Friday, July 5, 2013

Book Review: 12 Menit by Oka Aurora

.
BOOK review
Started on: 24.June.2013
Finished on: 28.June.2013

Judul Buku : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : 362 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 43,200 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 5/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ini dia harinya, saat perjuangan panjang akan segera menemukan imbalannya. Hari ketika ribuan jam kerja keras mereka akan mengkristal menjadi keajaiban dua belas menit. Hari inilah mereka akan membuktikan bahwa mereka - seperti seharusnya manusia yang bertekad baja dan bermental juara, dari mana pun mereka berasal - juga bisa."
12 Menit berkisah tentang Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MBBPKT) - marching band milik masyarakat Bontang. Segala sesuatunya tidak berjalan mulus dengan marching band ini, hingga PKT merekrut seorang bernama Rene - yang pernah menjadi anggota marching band profesional berskala internasional, bahkan telah berhasil melatih marching band di Jakarta dan membuat mereka menyandang gelar Juara Umum GPMB selama tiga tahun berturut-turut. Meskipun pengalaman Rene luar biasa banyak, namun menghadapi anak-anak Bontang adalah yang pertama baginya. Dan Rene pun menyadari, meskipun anak-anak itu berpotensi dan berbakat, ia tahu musuh terbesar mereka adalah diri sendiri.

Tara, salah satu anggota cadet band yang telah berlatih selama hampir setahun. Ia ingin sekali membuktikan bahwa ia bisa menjadi anggota inti, tetapi pendengarannya yang hanya tersisa beberapa persen karena kecelakaan membuatnya sulit mengompakkan diri dengan kelompoknya. Setelah Ayahnya meninggal dalam kecelakaan yang sama, dan Ibunya memutuskan untuk melanjutkan kuliah demi masa depan Tara yang lebih baik, Tara tinggal bersama Oma dan Opa-nya. Rasa kesepian dan keterbatasannya membuat Tara ragu dengan segala sesuatunya. Meskipun Rene jelas-jelas melihat bakat Tara yang luar biasa dalam bermain drum, tetapi ia tidak yakin Tara mampu mengalahkan ketakutannya.
"Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,.. susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insya Allah akan sampai."
Ada pula Elaine, seorang anak baru dari Jakarta yang pindah ke Bontang karena pekerjaan Ayahnya. Dengan berat hati ia harus meninggalkan kehidupannya yang nyaman dan menyenangkan di Jakarta. Kecintaannya terhadap musik membuatnya tertarik masuk ke dalam marching band - terlebih dengan pengalamannya sebagai seorang field commander di Jakarta. Namun Ayahnya, Josuke Higoshi, tidak setuju dengan kegiatan yang ia rasa tidak memiliki masa depan itu. Hingga pada akhirnya Elaine harus dihadapkan pada keputusan yang amat sulit; melakukan apa yang menyenangkan Ayahnya, atau melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Sedangkan Lahang, yang adalah keturunan Dayak, hanya tinggal bersama Ayahnya di sebuah tempat yang terpencil dan tak terawat. Setelah kehilangan Ibunya dengan cara yang menyakitkan, Lahang tidak mau hal itu terulang kembali pada Ayahnya. Namun nasib berkata lain, saat dokter menemukan kanker otak pada Ayah Lahang. Tanpa biaya yang cukup, Ayah Lahang memutuskan untuk tidak pergi ke dokter lagi - hanya berserah pada pengobatan tradisional dan takdir. Di satu sisi, pergi ke Jakarta adalah impian terbesar Lahang; namun ia tidak sanggup untuk kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan.... karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian."
Latihan marching band untuk mengikuti GPMB, bahkan untuk memenanginya, bukanlah perjuangan yang mudah. Akan tetapi sesering mereka berlatih, sesering itu pula permasalahan datang menghampiri - seolah mencobai langkah mereka yang sedang menuju kepada mimpi. Setiap dari mereka mengalami pergulatan dengan batin mereka sendiri. Sebagai seorang pelatih, Rene hanya bisa memberikan kata-kata motivasi untuk membakar semangat anak-anak itu - namun keputusan terakhir selalu ada di tangan mereka masing-masing. Entah mereka memutuskan untuk menyerah, atau memutuskan untuk percaya bahwa mimpi-mimpi itu dapat terwujud nyata.


12 Menit adalah sebuah buku yang menyuguhkan kisah inspiratif yang benar-benar membuat semangat dalam diri tumbuh. Tema besar yang diangkat adalah tentang perjuangan anak-anak Bontang ini menuju kepada mimpi mereka - meskipun ada begitu banyak masalah yang merintangi. Di samping hal itu, terselip juga kisah tentang kekeluargaan yang hangat dan mengharukan. Penulisannya sederhana, namun telah berhasil membuatku amat menikmati perjalanan membaca buku yang penuh dengan emosi ini.

