Friday, February 22, 2013

Book Review: Paris: Aline by Prisca Primasari

.

BOOK review
Started on: 17.February.2013
Finished on: 19.February.2013


Judul Buku : Paris: Aline
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 224 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 35,700 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4.5/5
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Mungkin aku sama tak warasnya dengan si Aeolus itu... karena akhirnya kuputuskan menuruti ajakannya lagi. Sebagian besar karena aku mulai penasaran - mengapa harus Bastille? Mengapa harus pukul 12 malam? Apakah sebelum tengah malah dia harus jadi kusirnya Cinderella dulu?"
Kisah ini adalah tentang Aline Ofeli, seorang gadis yang melanjutkan studi-nya di Paris demi memenuhi keinginan Ayahnya yang sudah tiada. Selama ini ia menyukai seorang lelaki yang ia sebut sebagai Ubur-Ubur, yang bekerja di Bistro Lombok seperti Aline. Akan tetapi lelaki tersebut, tanpa menyadari perasaan Aline kepadanya, jadian dengan perempuan lain di tempat kerja mereka. Patah hati yang ia rasakan membawa Aline pergi ke sebuah taman, dimana ia menemukan pecahan porselen di dekat bangku tempat ia duduk. Pecahan porselen yang menjadi bagian dari takdir Aline.

Pecahan porselen itu kemudian dibawa oleh Aline dan menyatukan pecahannya - dan ia membaca sebuah nama yang tertulis pada porselen tersebut: Aeolus Sena. Aline pun kemudian mencari tahu tentang lelaki yang bernama Aeolus Sena itu melalui internet - dan ia menemukan e-mail yang entah masih aktif atau tidak. Tak disangka, Aeolus Sena segera membalas e-mail tersebut dan membuat janji pertemuan yang cukup aneh: di Place de la Bastille pukul 12 malam. Place de la Bastille dikenal sebagai salah satu tempat paling berhantu di Paris dan adalah tempat para tahanan menerima hukuman pemenggalan kepala. Saat Aline tidak menyetujui tempat dan waktu pertemuan, Aeolus Sena terus mendesak dan meminta tolong dengan sangat - hingga akhirnya Aline pun tak dapat menolak.
"Aku semakin tak mengerti. Dalam semua perkataannya, selalu saja ada hal yang kontradiktif. Kalau itu benar-benar dari kakaknya, pastilah sangat berharga, jadi mengapa dipecahkan? Atau, mungkin sebenarnya bukan dia yang memecahkannya?"
Di hari pertama perjanjian mereka, Aeolus Sena secara sepihak membatalkannya setelah membiarkan Aline menunggu di Place de Bastille tengah malam. Anehnya, saat Aeolus Sena meminta Aline untuk bertemu dengannya besok, Aline pun menyetujuinya - sebagian besar karena rasa penasarannya yang tidak terjawab tentang pilihan waktu Aeolus Sena. Namun, di hari kedua, lagi-lagi lelaki itu mengatakan bahwa ia tidak bisa datang - membuat Aline marah besar meskipun keesokannya ia tetap setuju untuk bertemu kembali dengan Sena. Pada hari ketiga-lah akhirnya mereka bertemu; dan Aline dikejutkan dengan keceriaan dan sikap Sena yang tidak ia duga. Sebagai balasan atas porselen yang sudah ditemukan oleh Aline, Sena setuju untuk mengabulkan tiga permintaan perempuan itu. Sejak saat itu, keduanya semakin sering bertemu.
"Selama kami bersama-sama, aku tak pernah melupakan betapa tertutupnya dia, juga bahwa dia adalah tipikal yang suka menyimpan segala sesuatunya sendiri. Sekalipun aku berharap dia mau bercerita sedikit saja, dia tidak melakukannya."
Seiring dengan waktu, Aline terus-menerus menanyakan pada Sena tentang porselen yang sepertinya sangat mahal itu. Meskipun Sena memberitahu Aline, perempuan itu tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sena. Aline yang pantang menyerah terus berusaha mengorek misteri kehidupan Sena, dan semakin lama ia semakin terlibat dalam masalah pelik yang ternyata sedang dihadapi oleh lelaki itu. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan Sena?
"Sebelum ini, aku tak pernah benar-benar menemui hal yang mengundang tanda tanya. Terkadang, memang aku bereaksi berlebihan terhadap sesuatu - lampu mati atau dompet yang tertinggal di rumah atau rasa sup yang kurang pas. Namun, semua masih dalam koridor normal dan terjelaskan.
Sampai aku bertemu laki-laki ini. Sejak aku bertemu dengannya, yang terjadi hanyalah hal-hal aneh dan teka-teki."
Baca kisah selengkapnya di Paris: Aline.
image source: here. edited by me.
Ini adalah kali keempat aku membaca karya Prisca Primasari, setelah sebelumnya membaca Éclair: Pagi Terakhir di Rusia, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa (klik judul untuk review). Aku selalu mempunyai kesan yang sangat baik terhadap tulisan Prisca Primasari, karena gaya penulisannya yang mengalir, romantis, dan puitis selalu berhasil membuatku tidak dapat berhenti membaca. Setting yang diambil oleh penulis untuk novel-novelnya hampir semuanya berada di Eropa - salah satu faktor yang membuat aura ceritanya menjadi sangat romantis. Apalagi dalam kisah kali ini, berlatar kota Paris yang terkenal sebagai the city of love. Dapat kukatakan, buku ini telah menjadi karya favoritku dari Prisca Primasari :)

