan kehidupan yang sederhana.

Baca kisah-kisah lainnya di Jakarta Kafe.
image source: here. edited by me.
Warna sampul buku inilah yang membuatku tertarik untuk mengambilnya saat sedang berada di toko buku. Sehingga tanpa melihat review maupun rating dari goodreads, aku membeli dan kemudian membacanya. Buku ini dibuka dengan sebuah puisi berjudul Alone and Drinking Under the Moon, dan dimulai dengan sebuah cerita pendek berjudul Seafood yang membuatku bertanya-tanya seusai membacanya. Ceritanya sendiri adalah tentang sebuah kisah yang menjurus kepada perselingkuhan, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Akhir ceritanya sangat menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan. Akan tetapi setelah membaca kisah-kisah berikutnya yang mempunyai gaya bercerita yang tidak jauh berbeda, aku mulai terbiasa. Setelah itu aku menyadari bahwa kisah-kisah yang ada dalam buku ini tidak selalu mempunyai alur yang jelas, bahkan mungkin hanya seperti sebuah potongan kehidupan yang disampaikan lewat tulisan. Menurutku, fokus utama cerita-ceritanya tidak terdapat pada alur, tetapi kepada realita kehidupan yang seringkali terlewatkan oleh kita sehari-hari.

Meskipun sebagai seorang penikmat buku yang mencintai naik-turunnya alur cerita, aku cukup menikmati buku ini dan dapat menyelesaikannya dengan baik karena gaya penulisan yang mudah untuk dinikmati. Tentu saja, aku tidak dapat memungkiri bahwa ada kekecewaan juga karena cerita-ceritanya tidak sesuai harapan - apalagi banyak yang ceritanya dibiarkan menggantung sehingga terasa tidak selesai. Akan tetapi lewat beberapa kisah dalam buku ini, aku disadarkan tentang banyak hal baru berkaitan dengan kehidupan. Membaca buku ini terasa seperti sedang duduk di sebuah kafe, mengamati kehidupan orang-orang di sekitar kita yang sangat bervariasi dan dibuat takjub karenanya. Aku rasa di situlah letak keunikan buku ini :)
"Urip iku mung mampir ngombe - kehidupan di dunia bukanlah tujuan akhir perjalanan manusia. Kalau pun Jakarta adalah tempat mata air itu berada, Jumi percaya mereka hanya mampir agak terlalu lama untuk melepas dahaga. Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur. Dia pasti mengerti bahwa manusia tetap bisa sesekali mengeluhkan deritanya."
Overall, buku ini mungkin sulit dimengerti dan tidak mempunyai alur yang jelas; tetapi aku rasa Tatyana memiliki gaya penulisan yang baik dalam penceritaannya. Ada banyak emosi yang tersirat dari cerita-ceritanya, sehingga seringkali membuatku tertegun. Semoga ia akan menuliskan sebuah novel dengan alur jelas dan ending yang tidak menggantung agar aku bisa puas saat menutup bukunya :)

by.stefaniesugia♥ .

4 comments:

  1. Kalo baca dari kutipan-kutipannya, gaya penulisannya Tatyana ini khas gitu ya kak. Jadi tertarik :)

    ReplyDelete
  2. Wah ternyata kumpulan cerpen juga, ya. Tadinya kalau kental tentang kafe dan kopi nya, pingin beli.

    ReplyDelete
  3. Hello... thankyou for reading Tatyana :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...