Wednesday, February 14, 2018

Book Review: Laut Bercerita by Leila S. Chudori

.
BOOK review
Started on: 23 January 2018
Finished on: 6 February 2018

Judul Buku : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Penerbit KPG
Tebal : 389 Halaman
Tahun Terbit: 2017
Harga: Rp 100,000 (https://www.gramedia.com/)

Rating: 4/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sembari mengepulkan asap rokoknya yang menggelung-gelung ke udara, dia mengatakan aku harus selalu bangkit, meski aku mati.
Tetapi hari ini, aku akan mati.
Aku tak tahu apakah aku bisa bangkit."
Biru Laut, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris UGM, memutuskan untuk bergabung dengan sebuah kelompok yang bersatu untuk memperjuangkan demokrasi pada masa Orde Baru. Perkenalannya dengan Kasih Kinanti, atau yang lebih sering disebut Kinan, membawanya kepada berbagai macam pengalaman yang tidak terlupakan. Kelompok tersebut terdiri dari berbagai macam orang dengan misi serta harapan yang sama; yaitu untuk melihat Indonesia yang bebas dan tidak lagi tertindas oleh kediktatoran.

"Kita tak ingin selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun, Laut. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah begitu lama...seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya... Tapi aku tahu satu hal: kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut."
Usaha yang mereka lakukan di balik nama Winatra dan Wirasena tidak selalu membuahkan hasil, namun mereka tetap memperjuangkan apa yang mereka percayai. Hingga akhirnya pada tahun 1996, kelompok mereka dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Para aktivis yang dianggap membahayakan kedudukan pemerintah pada masa itu kemudian ditangkap secara paksa. Setiap dari mereka ditekan dan dituntut untuk mengungkap keberadaan sesama aktivis yang lain. Selama disekap dan disiksa, mereka tidak pernah tahu nasib yang menanti di depan. Apakah mereka akan bisa kembali menghirup udara luar, bisa merasakan matahari pada kulit mereka, atau bahkan masih bisa bertemu kembali dengan keluarga yang selalu menanti?
"Ternyata itu hanya ilusi. Kematianku tak lebih seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Atau seperti saat listrik mendadak mati.
Hening. Begitu sunyi. Begitu sepi. Aku tidak relevan lagi."
image source: here. edited by me.
Aku adalah pembaca yang tergolong jarang membaca novel Indonesia dengan genre historical fiction; sebagian besar alasannya mungkin karena waktu jaman sekolah dulu beberapa kali diwajibkan membaca buku sastra Indonesia yang pada masa itu aku rasa amat membosankan. Namun buku ini memberikan sebuah pengalaman yang jauh berbeda. Sejak halaman pertama pada bagian prolog, penulisnya seketika berhasil mencuri perhatianku—membuatku ingin terus membaca dan mencari tahu ceritanya dengan lebih detil. Di saat yang sama aku juga langsung terbuai oleh gaya penulisan Leila S. Chudori yang sungguh puitis dan sarat dengan emosi. Ia berhasil menggambarkan dengan baik segala ketegangan serta situasi penuh ancaman yang terjadi pada masa Orde Baru.
"Dia pernah mengatakan, jangan takut kepada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong. Tapi menurut Sang Penyair, jangan sampai kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia."
Buku ini terbagi dari dua bagian; bagian yang pertama ditulis dari sudut pandang pertama Biru Laut, sedangkan bagian yang kedua ditulis dari sudut pandang pertama adik perempuan Laut, Asmara Jati. Yang membuatku seketika tertarik pada buku ini adalah karena pada prolog yang mengawali kisahnya, sang karakter utama dibunuh dengan tragis. Tentu saja aku sangat penasaran dengan kejadian yang membawa karakter utamanya sampai pada titik tersebut.

