Friday, January 2, 2015

Book Review: Happily Ever After by Winna Efendi

.
BOOK review
Started on: 28.December.2014
Finished on: 30.December.2014

Judul Buku : Happily Ever After
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 356 Halaman
Tahun Terbit: 2014
Harga: Rp 48,450 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 5/5
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Inilah yang kurasakan detik ini: bahwa selamanya tidak pernah ada. Detik ini, selamanya berhenti, dan aku sadar, ungkapan kebahagiaan selama-lamanya adalah omong kosong belaka."
Sejak kecil, Lulu selalu menyukai dongeng yang dibacakan oleh Ayah untuknya. Ia mempercayai kebahagian selama-lamanya yang seringkali ia temukan dalam cerita dongeng. Akan tetapi seiring ia bertumbuh besar, pemikiran itu perlahan-lahan memudar: terutama saat ia kehilangan sahabat terbaik dan orang yang ia sayangi sekaligus. Kehidupan Lulu di sekolah tidaklah menyenangkan; ia tidak punya teman dan selalu diganggu oleh murid-murid yang lain (termasuk mantan sahabatnya). Meskipun demikian, Lulu tetap bertahan selama ia tahu Ayah-nya selalu ada di sisinya, menjadi orang favoritnya. Namun kemudian tiba saat ketika 'bahagia selama-lamanya' terasa mustahil dalam kehidupan Lulu.

"Hidup adalah sebuah hak istimewa, Lu. Karenanya, kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin."
Kehidupan Lulu seolah berubah drastis dalam hitungan detik sewaktu ia mendapati berita yang mengenaskan itu. Saat Lulu berusaha keras menghadapi situasi yang membuatnya terpuruk, ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang lelaki seumurannya, Eli. Keduanya dengan cepat menjadi akrab karena kesukaan mereka dalam bertualang. Keadaan yang dihadapi oleh Eli tidak jauh berbeda dengan Lulu, karena lelaki itu harus melepaskan impian yang sudah sangat dekat dengannya. Mengenal Eli membuat Lulu menyadari banyak hal, tetapi Lulu juga memiliki ketakutannya sendiri—ketakutan akan terluka dan kehilangan.
"Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia, Lu. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan tersendiri."
Baca kisah selengkapnya di Happily Ever After.
"As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters." —Seneca
Dilihat dari judul bukunya dan sampulnya yang terlihat imut, aku sama sekali tidak menyangka ceritanya akan semenyedihkan ini. Aku sudah membaca hampir semua karya Winna Efendi dan selalu suka dengan gaya penulisannya yang manis dan mendayu-dayu. Tetapi aku rasa buku inilah yang paling membuatku emosional dari semua bukunya yang pernah aku baca. Meskipun buku ini masih mengusung tema yang biasa Winna Efendi tulis dalam bukunya (tentang persahabatan dan cinta), aku merasa ada suatu pesan yang jauh lebih bermakna di dalamnya.
"Karena aku tahu, apa pun yang mereka lakukan tak akan pernah menghancurkan semangatku, dan Ayah akan selalu ada di pihakku. Sekeji apa pun ejekan mereka, sejahat apa pun tindakan mereka, aku tidak pernah membiarkan hal itu menggangguku karena apa yang keluar dari mulut mereka tidak benar. Hanya itu yang penting."
Buku ini ditulis lewat sudut pandang pertama Lulu, karakter utamanya—sehingga pembaca bisa mengetahui apa yang dilalui oleh karakter ini dan juga apa yang dirasakannya. Jujur saja, separuh awal buku ini memang terasa sedikit lambat. Pembaca diperkenalkan pada Lulu dan kehidupannya; Ayah yang selalu menjadi orang favoritnya dan keduanya memiliki kesukaan yang sama, tentang persahabatan Lulu yang berakhir menyedihkan, kisah cinta-nya yang juga menyakitkan, dan ia yang selalu ditindas di sekolah. Sebagian besar kehidupan Lulu membuatku merasa kasihan pada karakter ini, tetapi keberadaan Ayah yang selalu mampu menghiburnya dalam segala situasi terasa cukup bagi Lulu. Kemalangan dalam hidup Lulu masih terus berlanjut, membuatnya merasa bahwa 'bahagia selama-lamanya' yang ia temukan dalam dongeng yang ia sukai hanyalah omong kosong. Hingga ia bertemu dengan Eli di tengah kemalangannya, sosok yang kemudian menyadarkannya akan banyak hal. Aku tidak ingin menceritakan terlalu banyak tentang alurnya, supaya tidak spoiler; yang jelas buku ini merupakan perjalanan emosi yang membuatku merasa melankolis sepanjang membaca bukunya. Alur yang terasa lambat pada awalnya aku rasa cukup worth it pada akhirnya, karena bagian-bagian di awal itulah yang membangun hubungan antara Lulu dengan Ayah-nya. Dibandingkan kisah tentang persahabatan/percintaan yang ada dalam buku ini, tema keluarga-nya jauh lebih menyentuhku secara emosional. Bagian yang paling aku suka dari buku ini adalah ending-nya; yang berhasil membungkus kisah yang sendu ini dengan manis dan menghangatkan hati. Meskipun sebenarnya hampir sebagian besar cerita ini cukup mudah ditebak, aku masih menikmati buku ini. Setelah melewati segala kemuraman yang terjadi, ending kisah ini seperti memberikan harapan—meskipun tidak menjanjikan bahwa semua akan berakhir 'bahagia selama-lamanya'.
"...itulah salah satu hal menarik mengenai mimpi. Kita boleh memiliki mimpi-mimpi yang baru meskipun apa yang paling kita inginkan nggak tercapai."
"Tapi, kita ada di sini sekarang, bukankah begitu? Alam semesta ini punya rahasianya sendiri, Lu. Yang perlu kita lakukan adalah percaya pada rencana-rencana di baliknya."
Karakter yang menjadi favoritku adalah Ayah; karena seiring dengan berjalannya cerita yang dinarasikan oleh Lulu, aku jadi ikut merasa sayang pada Ayah. Ayah digambarkan sebagai sosok yang hangat, menyenangkan, suka bertualang, dan dengan setia selalu membacakan dongeng untuk Lulu. Salah satu adegan favoritku adalah saat Lulu membacakan dongeng Daun Terakhir karya O'Henry pada Ayah. Cerita dongeng itu sendiri sangat menyentuhku karena maknanya yang dalam. Namun aku juga tersentuh dengan perkataan Ayah, bahwa tidak semua dongeng punya akhir bahagia—dan terkadang kisah yang bagus memiliki akhir yang sedih. Selain Ayah, aku juga cukup suka dengan karakter Eli yang juga menyenangkan karena semangat dan selera humornya. Terlebih lagi, aku sangat menyukai pemikiran Eli yang tersirat dalam dialog-nya. Aku juga sangat suka kebiasaannya memotret orang dengan kamera polaroid dan menyimpan berbagai macam ekspresi :') Dan aku pun cukup puas karena karakter Lulu mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari awal hingga akhir. Ia berhasil menyelesaikan masalah persahabatannya, krisis yang menimpa keluarganya, dan juga tantangannya dalam menjalani cinta.

