Friday, September 14, 2012

Book Review: Filosofi Kopi by Dee

.
BOOK review
Started on: 10.September.2012
Finished on: 11.September.2012


Judul Buku : Filosofi Kopi
Penulis : Dee
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 134 Halaman
Tahun Terbit: 2007
Harga: Rp 39,950 (http://www.pengenbuku.net)

Rating: 4/5
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Filosofi Kopi adalah kumpulan cerita pendek dan prosa yang ditulis oleh Dee selama satu dekade - dimulai dari tahun 1995 hingga tahun 2005. Buku ini berisi 18 judul; campuran dari cerita pendek dan prosa penuh arti yang mendalam dan membekas di hati. Membaca prosa bagiku sedikit banyak terasa seperti membaca sebuah puisi karena tulisan yang singkat; tetapi dibandingkan dengan puisi, prosa berbicara dengan lebih jelas dan tidak memiliki makna tersembunyi seperti puisi pada umumnya. Awalnya saat membaca judul Filosofi Kopi aku berpikir bahwa seluruh buku ini akan berbicara tentang kopi; ternyata asumsi tersebut salah, karena Filosofi Kopi adalah cerita pertama yang ada dalam buku ini - juga salah satu yang paling berkesan untukku. Untuk mempermudah penulisan review ini, aku hanya akan menuliskan tentang beberapa cerita yang aku sukai :)

// F I L O S O F I  K O P I //
"Kamu masih tidak sadar? Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial!... Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia."
Filosofi Kopi bercerita tentang seorang pecinta kopi sejati: Ben. Ia telah berkeliling dunia mencoba segala jenis kopi, dan kemudian membuka kedai kopinya sendiri yang pada mulanya diberi nama: Ben & Jody - nama kedua pemiliknya. Suatu kali Ben mendapat tantangan dari seorang kaya untuk membuat kopi terbaik, dan tentu saja Ben menyanggupinya. Berminggu-minggu ia habiskan untuk melakukan percobaan, mencoba berbagai macam takaran; hingga akhirnya terciptalah Ben's Perfecto. Kopi tersebut diakui banyak orang sebagai kopi terenak yang ada di dunia; hingga satu saat seorang bapak mengatakan bahwa ada kopi yang lebih enak daripada kopi tersebut - kopi bernama Kopi Tiwus buatan seorang bapak di sebuah warung di Jawa Tengah. Melalui pengalaman tersebut Ben disadarkan tentang banyak hal, menyadari bahwa tidak ada yang sempurna.
"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. Dan di sanalah kehebatan kopi tiwus... memberikan sisi pahit yang membuatmu melangkah mundur, dan berpikir. Bahkan aku juga telah diberinya pelajaran... bahwa uang puluhan juta sekalipun tidak akan membeli semua yang sudah kita lewati. Kesempurnaan itu memang palsu."
// M E N C A R I  H E R M A N //
"Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan."
Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra, katanya. Dan dalam cerita ini, pengalaman pahit seorang Hera yang mencari Herman-lah yang dibutuhkan untuk membuktikannya. Hera, gadis berusia tiga belas tahun, yang menjadi favorit banyak orang - termasuk sahabat kakaknya. Suatu hari, pembicaraan tentang Herman Felany muncul, dan Hera mengatakan bahwa ia belum pernah punya seorang teman yang bernama Herman. Hanya sahabat kakaknya itu yang mendengar perkataannya, dan berjuang habis-habisan bersama Hera untuk menemukan seorang lelaki yang bernama Herman. Perjalanan yang mereka lalui tidaklah singkat, dan melalui pengalaman tersebut mereka harus terlambat menyadari sebuah perasaan yang tak pernah terungkap.
"Satu menggenapi, tetapi adakah dua akan membunuhku? Aku tak akan pernah tahu."
// R I C O  D E  C O R O //

Kisah Rico de Coro bukanlah kisah biasa, melainkan sebuah kisah cinta seorang kecoak kepada seorang gadis muda bernama Sarah yang rumahnya menjadi sarang bagi Rico. Akan tetapi kehidupan kerajaan kecoak yang tinggal di rumah tersebut tidaklah damai sejahtera; karena banyak orang yang memburu para kecoak untuk dijadikan makanan ikan sang majikan rumah. Meskipun demikian, cinta Rico pada Sarah tidak pudar; terlebih lagi karena Sarah yang sama sekali tidak pernah sekalipun membunuh kecoak (meskipun karena rasa takutnya). Namun, cinta Rico kepada Sarah tidak patut diremehkan. Cinta yang besar, bahkan rela berkorban nyawa.

Baca cerita dan prosa lainnya di Filosofi Kopi.
image source:here. edited by me
Mungkin sedikit telat bagiku untuk membaca kumpulan cerita dan prosa ini, karena sudah terbit cukup lama dan aku malah sudah membaca karya-karyanya yang lebih baru seperti Rectoverso dan Madre. Berdasarkan pengalamanku membaca tulisan Dee, aku sama sekali tidak meragukan kualitas cerita pendek yang ia tuliskan. Harapanku atas buku ini pun sama sekali tidak dikecewakan karena untaian kata yang dituliskan oleh Dee benar-benar indah; tulisannya cukup sering membuatku terhanyut dalam suasana yang dibuat.
Di atas, aku hanya membahas cerita-cerita pendek yang paling aku sukai untuk menceritakan tentang plotnya. Sebenarnya aku juga mempunyai beberapa prosa yang jadi favoritku karena jika dibaca untuk kali yang kedua, emosi yang keluar dari setiap kata sangat terasa dan maknanya pun amat dalam. Beberapa prosa yang aku sukai adalah Salju Gurun dan Jembatan Zaman. Dalam prosa Salju Gurun, dituliskan bahwa jika di hamparan gurun kita menjadi butiran pasir maupun kaktus, sama sekali tidak akan ada yang mengetahui keberadaan kita - karena sudah ada banyak di mana-mana. Akan tetapi, di sebuah gurun yang biasa, kita harus menjadi salju yang abadi. Prosa ini seperti memberikan pesan padaku untuk berani menjadi sesuatu yang berbeda, menjadi inspirasi bagi orang lain; "berani beku dalam neraka" mengutip dari prosa tersebut. Sedangkan prosa Jembatan Zaman menekankan bahwa dengan bertambahnya usia kita, bukan berarti kita paham segalanya. Lewat prosa ini, aku menyadari bahwa semakin bertambah usia kita, tidak seharusnya kita semakin merasa sombong seolah kita mengerti semuanya; melainkan menciptakan jembatan yang rendah hati untuk menjembatani kutub-kutub pemahaman yang berbeda.
"Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu."
On the last note, thanks buat Mba Inge yang sudah meminjamkan buku ini. Mudah-mudahan buku satunya lagi yang aku pinjam akan segera terbaca supaya bisa dikembalikan :)

by.stefaniesugia♥ .

3 comments:

  1. aku suka banget mencari herman...sayang di buku madre cerita2nya nggak terlalu berkesan seperti di filosofi kopi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi aku jg suka banget Mencari Herman, dalem bangett :'D iya betul, dibanding Madre emg Filosofi Kopi lebih berkesan cerita2nya :D

      Delete
  2. paling suka sama filosofi kopi, mencari herman, spasi, sama rico de coro :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...