Tuesday, January 6, 2015

Book Review: Kania by Hapsari Hanggarini

.
BOOK review
Started on: 30.December.2014
Finished on: 1.January.2015

Judul Buku : Kania
Penulis : Hapsari Hanggarini
Penerbit : Moka Media
Tebal : 304 Halaman
Tahun Terbit: 2014
Harga: Rp -

Rating: 2/5
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Di kamarnya, Kania berkali-kali memejamkan mata, tetapi tidak juga terlelap. Pikirannya masih saja berputar pada percakapannya dengan Amih. Dia mengedik dan tertawa miris menyadari istilah 'dilema' terasa terlalu serius bagi dirinya. Sejujurnya, Kania ingin kata itu tak hadir di tengah kisah cinta yang ingin dia jalin..."
Keberangkatan Kania ke Yogya didorong oleh Agus, rekan kerja sekaligus sahabatnya, untuk menemui klien mereka yang bernama Danang. Di balik permintaannya tersebut, Agus sebenarnya bertujuan untuk menjodohkan Kania dengan Danang. Ia merasa Danang adalah seorang lelaki baik-baik yang pantas untuk Kania. Akan tetapi Agus dan Kania tidak mengetahui perasaan yang mereka simpan untuk satu sama lain. Janji yang telah keduanya buat beberapa tahun silam-lah yang menahan mereka untuk mengungkapkan apapun dan tetap bersanding sebagai rekan kerja, sekaligus sahabat.

Kesan pertama Kania tentang Danang tidak terlalu menyenangkan, akan tetapi perlahan-lahan ia mulai merasakan ketertarikan pada lelaki itu. Kania berusaha mengubur perasaannya yang terasa mustahil dengan menemukan cinta yang baru. Namun ternyata kisah cintanya tidak berjalan semulus yang ia harapkan. Pada akhirnya, ia dihadapkan dengan dilema yang mengharuskannya untuk memilih cintanya terhadap seorang lelaki, atau cintanya pada Amih, ibundanya.
"Ternyata, jatuh cinta tak selalu terasa indah. Terutama jika kita berdiri di antara cinta yang saling bertentangan."
Baca kisah selengkapnya di Kania.
image source: here. edited by me.
Aku mendapatkan buku ini langsung dari penulisnya, tetapi sayang sekali ternyata aku kurang begitu cocok dengan cerita yang disampaikan. Awalnya aku cukup tertarik karena premis cerita yang menjanjikan, yaitu kisah percintaan yang terhalang oleh janji masa lalu dan juga perbedaan suku. Oleh karena itulah aku punya harapan yang cukup tinggi untuk buku ini, akan tetapi pada akhirnya aku kurang begitu puas dengan eksekusi alur ceritanya. Meskipun demikian, aku tetap berhasil menyelesaikan buku ini hingga selesai karena rasa penasaranku terhadap ending-nya.

Ditulis dari sudut pandang ketiga, buku ini memfokuskan ceritanya pada 4 karakter utama: Kania, Agus, Danang, dan Amih. Pembaca diperkenalkan pada persahabatan Kania dan Agus yang sudah berjalan lama—dan juga janji yang mereka buat sewaktu membangun bisnis bersama; kemudian pertemuan antara Kania dan Danang, hingga hubungan Kania dengan Amih (ibundanya) serta kejadian masa lalu yang telah terjadi pada keluarga mereka. Seperti yang aku katakan, dengan semua konflik yang diuraikan sejak awal, aku penasaran seperti apa ceritanya akan berkembang. Rasa penasaran itu juga yang mendorongku menyelesaikan buku ini, karena aku ingin tahu siapa yang menjadi pilihan Kania pada akhirnya. Tentu saja aku tidak akan membahas ending-nya dalam review ini supaya tidak spoiler; tetapi aku ingin membahas beberapa hal dalam kisahnya yang kurang memuaskan menurut pendapatku:
  • Hubungan antar karakter antara Kania-Danang / Kania-Agus. Cerita ini tidak berhasil meyakinkanku tentang perasaan Kania terhadap Danang/Agus. Kesan pertama Kania terhadap Danang tidaklah terlalu menyenangkan, bahkan ia merasa kesal pada lelaki itu. Tetapi kemudian tanpa banyak hal yang terjadi, ia kemudian berubah tertarik pada Danang. Demikian pula dengan perasaannya terhadap Agus yang aku rasa kurang digambarkan dengan baik. Semua ini menyebabkan aku tidak bisa bersimpati pada karakter Kania yang merasa dilema—aku malah merasa sedikit sebal dengan karakternya yang tidak bisa menetapkan pikiran.
  • Alasan Danang tertarik pada Kania. Karena bawa botol air minum dan suka olahraga? Aku rasa aku butuh alasan yang lebih meyakinkan.
  • Alur cerita. Pernyataanku mungkin akan terdengar agak kontradiktif, tetapi aku merasa alur ceritanya terasa lambat, dan juga terlalu cepat di beberapa bagian (mudah-mudahan masuk akal). Tentang alur yang lambat, ada beberapa hal yang diulang-ulang dan juga kejadian yang tidak memberikan kemajuan yang signifikan pada alur ceritanya (tentang kakak Kania, dan juga kesukaan Amih terhadap Agus). Sebaliknya, untuk hal-hal yang menurutku lebih penting, malah berlalu sangat cepat. Tiba-tiba jadian, tiba-tiba melamar, dst. Aku sangat mengharapkan adanya pengembangan relasi antar-karakter secara emosional, supaya aku bisa lebih bersimpati dengan apa yang dirasakan oleh para karakternya.
  • Karakter yang terasa kurang konsisten. Untuk karakter Kania, aku amat sangat tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Karakter ini cepat sekali berubah pikiran dan aku sama sekali tidak tahu alasan di balik keputusannya yang membingungkan. Sebenarnya aku juga merasa demikian dengan karakter Danang dan Agus menuju akhir cerita. Tetapi aku tidak akan menjelaskan terlalu banyak juga supaya tidak spoiler bagi yang belum baca :))
  • Ending. Seperti yang aku katakan di atas, aku tidak akan menceritakan akhir ceritanya; tetapi lebih pada reaksiku saat menyelesaikan buku ini: "?????" Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan, aku tidak mengerti dan mungkin juga karena aku sendiri yang kurang bisa memahami jalan ceritanya. Yang jelas aku benar-benar bingung dan juga mau bertanya "Jadi terus gimanaa?". Bisa dibilang ending-nya merupakan sebuah plot twist untukku, karena semua terjadi dengan sangat tiba-tiba. Dan aku juga merasa Kania-lah yang membuat situasi jauh lebih rumit daripada yang seharusnya... Penyelesaian konfliknya juga aku rasa terlalu mudah, padahal aku mengharap sesuatu yang lebih kompleks dengan adanya masalah perbedaan suku yang ada di awal.
Secara keseluruhan, meskipun aku memang kurang puas dengan beberapa aspek ceritanya, buku ini berhasil membuatku ingin membaca hingga selesai karena penasaran bagaimana kisahnya berakhir. Dan walaupun aku kurang puas dengan kisah cinta Kania ini, tentunya tidak menutup kemungkinan pembaca lain akan menyukainya—karena aku yakin semua hanya masalah selera. Mungkin pembaca yang tinggal di Bandung akan merasa akrab dengan buku ini, karena cukup banyak penggunaan Bahasa Sunda di dalamnya :) Semoga Hapsari Hanggarini akan terus berkarya untuk ke depannya, dan sekali lagi terima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk membaca dan mereview bukunya :))

by.stefaniesugia♥.
 

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...