Jujur saja, buku ini membuatku menangis pada beberapa bagian menuju akhir ceritanya (entah memang karena ceritanya, atau karena aku sedang merasa melankolis sewaktu membaca buku ini lewat tengah malam). Dan bagiku, buku yang berhasil membuatku masuk ke dalam ceritanya secara emosional patut mendapatkan acungan jempol. Seperti biasa, aku selalu menikmati gaya penulisan Winna Efendi dan caranya menyampaikan kisah terasa amat luwes. Lewat kisah ini aku belajar bahwa happily ever after tidak hanya ditentukan oleh apa yang sedang kita hadapi, tetapi juga bagaimana kita menghadapi kehidupan yang kita jalani. Jika kemalangan tidak terjadi pada Lulu, ia pun tidak akan pernah bertemu dengan Eliyang kemudian menjadi sahabat yang mengubah sudut pandang kehidupan Lulu. Dan seperti yang tertulis pada kutipan di atas, semesta ini punya rahasianya sendiri, yang perlu kita lakukan adalah percaya pada rencana-rencana di baliknya :)) Aku rasa quote ini sangat pas untuk menjalani tahun 2015 ke depan. Semoga aku juga dapat menjalani masa sekarang sebaik-baiknya; carpe diem, seize the day :)))
"Dan, jika selamanya tidak permanen, kami akan mengisi masa sekarang dengan kenangan-kenangan yang akan bertahan.
Seize the day, live in the moment, hope for tomorrow.
Kami percaya itu."
"True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future, not to amuse ourselves with either hopes or fears but to rest satisfied with what we have, which is sufficient, for he that is so wants nothing." —Seneca
by.stefaniesugia♥ .
 

6 comments:

  1. Wah, di novel ini berarti Winna Efendi nggak mengangkat tema "sahabat-jadi-cinta" lagi, ya? Boleh juga nih. Dicari ah nanti. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa ayo dibacaa ;)) Emang buku ini agak beda dari buku Winna Efendi yg sebelumnya :)))

      Delete
  2. Temanya beda ya? Soalnya aku kalau Winna Efendi suka hit and miss gitu. Nggak semua bukunya bagus. Nanti aku cari, ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya agak beda dari biasanya :D Dicoba ajaa, siapa tau suka ;))

      Delete
  3. kak stef, novelnya gagas masih sering banyak typo gk sih yang sekarang2? udah agak lama gak belanja buku lg dr gagas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya tergantung sih.. kalo penulis2 yg biasa bukunya aku beli lumayan jarang ktemu typo :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...