Saturday, January 25, 2014

Book Review: Dance for Two by Tyas Effendi

.
BOOK review
Started on: 20.January.2014
Finished on: 22.January.2014

Judul Buku : Dance for Two
Penulis : Tyas Effendi
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 244 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp34,850 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Saya adalah bagian dari orang-orang yang percaya kalau hal yang terjadi di kehidupan ini bukan kebetulan. Saya yakin kalau ada satu pengatur yang sudah merencanakannya, seperti cerita fiksi yang ada penulisnya. Tidak ada kebetulan, termasuk pertemuan saya kembali dengan Albizia yang memang sudah menjadi bagian dari rencana penulis kehidupan ini."
Kisah ini berawal dari Sortedams Sø di Kopenhagen, saat seorang gadis bernama Caja Satyasa menyaksikan seorang lelaki tercebur ke dalam danau es akibat terlalu fokus pada kameranya. Caja tahu lelaki itu, sangat baik bahkan. Namun ia juga tahu bahwa lelaki itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Setelah membantu menyelamatkan lelaki itu dari dinginnya danau es, Caja memperkenalkan dirinya untuk pertama kali. Akan tetapi, sebuah kecelakaan yang kemudian menimpa lelaki itu membuatnya melupakan banyak hal - termasuk janjinya pada Caja. Caja kemudian menuliskan kisahnya untuk merelakan segalanya; perjalanannya sebagai seorang pengagum bagi Albizia - lelaki yang hanya bisa dilihatnya dari kejauhan.

"Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti mempunyai arti untuk yang lain - sekecil apa pun itu. Sesuatu yang sepertinya tidak kita butuhkan, bisa saja sangat berarti untuk orang lain. Saya percaya tidak ada satu hal pun yang diciptakan Tuhan dengan sia-sia. Saya sudah membuktikannya."
Sepulangnya dari Kopenhagen, Albizia mulai memasuki dunia kerjanya di sebuah penerbitan sebagai seorang editor. Entah takdir macam apa yang membuatnya meraih sebuah naskah dengan judul Menjemput Cinta di Kopenhagen karya C. Satyasa Hasan. Sejak mulai membaca, Albizia tidak bisa melepaskan naskah tersebut. Ia merasa bahwa setting Kopenhagen yang ditulis dalam cerita tersebut membawanya kembali kepada masa lalunya. Dan orang yang tak kalah terkejut adalah Caja - atau juga disebut Satya; yang mendapat telepon dari Albizia, mengabarkan bahwa naskahnya akan diterbitkan - dan lelaki itu yang akan menjadi editor-nya.

Begitu mengetahui bahwa Albizia yang akan menjadi editor-nya, Caja segera mengganti nama Albizia yang ia tuliskan dalam ceritanya menjadi Aldri. Dan tanpa sadar, Albizia sedang membaca kisah nyata antara Caja dan dirinya yang selama ini tidak ia sadari atau bahkan tidak diingatnya. Semuanya berawal dari Albizia yang menyebabkan anak-anak angsa milik Caja mati - dan bentuk permintaan maafnya yang manis. Setelah kejadian itu, Caja bertemu kembali dengan Albizia tanpa sengaja. Melihat betapa menyenangkannya kehidupan lelaki itu, perlahan-lahan ia mencari tahu lebih banyak tentang Albizia - tanpa sadar Caja telah jatuh semakin dalam.
"Saya tidak bisa lagi menahan air mata waktu melewati koridor. Saya tidak mengerti kenapa balasan dari tahun-tahun yang panjang itu hanyalah tangis buat saya. Saya tidak pernah menduga kalau akhir dari semuanya hanyalah air mata."
"Aku memang tak bisa memprediksi apa yang terjadi dengan isi hatiku, hanya bisa merasakannya saja. Dan kurasa, masa-masa musim gugur yang panjang sudah berlalu. Ada semi yang mulai merayapi tiap ujung rantingku."
Caja tahu bahwa suatu saat Albizia akan menyadari bahwa kisah itu menceritakan tentang dirinya; apalagi Caja juga tidak menyensor nama Ni Luh - kekasih Albizia yang sudah meninggal. Dan saat Albizia pertama kali menyadari kenyataan yang sesungguhnya, ia pun merasa marah dan merasa tertipu - apalagi Caja mengekspos bagian dirinya yang paling rapuh dalam tulisannya. Namun hal yang terpenting adalah ending dari kisah yang ditulis Caja. Albizia masih terus bertanya-tanya apakah ending tersebut hanya sebuah fiksi atau fakta.