Alur cerita dalam buku ini sebenarnya sederhana sekali; keseluruhan ceritanya disajikan dalam sebuah diari yang ditulis oleh Aline untuk dibaca oleh sahabatnya, Sevigne. Mengingat ceritanya disampaikan dalam bentuk catatan buku diari, tentu saja tidak semuanya tertulis secara detail dan lengkap. Segala sesuatunya mengalir dengan baik; dimulai dari rasa patah hati Aline, yang kemudian membawanya menemukan pecahan porselen, bertemu dengan Sena, dan seterusnya. Meskipun aku berharap ada lebih banyak detail yang membuat pembaca mengerti keseluruhan cerita secara mendalam, aku tetap menikmati kisah ini secara utuh. Seperti yang sudah aku katakan, membaca gaya penulisan Prisca Primasari yang sangat luwes saja sudah membuatku senang.

Aeolus Sena adalah karakter favoritku dalam buku ini; selain karena namanya yang terdengar sangat keren itu, sifat dan pembawaannya yang ceria benar-benar terasa menyenangkan. Reaksinya yang heboh dan terkesan 'alay' bisa menimbulkan senyum; dan jika mengetahui latar belakangnya yang cukup kelam, aku cukup kagum ia masih bisa menjadi orang yang demikian ceria. Sebenarnya karakter Ezra - yang adalah karakter sampingan - bisa jadi cukup menarik, sayangnya ia tidak mendapatkan porsi yang terlalu banyak dalam cerita ini, bahkan aku sedikit merasa karakter ini disia-siakan. Awalnya aku berharap perasaan Ezra akan ditelusuri lebih jauh - bahkan mungkin dapat menimbulkan konflik antar karakter. Tetapi aku cukup puas dengan keberadaannya dalam cerita ini :)

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati buku ini - bahkan ada saat ketika aku terlalu penasaran dan tidak bisa berhenti membacanya. Flow ceritanya mengalir dengan baik, didukung dengan penulisan yang apik - membuat kisahnya mudah untuk dicerna bagi pembaca. Ending ceritanya pun menutup serta menyimpulkan semuanya dengan baik - permasalahan yang ada terselesaikan, dan berakhir sesuai dengan harapan. Aku akan sangat menantikan karya Prisca Primasari yang berikutnya - yang entah akan berlatar di bagian sebelah mana Eropa ;))
"Dia tidak bilang berapa lama aku harus menunggunya. Tapi selalu... ada beberapa hal yang sangat layak untuk dinanti, ketika aku percaya sepenuh hati bahwa semua itu takkan berbuah sia-sia."
by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...