Wednesday, October 11, 2017

Book Review: Sophismata by Alanda Kariza

.
BOOK review
Started on: 19 September 2017
Finished on: 27 September 2017

Judul Buku : Sophismata
Penulis : Alanda Kariza
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 272 Halaman
Tahun Terbit: 2017
Harga: Rp 65,000 (http://www.gramedia.com)

Rating: 3/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kejadian ini seolah menjadi bukti bahwa apa yang gue percayai selama ini memang benar: politik itu kotor! Gue nggak mau jadi bagian itu."
Sigi adalah staf administrasi Johar Sancoyo, seorang anggota DPR yang sewaktu muda adalah seorang aktivis reformasi yang cukup diidolakan oleh banyak orang—termasuk Sigi sendiri. Impian Sigi adalah untuk bisa terlibat lebih jauh dalam aktivitas yang bersangkutan dengan kebijakan publik. Dan satu-satunya cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan dipromosikan menjadi seorang Tenaga Ahli. Sayangnya, setelah 3 tahun bekerja dengan tekun, yang diharapkan oleh Sigi tidak kunjung terjadi. Seolah statusnya sebagai seorang perempuan yang tidak memiliki pendidikan S2 membuatnya diremehkan dan dianggap tidak mampu menjadi seorang Tenaga Ahli.

"Dia teringat sederet persoalan yang membuatnya semakin tidak menyukai politik, dan interaksinya dengan Johar kali ini menambah panjang daftar itu. Sigi tak habis pikir kenapa selama ini dia tahan mendengarkan Johar bicara seperti ini. Semakin hari hanya semakin membuatnya muak."
Di saat harapannya mulai pupus, Sigi dipertemukan kembali dengan seniornya sewaktu SMA, Timur—yang kini juga sedang berkecimpung dalam dunia politik. Timur yang sebelumnya bekerja sebagai seorang pengacara kini memfokuskan waktu serta tenaganya untuk membuat partai politik bersama dengan beberapa orang terdekatnya. Pertemuan di antara mereka terus terjadi dan hubugan keduanya pun semakin dekat. Di satu sisi, Sigi memberikan dukungan serta masukannya kepada Timur; dan sebaliknya Timur juga memberi Sigi dukungan yang ia butuhkan. Dan mungkin kemudian, Sigi dapat sedikit banyak mengubah pandangannya yang buruk terhadap dunia politik.
"Kalaupun suatu saat dia berhasil mendapatkan posisi Tenaga Ahli, dia ingin itu terjadi karena atasannya melihat kompetensinya, bukan karena emosi yang dia lupakan semata-mata karena dirinya terlalu terkanak-kanakan dalam ambisinya menjadi 'politisi'."
image source: here. edited by me.
Salah satu alasan utama aku membeli buku ini adalah karena penulisnya Alanda Kariza, yang selama ini cukup aku sukai cara penulisannya. Alasan keduanya adalah karena buku ini mengangkat tema yang cukup unik, yaitu romance yang dilatarbelakangi oleh kisah politik. Sebelumnya, harus kuakui aku bukanlah penggemar politik dan tidak begitu mengikuti perkembangannya. Sehingga saat aku mulai memasuki buku ini, ada beberapa istilah yang terasa asing bagiku. Untungnya penulis memberikan cukup banyak informasi sehingga buku ini masih tetap bisa dinikmati bahkan oleh orang yang buta soal masalah politik. Meskipun bisa kukatakan aku cukup menikmati ceritanya, sayangnya banyak hal yang membuatku kurang begitu puas sewaktu aku menyelesaikan buku ini.
"Kalau boleh jujur, aku nggak terlalu percaya passion. Buatku, bikin kue itu semacam rekreasi. Aku takut kalau itu aku jadikan pekerjaan, nanti malah jadi nggak fun. Lagi pula, perkara do what you love itu terlalu utopis. Semua kerjaan, semenyenangkan apa pun, pasti ada satu titik akan melelahkan. Mending cari kerjaan yang aku sedikit suka, tapi sekaligus menantang. Biar aku juga bisa berkembang, ya kan?"
Untuk ukuran sebuah cerita yang mengusung tema politik, aku sedikit terkejut dengan alur ceritanya yang bisa dikatakan cukup sederhana dan bahkan mudah ditebak. Entah apakah ini karena sebelum membaca buku ini aku baru saja menyelesaikan buku yang luar biasa kompleks (A Little Life by Hanya Yanagihara) atau karena memang aku mengharapkan konflik politik yang lebih rumit (dark and twisted, maybe?). Selain dari sisi politiknya, entah bagaimana aku juga kurang begitu puas dengan bagian romance-nya. Di beberapa bagian, aku merasa kisah cinta mereka agak dipaksakan dan tidak ada chemistry antara keduanya. Atau terlalu banyak unsur politik yang dilibatkan dalam hubungan mereka sehingga malah jadi tidak terasa keromantisannya. Secara keseluruhan aku merasa kedua hal yang diangkat dalam buku ini jadi terkesan tanggung atau setengah-setengah.
"Kamu bisa sebergairah ini waktu membicarakan bekerja dalam politik, sementara aku nggak bisa. Setelah apa yang terjadi belakangan ini, bukannya simpatik, aku justru semakin muak sama dunia politik ini. Melihat bagaimana orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau—bukan cuma politisinya, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Bahkan aku merasa lambat laun aku sendiri jadi seperti itu. Aku seperti kehilangan diriku dalam dunia politik."
Di samping hal-hal yang kurang memuaskan bagiku, di saat yang sama aku bisa belajar sedikit tentang dunia politik juga melalui buku ini. Aku menyadari memang keberadaan wanita masih belum dianggap seratus persen setara dengan laki-laki (di berbagai bidang, tetapi terutama dalam dunia politik). Dan aku menyukai karakter Sigi yang dibuat kuat dan berprinsip dalam meraih impian yang ingin ia capai. Terlepas dari pendidikannya yang tidak mencapai S2, ia berusaha dan belajar sendiri untuk bisa memiliki kapabilitas yang sama sebanding dengan rekan-rekan kerjanya. Dan itu adalah sesuatu yang membuatku salut dengan karakternya.

