Thursday, October 8, 2015

Book Review: Girl Meets Boy by Winna Efendi

.
BOOK review
Started on: 20.September.2015
Finished on: 27.September.2015

Judul Buku : Girl Meets Boy
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 391 Halaman
Tahun Terbit: 2015
Harga: Rp 57,800 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 3.5/5
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
"Ia tahu ada kehilangan yang selamanya akan menyisakan lubang besar di hati, bahwa terkadang ada jenis-jenis kehilangan yang tidak memberikan ruang untuk ucapan selamat tinggal."
Hidup Ava Tirtadirga tidak sama lagi sejak kakak satu-satunya, Rae, meninggal akibat sebuah kecelakaan. Dan saat Ava diterima di Alistaire—sekolah musik ternama tempat Rae menggali kemampuan menyanyinya, semua kenangan tentang kakaknya semakin bermunculan. Rae memiliki prestasi yang gemilang di Alistaire dan semua orang memujanya. Oleh karena itulah kemunculan Ava di sekolah tersebut seketika menarik perhatian banyak orang. Dan setelah menemukan buku harian Rae, Ava menemukan banyak hal yang tidak ia ketahui tentang kakaknya—terutama seseorang dengan inisial K.A. yang sepertinya berperan besar dalam hidup Rae.

"Bagi sebagian orang, mengingat menimbulkan rasa kehilangan. Bagi sebagian orang, mengingat kembali adalah salah satu cara terbaik untuk tidak merasakan kehilangan. Dan, Ava lebih baik mengingat setiap hal mengenai Rae, baik dan buruk, daripada memilih untuk melupakannya."
Saat Ava sedang berusaha menyesuaikan diri di lingkungan barunya, ia bertemu dengan Kai Alistaire, cowok populer di sekolah yang terkenal suka mematahkan hati banyak perempuan. Orang-orang di sekitar Ava selalu memperingatinya agar menjaga jarak dengan Kai, akan tetapi ia harus tahu lebih banyak tentang lelaki itu karena ia yakin Kai memiliki hubungan yang istimewa dengan Rae. Saat keduanya saling mengenal dengan lebih baik, Ava sadar bahwa tidak semua yang ditunjukkan oleh Kai adalah apa yang sesungguhnya ia rasakan. Baik Ava maupun Kai telah merasakan kehilangan yang besar, dan kini keduanya sedang berusaha merelakan yang telah pergi dari hidup mereka.
"Bagaimana caranya menjaga hati, saat ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dirasakannya?"
image source: here. edited by me.
Aku selalu menyukai gaya penulisan Winna Efendi dan selalu menantikan buku terbarunya. Oleh karena itu saat Winna Efendi mengumumkan buku terbarunya yang akan terbit, aku tidak perlu berpikir dua kali sebelum memesannya sewaktu pre-order dibuka. Walaupun aku masih tetap menikmati penulisan Winna Efendi yang selalu manis, entah mengapa aku kurang bisa relate dengan cerita Girl Meets Boy ini.

