Tuesday, September 22, 2015

Book Review: When the Star Falls by Andry Setiawan

.
BOOK review
Started on: 5.September.2015
Finished on: 10.September.2015

Judul Buku : When the Star Falls
Penulis : Andry Setiawan
Penerbit : Penerbit Haru
Tebal : 204 Halaman
Tahun Terbit: 2015
Harga: -

Rating: 4/5
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Dari sekian banyak hal yang bisa kau lupakan, otakmu memilih melupakanku."
Sam harus menghadapi kenyataan bahwa Lynn—tetangga sekaligus kekasihnya—telah melupakannya setelah gadis itu menjalani operasi pengangkatan tumor di bagian otak. Setelah bertahun-tahun mengenal satu sama lain, Lynn tidak mengingat apa pun tentang Sam dan apa yang telah mereka lalui bersama. Oleh karena itu Sam memutuskan untuk menceritakan kisah masa lalunya bersama Lynn untuk  mengingatkan gadis itu kembali tentang hubungan mereka. Akan tetapi seiring dengan waktu, Sam merasa apa yang ia lakukan hanya memperburuk keadaan Lynn. Dan Sam merasa ada lelaki lain yang jauh lebih pantas untuk bersanding di sebelah gadis yang ia cintai.

"Memaafkan bisa jadi sangat melegakan, kau tahu?
Sangat-sangat melegakan."
Tidak hanya itu, Sam harus menghadapi masalah yang sedang terjadi dalam keluarganya sendiri menyangkut Ayahnya yang pernah pergi meninggalkan Sam dan Ibunya. Sedangkan keluarga Lynn harus menguatkan hati dalam menghadapi keadaan Lynn yang entah semakin membaik atau memburuk. Di sisi lain, Lynn hanya ingin menjalani kehidupannya seperti biasa; bercanda dengan teman-teman dan melakukan apa yang ia ingin lakukan bersama orang yang ia cintai. Karena ia tidak pernah tahu kapan waktunya akan habis.

image source: here. edited by me.
"Kadang aku berharap, aku punya kemampuan untuk membuang perasaanku. Karena hati yang terluka terasa lebih sakit dibandingkan dengan kulit yang tersayat pisau baru."
Membaca buku ini rasanya seperti sedang menonton sebuah film melodrama yang memberikan kesan sendu dan melankolis. Buku ini ditulis dengan menggabungkan sudut pandang pertama dan kedua yang menempatkan pembaca sebagai karakter Lynn; dan hal tersebut berhasil membuatku seolah terlibat dengan apa yang sedang terjadi pada karakter yang ada di dalamnya. Ceritanya dinarasikan oleh karakter utamanya, Sam, yang berusaha membuat Lynn mengingat dirinya dengan mengisahkan kembali masa lalu mereka. Ada banyak flashback yang memperdalam hubungan antara keduanya yang terlupakan oleh Lynn. Konflik antara Sam dan Lynn mulai muncul dengan kehadiran karakter Billy dan Leon yang berhasil mengintimdasi Sam serta membuatnya meragukan banyak hal. Selain itu, ada juga konflik sampingan yang menyangkut problem dalam keluarga Sam dan juga Ayah Lynn yang kesulitan menghadapi keadaan yang ada. Meskipun konflik yang ada dalam buku ini sebenarnya tidak terlalu rumit, aku rasa ceritanya lebih banyak mengeksplorasi perasaan setiap karakter terhadap apa yang sedang mereka hadapi. Menjelang ending, terjadi sesuatu yang sama sekali tidak aku duga dan agak membuatku menganga. Tentu saja aku tidak akan memberikan spoiler dan membahasnya secara detail, yang jelas ending-nya lumayan menyayat hati :'(( Entah aku harus menyebutnya sebagai happy atau sad ending; karena menurutku ceritanya berakhir dengan bittersweet.
"Mencintai seseorang bukan berarti tidak akan merepotkan, mencintai seseorang bukan berarti kita tidak bisa berbuat salah. Tidakkah kau mengerti?"
Salah satu hal yang paling aku suka dari buku ini adalah karakter-karakrternya; dengan segala kelebihan, kekurangan, dan kelemahan mereka masing-masing. Sam adalah karakter yang sangat mencintai Lynn, namun ia selalu merasa ragu dan takut ia akan menjadi beban bagi orang yang ia cintai. Sikap Sam terhadap Ayahnya juga menunjukkan betapa rapuh dirinya akibat apa yang terjadi di masa lalu. Demikian juga karakter Billy yang memiliki pergumulan batinnya sendiri tentang perasaannya. Namun karakter yang paling berkesan untukku adalah Ayah Lynn. Mungkin reaksi Ayah Lynn terhadap kondisi anaknya bukan sesuatu yang biasa, bahkan mungkin sulit untuk dimengerti. Tetapi saat membaca kutipan di bawah ini (yang merupakan favoritku), aku berusaha memandang situasinya dari sudut pandang Ayah Lynn dan merasa bahwa setiap orang berhak untuk memiliki perasaan mereka masing-masing—walaupun mungkin hal tersebut tidak selalu menjadi hal yang paling benar untuk dilakukan.

↓↓↓↓↓↓
"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Semua orang, tanpa kecuali, memiliki perasaan dan pikiran mereka sendiri saat mengambil sebuah keputusan. Ketakutan mereka, rasa cemas, bahkan rasa sayang bisa menjadi alasan itu. Apa hakku untuk mengabaikan perasaan itu dan menyuruh mereka mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan perasaan mereka?"
Overall, buku ini telah berhasil membuatku tenggelam dalam kisahnya yang sendu dan sarat emosi. Meskipun jalannya cerita terkadang terasa lambat, aku menikmati setiap perkembangan yang terjadi pada karakter-karakternya. Yang jelas selama membaca buku ini mood-ku seketika jadi mellow karena pergolakan emosi yang terjadi dalam ceritanya. Dan sebagai penutup, aku sangat berterimakasih pada penulisnya, Andry Setiawan, yang menawarkan naskah pre-release ini untuk aku baca. Semoga saat bukunya terbit, kisah Sam dan Lynn bisa dinikmati oleh lebih banyak pembaca :))

by.stefaniesugia♥ .
 

3 comments:

  1. Covernya lucu, kak.
    Reviewnya juga kece.
    Jadi penasaran pengen baca :)))

    ReplyDelete
  2. Ini nih, suka sama kata-katanya. Review yg kubaca sebelumnya tokohnya juga Sam, bedanya di novel itu tokohnya cewek :D
    Aku suka warna yg dipakai di kovernya, birunya keren.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...