Baca kisah selengkapnya di Dance for Two.
image source: here. edited by me.
Ini adalah kali kedua aku membaca karya Tyas Effendi, setelah sebelumnya membaca Catatan Musim; dan harus kuakui aku lebih menyukai kisah Dance for Two ini. Salah satu hal yang paling kunikmati adalah gaya penulisan Tyas Effendi yang manis dan sangat mengalir. Meskipun aku tidak tahu apa kaitan antara judul 'Dance for Two' dengan isi ceritanya, aku sangat menikmati takdir cinta yang dialami oleh Caja dan Albizia. Saat membaca tentu saja terselip dalam pikiranku, betapa kebetulannya mereka berdua bisa bertemu kembali. Tetapi seperti kata quote yang mengawali review ini, tidak ada yang kebetulan - karena semua hal yang terjadi sudah dirancangkan. Dan ini fiksi, jadi apa pun bisa terjadi :)

Buku ini dituliskan dari dua sudut pandang orang pertama, yaitu Caja dan Albizia - jadi kita bisa tahu apa yang dirasakan dan dialami oleh keduanya. Sejak awal, cerita ini sudah menimbulkan rasa penasaran yang membuatku ingin terus membaca. Mengapa Caja bisa kenal dengan Albizia namun tidak sebaliknya? Mengapa meskipun Caja kenal tapi itu adalah kali pertama ia menyebut nama lelaki itu? Dan banyak pertanyaan lain. Setelah takdir mempertemukan mereka kembali, jawaban dari pertanyaan tersebut perlahan-lahan terjawab. Apa alasan Caja mulai tertarik pada Albizia; semua yang ia lakukan untuk mencari tahu lebih banyak tentang lelaki itu, tindakan untuk membantu Albizia dari kejauhan, bahkan sampai mengikuti ke mana Albizia pergi. Semua kisah tersebut dituliskan dalam bentuk naskah yang sedang dibaca oleh Albizia. Dan sebagai pembaca yang mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, aku menanti-nanti saat ketika Albizia menyadari segalanya. Meskipun keseluruhan ceritanya cukup sederhana dan tidak banyak konflik di dalamnya, aku merasa kisah ini berhasil dituliskan dengan baik. Terlebih lagi, aku sangat menyukai ending-nya; yang membawa semuanya kembali ke awal - sehingga menjadi sebuah penutup yang manis dan berkesan :')

Untuk karakter yang ada dalam ceritanya, entah mengapa aku tidak merasa ada yang spesial dari Caja maupun Albizia. Oleh karena itu fokusku terletak pada Nikolaj, sahabat baik Caja yang selalu ada untuknya dan bahkan membantunya untuk mencari tahu tentang Albizia. Sebenarnya aku berharap Nikolaj mendapat kesempatan untuk mendapatkan hati Caja. Namun ternyata perasaan Caja untuk Albizia sebagai seorang secret admirer sudah terlalu dalam; sehingga tidak ada celah untuk Nikolaj masuk. Meskipun begitu, di ceritanya sendiri perasaan Nikolaj yang sesungguhnya tidak begitu dibahas; oleh karena itu aku juga tidak yakin apakah ia sebenarnya benar-benar mencintai Caja atau hanya menyayanginya sebagai seorang sahabat.

Secara keseluruhan, aku menyukai dan menikmati buku ini dari awal hingga akhir. Dari segi penulisan, aku rasa sangat manis dan mengalir - kisahnya juga membuatku penasaran dan ingin terus membaca hingga akhir. Sayangnya, aku merasa konflik yang ada dalam buku ini tidak membuatku cukup puas - karena aku berharap ada persaingan atau apa lah yang lain dalam ceritanya :p, sehinga akhirnya aku memutuskan untuk memberikan rating 4 untuk buku ini. Walaupun demikian, aku tidak akan ragu untuk membaca karya Tyas Effendi yang berikutnya ; karena aku sudah terlanjur suka dengan gaya menulisnya :))
 
by.stefaniesugia♥ .

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...