Ditulis dengan sudut pandang ketiga, ceritanya terpusat pada karakter Ava yang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di Alistaire. Selain berusaha menemukan jati dirinya sendiri, Ava juga perlahan-lahan menguak rahasia yang disimpan oleh kakaknya, Rae, tentang seorang lelaki bernama Kai. Sepanjang cerita, terselip catatan buku harian Rae yang berkorelasi dengan apa yang sedang dilalui oleh Ava. Lewat buku harian tersebut, pembaca perlahan-lahan akan mengerti lebih jelas tentang hubungan antara Rae dan Kai—dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hari kecelakaan Rae. Dan jujur saja, aku sebenarnya lebih penasaran dan lebih peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rae di masa lalu daripada apa yang sedang terjadi dengan Ava. Selain konflik utama cerita ini yang berpusat pada rasa kehilangan, kisahnya juga menceritakan persahabatan Ava dengan anggota The Manic Misfits yang membantunya melewati berbagai kesulitan di sekolah, tentang perasaan dan cinta, impian, bahkan pergulatan batin yang terjadi dalam keluarganya. Namun sayangnya entah mengapa aku kurang begitu puas dengan konflik serta perkembangan ceritanya. Pada beberapa bagian, ceritanya terasa berjalan dengan lambat dan seolah hanya berputar-putar di tempat yang sama; tetapi untungnya rasa penasaran berhasil mendorongku untuk terus membaca kisahnya hingga akhir. Meskipun ada juga beberapa bagian yang aku sukai dari ceritanya, aku tidak puas dengan ending-nya yang terasa agak sedikit dipaksakan. Aku tidak mau memberi spoiler terlalu banyak, tetapi aku akan mengatakan bahwa aku tidak begitu merasakan chemistry antara dua karakter yang berakhir bersama :(
"Kadang, aku berharap cinta nggak serumit ini. Hanya saja, cinta nggak pernah menjelaskan dirinya dengan baik, datang dan pergi tanpa rangka waktu tertentu. Kalau beruntung, kita akan jatuh dan tidak tenggelam. Kalau beruntung, cinta itu akan tinggal untuk waktu yang sangat lama. Dan kurasa, hanya orang-orang beruntunglah yang bisa merasakan cinta."
Ada cukup banyak karakter yang berperan dalam buku ini, dimulai dari karakter utamanya: Ava, Kai, dan Rae; teman-teman Ava di Alistaire: anggota The Manic Misfits yang terdiri atas Fido, Arabel, dan Sugeng, dan juga teman lama Ava, Joshua. Sayangnya, aku tidak menemukan karakter yang menjadi favoritku dari buku ini. Biasanya aku dengan mudah jatuh hati dengan tipe karakter sejenis Kai, yang memiliki luka dan masa lalu pahit sehingga ia berusaha menutupi hal tersebut dengan sisi dirinya yang urakan. Walaupun ada saat-saat ketika aku bisa bersimpati dengan apa yang dirasakan oleh Kai, entah mengapa aku tidak bisa benar-benar menyukainya bahkan hingga akhir cerita.

Karakter Rae memang hanya muncul dalam bentuk jurnal / buku harian, tetapi aku merasa mengenal karakternya lebih baik daripada karakter Ava—yang adalah tokoh utamanya. Meski demikian, aku cukup suka perkembangan yang dialami oleh karakter Ava. Dari sosok yang selalu dibayangi oleh Rae yang selalu lebih berprestasi dan disukai, Ava berhasil menemukan jati diri serta jalan hidupnya sendiri. Dan sebenarnya aku cukup menyukai karakter Joshua (atau lebih sering dipanggil Jo) yang manis, namun ternyata ia tidak memiliki peran yang terlalu besar dalam ceritanya :( Semakin ke belakang ia semakin jarang muncul dan aku mulai mempertanyakan apa sebenarnya tujuan adanya karakter Jo dalam buku ini :1 Jika harus memilihi karakter yang paling aku sukai, mungkin pilihan itu akan jatuh pada Fido. Ia adalah karakter yang menyenangkan dan juga memeriahkan mood cerita yang sebagian besar sendu ini.
"Jalan dalam kehidupan selalu bercabang-cabang. Tugas kita adalah memilih satu, dan apa pun yang terjadi, kita harus hidup dengan konsekuensinya....
Kurasa memilih memang butuh keberanian. Untuk memilih adalah untuk menjadi berani. Dan, dalam hidup, ada banyak pilihan kecil sampai besar yang membutuhkan keberanian itu, agar kita bisa berada selangkah lebih maju. Bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun kemudian... apa yang akan terjadi sama kita tergantung pada pilihan-pilihan kita saat ini."
Mengesampingkan rasa kecewaku karena tidak bisa sepenuhnya menikmati cerita Girl Meets Boy ini, aku masih tetap menyukai gaya penulisan Winna Efendi. Entahlah, mungkin karena aku bukan orang yang terlalu menaruh minat atau perhatian pada musik, sehingga aku kurang bisa relate dengan ceritanya. Namun seperti buku-buku Winna Efendi yang sebelumnya, ada banyak kutipan yang berhasil membuatku berpikir tentang banyak hal—dan aku sangat menyukai itu. Aku akan terus menantikan buku terbaru Winna Efendi dan semoga aku bisa lebih menikmati karya yang selanjutnya :)
"Hidup bukan seperti itu. Hidup bukan tentang siapa yang menang, sebisa mungkin menghindari luka supaya nggak merasa sakit. Hidup adalah merasakan setiap luka yang datang, supaya kita bisa melewatinya, supaya kita bisa belajar untuk sembuh."
by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...