Overall, it's an 'okay' book. Sophismata cukup memenuhi kebutuhanku akan bacaan yang ringan setelah selesai membaca buku yang terlalu berat dan kompleks untuk kubaca. Aku rasa ketidaktertarikanku pada dunia politik juga mempengaruhi kenikmatanku saat membaca buku ini. Jadi kesimpulannya, lain kali aku tidak perlu mencoba membaca sesuatu yang aku tahu tidak sesuai dengan seleraku. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan kalian bisa menyukai buku ini, tentu saja. Mungkin orang yang suka pembahasan politik dan kisah di balik dunia tersebut akan lebih bisa menikmati buku ini daripada aku. Dan buku ini tidak membuatku kapok untuk membaca tulisan Alanda Kariza, kok ;)
 
by.stefaniesugia♥ .

4 comments:

  1. Hai, Kak Stef! Aku buka Goodreads dan liat review terbaru kakak, haha
    Tapi emang menurutku, bacaan sebelumnya memengaruhi opini dan persepsi kita terhadap buku yang kita baca sebelumnya jadi agak terkesan bias.
    Aku juga baru mengalaminya.
    Aku baru selesai baca Theory of Everything Stephen Hawking, yg notabene buku nonfiksi dengan topik yang sangat berat, dan sekarang aku baca And The Mountain Echoid Khaleid Khosseini--yang kata orang bagus, malah jd terkesan flat dan kurang kompleks >< Jadi aku liatnya kayak kisah biasa aja.
    Walau emang keduanya buku yang berbeda sama sekali, fiksi dan nonfiksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa kadang emang bisa pengaruh gitu XD Padahal And the Mountains Echoed bagus banget loohhh :DD

      Delete
  2. Setuju. Rasanya kisah cinta Sigi dan Timur terlalu dipaksakan dan terburu-buru. Masa dalam semalam, mereka tiba-tiba menjadi dekat sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa jadi krg bisa relate sm hubungan mereka :\

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...