Tuesday, January 15, 2013

Book Review: Duet by Angela Marchelin, Nita Ramadhita, Ryvannafiza

.
BOOK review
Started on: 10.January.2013
Finished on: 11.January.2013

Judul Buku : Duet
Penulis : Angela Marchelin, Nita Ramadhita, Ryvannafiza
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 212 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 39,000 (http://www.bookoopedia.com/)

Rating: 4/5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Duet adalah buku kumpulan 3 cerita yang telah berhasil memenangkan Korean Story Contest tahun 2012. Dari 309 naskah yang mengikuti perlombaan ini, terpilih tiga naskah terbaik yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku. Duet adalah judul salah satu dari ketiga cerita tersebut; dua cerita yang lain berjudul Black Cafe dan Chasing the Sunset. Tentu saja, sebagai pemenang Korean Story Contest, ketiga cerita ini menyuguhkan kita cerita yang berlatar Korea dan juga penggunaan bahasa Korea yang cukup sering kita dengar - baik lewat serial drama Korea maupun lagu Korea. Untuk mempersingkat review ini, aku akan menuliskan ringkasan cerita dari dua kisah yang ada dalam buku ini :)

// C H A S I N G  T H E  S U N S E T //
by Nita Ramadhita
"Cinta itu menyakitkan. Itu kesimpulanku.
Cinta itu seperti alkohol pada lukaku. Orang bilang alkohol bisa menyembuhkan luka, namun ternyata alkohol sangat menyakitkan seakan membakar. Itu yang kurasakan saat ini. Mencintai seseorang yang tidak mungkin mencintaiku seakan menumpahkan alkohol pada luka. Atau mungkin aku pun tidak tahu persis apa itu cinta."
Ini adalah kisah tentang seorang pemuda bernama Tae Joon; yang meskipun berasal dari keluarga sederhana, ia memiliki kecintaan yang besar pada fotografi. Impiannya selama ini adalah membidik matahari terbenam dan melihat lingkaran emas di atas langit yang merupakan hal terindah untuknya. Akan tetapi kamera usang yang ia miliki selalu gagal menangkap momen indah tersebut. Selain mengejar matahari terbenam, Tae Joon bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran milik sahabat baiknya, Yang Hee Jin. Saat Tae Joon sedang berkumpul bersama teman-temannya-lah, ia mendapatkan ide tempat yang bagus untuk menangkap matahari terbenam: Hutan Seoul.

Tae Joon hampir mencapai impiannya, menemukan matahari terbenam sempurna yang ia cari-cari. Akan tetapi saat ia hendak menangkap gambaran tersebut, sesosok gadis muncul dan membentuk siluet di depan matahari terbenam tersebut. Seorang gadis bernama Kwon Na Bi, yang selalu berusaha mengejar angin ditemani oleh kucing peliharaannya bernama Maru. Na Bi berkata bahwa Tae Joon adalah satu-satunya teman yang pernah ia miliki; dan sejak saat itu Tae Joon sering pergi ke hutan Seoul untuk menemui Na Bi, seorang gadis yang bertingkah seperti anak kecil.
"Aku selalu menerbangkan balonku saat matahari terbit dan aku mengikutinya untuk tahu sampai di mana ia terbang. Tapi saat matahari terbenam, ia pasti hilang. Gara-gara angin!"
Semakin lama Tae Joon mengenal Na Bi, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan gadis itu. Ia pergi ke mana-mana tanpa menggunakan alas kaki, tidak melanjutkan sekolah lagi, suka bermain dan menari di tengah hujan, dan lain sebagainya. Dan saat Tae Joon menyadari perasaannya kepada Na Bi, ia mengetahui masa lalu gadis itu dan apa yang sebenarnya terjadi selama ini; Tae Joon baru menyadari bahwa ia mencintai seseorang yang tidak akan mungkin mencintainya kembali.

// D U E T //
by Ryvannafiza
"Simbiosis mutualisme, seperti itulah Min Woo menggambarkan hubungannya dengan Sun Ho. Bukan teman. Mereka hanya dua orang yang berkenalan untuk membantu mencapai tujuan masing-masing, setelah itu mereka akan kembali menjadi orang asing."
Han Min Woo, baru saja mendapatkan sebuah tugas dari dosennya untuk mengamati perilaku seseorang dengan perilaku yang dianggap unik selama sebulan. Sejujurnya, Min Woo ingin sekali meneliti adik perempuannya yang bernama Ji Yool, yang seringkali ia sebut gila. Tentu saja, Ji Yool tidak benar-benar gila; hanya saja tingkah laku adiknya yang berbicara pada poster-poster dalam kamarnya dan menciumi mereka satu-satu membuat Min Woo merasa Ji Yool sudah gila. Akan tetapi karena Min Woo sangat menyayangi adik perempuannya, ia meminta tolong Ji Yool untuk mengenalkannya pada seseorang yang bertingkah serupa dengan adiknya.