Pada bagian pertama, pembaca akan berkenalan dengan Biru Laut serta teman-temannya dalam kelompok Winatra dan Wirasena. Cukup banyak karakter pendukung yang diperkenalkan sehingga butuh waktu beberapa lama sampai aku akhirnya terbiasa mengenali mereka semua. Dikisahkan bagaimana pada awalnya mereka mengenal satu sama lain, membangun markas, dan menjalankan misi-misi mereka. Salah satu hal yang paling menarik dari bagian ini adalah misteri tentang sang pengkhianat—seseorang yang diam-diam membocorkan segala rencana dan gerak-gerik mereka. Dan saat sosok yang sesungguhnya adalah pengkhianat itu diungkap, jujur saja aku juga ikut merasakan rasa kecewa dan marah yang dirasakan oleh Biru Laut.

Hal lain yang meninggalkan kesan mendalam bagiku adalah bagian penyiksaan sewaktu Biru Laut dan teman-temannya disekap. Sewaktu membaca, aku tidak bisa berhenti betapa mengerikannya apa yang harus mereka lalui. Setiap hari bangun dari tidur dan diberi makan hanya untuk disiksa terus-menerus dengan cara yang berbeda. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah fakta bahwa hal yang serupa pernah benar-benar terjadi. Meskipun buku ini dikategorikan sebagai buku fiksi, tetapi penulisnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari kisah nyata. Jujur saja, aku tidak begitu punya memori tentang kejadian rusuh pada tahun 1998 karena waktu itu aku masih sangat kecil. Oleh karena itu, buku ini memberiku sedikit bayangan tentang betapa kelamnya masa-masa tersebut.
"Sudah lama aku hidup bersama suara, napas, dan air mata ini: penyangkalan. Penyangkalan adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Menyangkal bahwa mereka diculik dan menyangkal kemungkinan besar bahwa mereka sudah dibunuh."
Bagian kedua buku ini, yang ditulis dari sudut pandang Asmara, lebih terfokus pada akibat yang terjadi tahun-tahun selanjutnya. Miris rasanya sewaktu membaca tentang kondisi orangtua Laut yang masih terus menyangkal kenyataan bahwa mungkin anak laki-lakinya tidak lagi hidup. Aku rasa kutipan yang tercantum dalam buku ini ada benarnya; bahwa lebih sulit menghadapi ketidakpastian daripada harus menghadapi kenyataan yang pahit. Untaian kata yang disusun oleh Leila S. Chudori berhasil menyalurkan kesedihan yang dirasakan oleh keluarga serta orang terkasih yang ditinggalkan. Hingga halaman terakhir, buku ini terus meninggalkan efek yang sendu dan memilukan di hati pembaca.
"Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat jiwa kami hancur..."
Membaca buku ini merupakan pengalaman yang sungguh berkesan; kisahnya membawaku kembali ke masa ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Orde Baru. Laut Bercerita telah menjadi perkenalan yang manis antara aku dan penulisan Leila S. Chudori. Beliau berhasil mengemas sebuah cerita fiksi sejarah dengan menarik dan mengekspresikan berbagai macam emosi yang membaur menjadi satu pada kala itu. Karakter-karakter yang ia ciptakan menggambarkan sosok para aktivis yang gigih, kuat, dan pemberanibaik lelaki maupun perempuan. Walaupun tidak ada karakter yang bisa aku sebut sebagai favorit, aku rasa setiap karakter menonjol dalam peran mereka masing-masing. Setelah membaca buku ini, aku berencana untuk membaca karyanya yang juga tidak kalah populer, Pulang, yang aku beli bersamaan dengan buku ini.



End note: Waktu sedang menulis review ini, aku baru saja mengetahui bahwa Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) dibuat menjadi sebuah film pendek berdurasi 30 menit. Film-nya disutradarai oleh Pritagita Arianegara; dan diperankan oleh sejumlah aktor/aktris yang cukup terkenal, antara lain: Reza Rahadian (sebagai Biru Laut), Ayushita Nugraha (sebagai Asmara Jati), Dian Sastrowardoyo (sebagai Ratih Anjani), dan masih banyak lagi. Sayangnya aku tidak menemukan trailer film pendeknya di Youtube; jadi aku harus puas hanya dengan video behind the scene di bawah ini. Saat tahu Reza Rahadian yang memerankan Biru Laut, aku langsung terbayang bagaimana kemampuan aktingnya yang luar biasa akan melengkapi cerita dalam buku ini. Semoga suatu hari film pendeknya dibuat available online untuk pembaca ya 😍😍

 
by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...