Alur ceritanya dimulai dengan memperkenalkan marching band, dan juga karakter-karakter yang disorot di dalamnya. Kisah ini menceritakan latar belakang dan kehidupan setiap karakternya, membuat pembaca mengerti keadaan yang sedang mereka hadapi. Hal tersebut juga membuat setiap konflik yang terjadi terasa alami dan tidak muncul secara tiba-tiba. Dan tanpa bisa dihindari pula, muncul rasa simpati karena rintangan yang mereka hadapi bukanlah masalah yang mudah; bahkan saat membaca pun aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang berada di posisi mereka. Ada banyak bagian yang menjadi favoritku dalam buku ini, beberapa di antaranya adalah momen hangat antara Elaine dan ibunya, saat Opa dan Oma berusaha menghibur Tara, ketika Lahang mengatakan ketakutan terbesarnya, saat Rene mengucapkan kata-kata motivasi, dan tentu saja pada momen 12 menit terakhir. Entah apakah karena aku terlalu menghayati ceritanya, atau aku hanya sedang melankolis saat membacanya; ending-nya sangat membuatku terharu dan hampir saja meneteskan air mata. (no spoiler).
"Namun, dia juga percaya, bahwa salah satu hal yang sangat penting di dunia ini adalah selalu merasa bahagia. Buat apa hidup jika tak bahagia. Apa pun yang kita lakukan dengan hidup kita pada akhirnya adalah untuk menuju satu. Kebahagiaan. Lahir batin....
Namun, ini sesuatu yang tak bisa dia ajarkan pada anaknya. Karena kunci untuk merasa bahagia adalah mengenali kesedihan."
Bisa dikatakan, aku menyukai hampir seluruh karakter yang ada dalam buku ini. Salah satu yang tidak aku sukai adalah Ayah Elaine - Josuke Higoshi - karena sikapnya benar-benar tidak bisa kumengerti. Dan jika harus memilih karakter favoritku, pilihanku akan jatuh pada Rene. Hanya dari ceritanya saja, aku bisa merasakan bahwa ia adalah seseorang yang penuh karisma dan berkarakter kuat. Beberapa kali aku terpana dengan dialog yang diucapkan oleh Rene, karena meskipun kadang pilihan kata yang ia gunakan terdengar keras, tetapi terkandung kebenaran di dalamnya. Sehingga saat ia sedang memotivasi tim marching band-nya, aku merasa seperti sedang berada di tempat yang sama dengan mereka.

Dari Rene dan juga karakter-karakter lainnya, aku mempelajari banyak hal tentang impian dan perjuangan untuk meraihnya. Tara dengan kekurangannya mengajarkan bahwa kekurangan itu tidak selalu harus menjadi penghalang. Elaine yang meskipun kehidupannya terlihat sempurna di mata orang lain, juga mempunyai beban yang amat berat. Dan Rene, lewat setiap kata-katanya menyadarkan bahwa meraih impian memang bukanlah hal yang mudah, butuh usaha dan kemauan yang keras. Kita harus yakin terhadap keinginan itu, dan percaya bahwa kita pasti dapat meraihnya. Because dreaming is believing :)
"Namun, mau tak mau Rene mengakui tantangannya memang tak biasa. Tak seperti saat dia membina anak-anak Jakarta, keyakinan Rene kali ini nyala-padam. Lebih banyak padamnya, seperti api yang belum sempat menyala besar sudah keburu dibekap karung basah. Perjuangan Rene dua kali lebih berat kali ini; bukan hanya perlu meyakinkan anak-anak ini bahwa mereka bisa, dia juga perlu meyakinkan dirinya."
"Tak ada yang instan di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mi. Oh, dan kopi."
Secara keseluruhan, aku amat menikmati buku ini dan 12 Menit telah menjadi salah satu buku favoritku tahun ini. Di balik kisah yang sederhana ini, tersirat pesan yang amat inspiratif dan memotivasi. Hal tersebut didukung dengan alur cerita yang mengalir dan penulisan yang amat mudah dinikmati. Emosi setiap karakter pun juga tersampaikan dengan baik dalam ceritanya. Aku sangat menantikan kemunculan film 12 Menit Untuk Selamanya, dan berharap film-nya akan sebagus bukunya :)
 
 
Trailer Film 12 Menit Untuk Selamanya

Buku 12 Menit diangkat dari skenario film 12 Menit Untuk Selamanya. Titi Sjuman berperan sebagai Rene, dan menurutku cocok sekali. Trailer-nya terlihat cukup meyakinkan dan mudah-mudahan filmnya tidak mengecewakan :))
 
by.stefaniesugia♥ .

1 comment:

  1. Wahhhh jadi pengen memiliki + baca buku ini :3

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...