Setelah berhasil memenuhi permintaan Ji Yool yang sulit, akhirnya Min Woo mendapatkan nama Park Sun Ho, seorang lelaki yang tinggal di panti rehabilitasi untuk nakal di Itaewon. Min Woo sama sekali tidak menyangka bahwa seorang lelaki seperti Sun Ho mempunyai kegemaran yang sama dengan adik perempuannya. Sayangnya, Sun Ho mempunyai satu syarat sebelum Min Woo diperbolehkan meneliti perilakunya; Min Woo harus menjadi partner duet Sun Ho untuk mengikuti sebuah audisi.
"Aku suka menari dan aku selalu bermimpi berdiri di panggung besar dengan ribuan penonton yang meneriakkan namaku. Kau tahu apa yang kulakukan? Berusaha meraihnya dengan segala cara. Manusia selalu punya dua pilihan: lakukan atau tidak. Ini hidupmu, untukmu. Ingat, ada yang namanya bicara dengan kepala dingin dan menemukan jalan tengah. Jangan jadi pecundang."
Min Woo sebenarnya mempunyai mimpi untuk menjadi seorang pianis, akan tetapi Ayah-nya selalu tidak menyetujui karena ia tidak melihat ada masa depan jika anak laki-laki satu-satunya itu menjadi pianis. Duet adalah kisah tentang meraih sebuah mimpi; meskipun perjalanan menuju mimpi itu tidaklah selalu mudah, kita selalu bisa memilih untuk tidak menjadi pecundang dan berusaha.
Baca kisah selengkapnya di Duet.
 
Masing-masing dari kisah yang ada dalam buku ini menyuguhkan tema cerita yang berbeda - sehingga tidak memberikan kesan yang monoton. Kisah yang pertama, berjudul Black Cafe, adalah sebuah kisah romance yang cukup sering kita jumpai dalam film-film Korea. Chasing the Sunset (seperti yang bisa dibaca dari ringkasan ceritanya) juga berkisah tentang kisah percintaan, tetapi dengan bumbu yang unik dan berhasil menjadikannya sebuah cerita yang istimewa. Sedangkan Duet sendiri lebih fokus kepada kisah persahabatan yang manis dan menghangatkan hati. Membaca tiga kisah yang ada dalam buku ini seketika membuatku merasakan aura Korea yang kuat menguar dari dari ceritanya; dimulai dari tempat-tempat di Korea seperti Hutan Seoul, Itaewon; dan juga makanan-makanannya yang menggiurkan - odeng, bibimbab, tteokbokki, dan lain sebagainya. Terlebih lagi, penggunaan bahasa Korea yang sesekali muncul dalam ceritanya - selain menambah kesan Korea pada ceritanya - juga dapat membantu pembaca untuk mempelajari bahasa Korea yang mulai mendunia ini.

Jika diharuskan memilih salah satu cerita yang paling berkesan dari buku ini, aku akan memilih Chasing the Sunset; karena kisah ini bukanlah sebuah cerita cinta biasa - tetapi penuh dengan kejutan-kejutan yang membuatku terus ingin membaca kisahnya. Terlebih lagi, karakter Na Bi yang ada dalam cerita ini mempertanyakan banyak hal yang sepatutnya juga kita pikirkan; seperti apa sebenarnya cinta itu? Apakah cinta itu hal yang baik atau buruk? Aku terhenti sejenak saat membaca pertanyaan tersebut karena aku sendiri juga tidak memiliki jawaban pastinya. Pertanyaan aneh lain yang muncul dalam kisah ini adalah:
"Bahasa Inggris dari jeruk itu orange kan, Oppa? Apakah warna oranye ada karena ada jeruk yang disebut orange, atau jeruk disebut orange karena warnanya oranye?"
Entah mengapa, karakter Na Bi yang unik itulah yang berhasil membuat cerita ini menjadi kisah yang paling berkesan bagiku. Selain menyuguhkan cerita cinta yang menyentuh, Chasing the Sunset telah berhasil membuatku berpikir.

Secara keseluruhan, aku sangat menyukai gaya penulisan ketiga pengarang yang berhasil memenangkan Korean Story Contest ini. Penulisannya mengalir dengan baik, mudah dimengerti, dan juga penggunaan bahasa Korea-nya yang pas. Satu hal yang aku rasa kurang, cerita yang ada terasa kurang lengkap - mungkin karena adanya keterbatasan halaman, sehingga ceritanya tidak dapat di-eksplor dan dikembangkan lebih jauh lagi. Sebenarnya aku berharap bahwa ketiga penulis ini akan menuliskan novel mereka masing-masing agar bisa menikmati penulisan mereka secara utuh. Dan terakhir, aku harus mengacungkan jempol bagi ketiganya, karena saat melihat biodata penulis, mereka lebih muda daripada umurku yang sudah 20 tahun ini. Semoga Duet adalah langkah pertama bagi mereka untuk bisa menjadi penulis yang lebih baik di kemudian hari. Menantikan karya solo Angela Marchelin,  Nita Ramadhita, dan Ryvannafiza :))

by.stefaniesugia♥ .

7 comments:

  1. kak stefanie kenapa ga coba ikut ajang korean story contest ajaa? :)

    ReplyDelete
  2. Kayaknya oke, tapi isinya kumcer yaaa... aku jarang terpuaskan nih kalo kumcer T.T

    ReplyDelete
  3. aku juga suka yg Chasing the Sunset.. Paling seru :)
    Salam kenal~

    ReplyDelete
  4. New follower heree!!
    Thx review nya ce,
    udah lama nih aku ngeliatin cover novel ini, bingung mau beli atau nggak
    Habis ini aku bakal beli novel ini ^^


    -If you have a time, please visit my blog ^^-
    http://desvitatan.blogspot.com/

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...