photo wishlist_zps2544b6d7.png

Thursday, January 12, 2023

Book Review: Rumah Lebah by Ruwi Meita

.
BOOK review
Started on: 12 December 2022
Finished on: 19 December 2022
 
 
Title: Rumah Lebah
Author: Ruwi Meita
Publisher: Bhuana Ilmu Populer
Pages: 284 pages
Year of Publication: 2019
Price: Rp 58,400 (https://www.gramedia.com/)

Rating: 4/5
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Namun entah kenapa Nawai merasa sedang memasuki suatu awal yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang besar dan berbahaya sedang mengintai Mala. Sesuatu yang tidak bisa Nawai lihat."
Mala adalah seorang gadis kecil berusia enam tahun yang terobsesi dengan ensiklopedia. Di rumah, ia hanya tinggal dengan kedua orangtuanya, tetapi Mala selalu menyebut nama enam orang asing yang hidup bersama dengan mereka. Mala memiliki ketakutan terhadap Satira, namun bersahabat dekat dengan Wilis. Ia belajar bahasa Spanyol dengan Abuela dan terkadang berbicara dengan Tante Ana yang suka berdandan. Tak lupa Mala juga menyebutkan keberadaan si Kembar yang hanya bisa mendengar, melihat, dan mencatat. Kebenaran di balik nama-nama asing tersebut pun akan segera terungkap.
 

"Bentuknya seperti deretan segienam yang banyak. Kira-kira seperti itulah yang ada dalam bayangan saya mengenai rumah lebah, tempat mereka tinggal."
Sudah cukup lama aku mendengar tentang buku ini dan bagaimana orang-orang sangat puas dengan plot twist yang disuguhkan oleh ceritanya. Akhirnya aku bisa memuaskan rasa penasaranku dan membaca sendiri buku Rumah Lebah ini. Ini adalah pertama kalinya aku membaca tulisan Ruwi Meita, tetapi tidak sulit untuk menyukai gaya penulisannya yang senantiasa membuatku penasaran dengan ceritanya dari awal hingga akhir. Sinopsis di bagian belakang buku yang tidak mengungkap terlalu banyak tentang alurnya justru meningkatkan pengalaman membacaku karena aku tidak tahu ke mana ceritanya akan mengarah. Selama membaca, aku bisa menebak sebagian kecil dari plot twist-nya, tetapi aku sama sekali tidak menduga akhir ceritanya yang berhasil membuatku merinding 😨.
"Aku gagal menolongnya. Aku membiarkan kebencian itu memenuhi jiwanya. Seandainya aku punya keberanian."
Buku ini ditulis dari sudut pandang pertama dua karakter utamanya, Mala—seorang gadis kecil berusia enam tahun—dan ibunya, Nawai. Walaupun sepanjang cerita pergantian sudut pandangnya cukup sering, aku sama sekali tidak kesulitan membedakan keduanya karena Mala dan Nawai punya cara bicara yang berbeda. Di bagian awal, pembaca diperkenalkan dengan keluarga kecil yang terdiri dari Winaya, Nawai, dan anak mereka, Mala. Banyaknya kejadian aneh yang dialami Mala membuat kedua orangtuanya khawatir, apalagi Mala sering menyebutkan nama enam orang asing yang tidak mereka lihat wujudnya. Oleh karena itu, saat Winaya mendapat kesempatan untuk tinggal di tempat yang jauh dari keramaian, ia tidak berpikir dua kali dan langsung mengajak keluarganya pindah ke sana dengan harapan bisa memiliki hidup yang lebih damai. Namun ternyata, ketika mereka bersinggungan dengan orang-orang yang berada di tempat itu, banyak masalah baru yang muncul ke permukaan. Hingga pada akhirnya, pembaca akan mendapatkan penjelasan tentang kebenaran yang tersembunyi di balik keluarga Mala dan kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka.
 
Seperti kebanyakan pembaca yang lain, aku suka dengan alur ceritanya yang maju secara perlahan namun tetap berhasil membuatku penasaran dan ingin segera mengetahui akhir ceritanya. Karakter yang terlibat dalam buku ini diperkenalkan satu per satu, tanpa kita tahu apa peran mereka dalam keseluruhan ceritanya. Seiring berjalannya cerita, barulah terbentuk koneksi antara setiap karakter dan membuatku ikut berusaha mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Seperti yang aku sebut di awal, aku berhasil menebak sebagian dari plot twist-nya sebelum diungkapkan. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi kenikmatan membacaku hingga halaman terakhir. Tidak banyak yang bisa aku bahas dalam review ini tanpa membocorkan terlalu banyak, yang jelas Mala bukanlah anak kecil pada umumnya dan pemikirannya benar-benar mengerikan. Aku rasa karena itulah buku ini diberi label untuk usia 17 tahun ke atas dan tidak dianjurkan untuk pembaca yang lebih muda 😆.
"Meski dia kaku dan cara bicaranya yang tidak lazim, aku menyukai anak itu. Dia seperti menyimpan banyak rahasia di dalam dirinya."
"Selalu hanya ada satu ratu lebah. Jika dia tahu ada yang lain dia akan menyengat dan membunuhnya."
Secara keseluruhan, aku menikmati gaya penulisan Ruwi Meita di buku ini dan aku jadi ingin membaca karyanya yang lain. Walaupun ada beberapa bagian dari Rumah Lebah yang membuatku bingung dan mengerutkan kening, aku tetap menyukai konsep ceritanya yang menimbulkan rasa penasaran. Membaca buku ini juga membuatku mengetahui adanya kondisi psikologis yang disebabkan oleh trauma masa lalu. Jika tidak segera ditangani dengan baik, hal tersebut tentunya bisa memberikan dampak negatif bagi anggota keluarga yang lain. Bagi pembaca yang suka genre bacaan psychological thriller, buku ini tentunya patut masuk ke dalam daftar bacaan kalian 😊.

by.stefaniesugia♥ .
 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...