Sunday, January 27, 2013

Book Review: The Naked Traveler 2 by Trinity

.
BOOK review
Started on: 21.January.2012
Finished on: 23.January.2012

Judul Buku : The Naked Traveler 2
Penulis : Trinity
Penerbit : B First
Tebal : 348 Halaman
Tahun Terbit: 2010
Harga: Rp 49,300 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4/5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

The Naked Traveler 2 masih menyuguhkan isi yang serupa dengan buku pertamanya; yaitu kisah-kisah perjalanan Trinity keliling dunia. Trinity ingin menekankan bahwa traveling itu tidak selalu enak dan nyaman seperti kebanyakan tulisan perjalanan yang ada di media. Suatu tempat yang dikunjungi mungkin saja tidak indah dan bagus seperti yang kita harapkan. Buku yang kedua ini dibagi menjadi 8 bagian cerita: Gila-Gilaan, Indonesiana, Traveling Membawa Nikmat, Apa Rasanya?, Sekolah di Filipina, Belajar dari Sini, Bandingkan, dan Narsis.com. Seperti buku sebelumnya, setiap bagian akan berisi cerita-cerita pendek yang berhubungan dengan judul bab-nya. Dipenuhi dengan pengalaman yang lucu bahkan seram, Trinity sekali lagi membawa pembacanya berkeliling dunia lewat tulisannya.

Ada beberapa kisah unik dan menarik yang terdapat dalam buku ini, di antaranya berjudul, Indonesiana: Cabee, Deeh!; yang kisahnya menceritakan pengalaman Trinity dengan cabai. Sebagai orang Indonesia, makan cabai atau menggunakan sambal dalam makanan adalah hal yang amat biasa - bahkan terkadang menjadi keharusan. Akan tetapi, di negara Barat, Trinity sama sekali tidak pernah merasakan makanan ataupun sambal yang benar-benar pedas. Di Amerika maupun Eropa, seringkali hanya terdapat tabasco yang rasanya manis. Menurut pengalaman Trinity makan cabai, yang terpedas adalah cabai dari Indonesia bagian timur; seperti di Lombok, Manado, Palu, dan juara satunya adalah cabai Flores.
"India yang terkenal makanan pedasnya menurut saya, sih, lewat sama rasa pedasnya Indonesia. Sementara orang Filipina makan kari India saja nangis-nangis. Nah, giliran saya cuma masak nasi goreng, orang India yang gantian nangis-nangis! Karena saya "sakau" dengan sambal, akhirnya saya selalu menciptakan sendiri "sambal" yang gampang tersedia di tiap restoran."
"Sejumput sambal dengan perbandingan sepiring nasi, sudah bikin KO. Sensasinya luar biasa, hilang rasa pedasnya pun lama. Bibir jontor, air mata keluar terus menerus, budek pula. Setiap habis makan, posisi kami langsung terkulai di kursi sambil geleng-geleng kepala."
Pengalaman menarik lainnya berjudul Apa Rasanya?: Naik Balon di Bulan; salah satu kisah dalam buku ini yang sangat berhasil membuatku benar benar ingin pergi ke sana dan mencobanya sendiri. (dan salah satu alasan juga mengapa aku memilih gambar balon udara di Turki sebagai gambar untuk review ini ^^) Sesuai dengan judulnya, kisah ini menceritakan pengalaman Trinity naik balon udara di Capadocia, Turki. Kisah ini menceritakan secara detail perjalanan menuju tempat penerbangan balon, harga paketnya, jumlah penumpang dalam setiap balon, dan juga cara kerjanya. Naik balon udara di tempat yang terlihat seperti Bulan nampaknya adalah pengalaman yang amat luar biasa.
"Di atas, saya hitung ada 18 balon lain. Motif balonnya yang warna-warni sangat kontras dengan alam gersang seperti di Bulan. Pemandangan 360 derajat dari atas balon pun terlihat spektakuler. Pilar-pilar batu di sekeliling daerah yang luas ini terlihat bagaikan ombak yang dilukis alam ssecara berirama... Rasanya sangat romantis."
Traveling Membawa Nikmat: Dubai Lebai, menceritakan pengalaman Trinity saat mengunjungi Dubai. Lebai, yang adalah istilah anak muda jaman sekarang yang artinya 'berlebihan', dinilai cocok untuk menggambarkan Dubai. Sebagai salah satu tempat yang terkenal (juga sebagai tempat wisata), di Dubai segalanya terkesan besar, tinggi, dan mewah. Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa Dubai telah memegang banyak rekor dunia, antara lain: Bangunan tertinggi dunia (Burj Dubai), Hotel tertinggi (Burj Al Arab), Pulau buatan terbesar di dunia (Palm Islands), Shopping Mall terbesar di dunia (Dubai Mall), dan Bangunan dengan lantai terluas di dunia (Terminal 3 Dubai International Airport). Selain rekor dunia tersebut, masih banyak hal-hal lebai lain yang diceritakan oleh Trinity, termasuk hotel-nya yang berbintang tujuh dalam kisah Dubai selanjutnya.
"Setiap suite dilengkapi dengan sistem elektronik yang canggih termasuk untuk menutup tirai dan menyalakan TV plasma 42 inci yang keluar dari meja. Di ruang tidurnya bisa memilih menu 17 jenis bantal, seperti bantal anti-alergi, bantal anak-anak, bantal untuk kulit sensitif. Amenities yang tersedia di kamar mandi mereknya Hermes! Ada rangkaian khusus cewek dan cowok dengan botol berukuran besar. Ada juga menu mandi aromaterapi sambil makan caviar dan minum champagne."
Selain kisah-kisah di atas, Trinity masih membagikan banyak pengalamannya yang lain dan juga berbagai macam tips perjalanan. Lewat kisah-kisahnya yang juga membandingkan banyak negara lain dengan negara Indonesia, Trinity seringkali merasa bersyukur dan berterimakasih karena tinggal di negara tropis seperti Indonesia; meskipun juga mempunyai banyak kekurangan, banyak hal yang patut disyukuri tentang negara kita sendiri.

Baca kisah-kisah lainnya di The Naked Traveler 2
image source: here. edited by me.
Sepertinya aku sudah mulai ketagihan membaca The Naked Traveler. Jujur saja aku agak bingung harus menuliskan apa untuk review ini, karena tentu saja buku yang kedua ini tidak jauh berbeda dengan buku The Naked Traveler yang pertama. Meskipun aku tetap menikmati cerita-cerita yang ada di dalam buku ini, aku sedikit kecewa karena ada beberapa kisah dari The Naked Traveler pertama yang diulang kembali :( Selain itu ada juga beberapa kisah yang terlalu deskriptif dan cenderung datar - kurang exciting mungkin ya - sehingga ada yang aku skip. Faktor-faktor tersebutlah yang membuatku memberikan hanya rating 4 untuk The Naked Traveler 2 ini. Meskipun begitu, buku ini tetap berisi banyak pengalaman dan pengetahuan seperti yang aku dapatkan lewat buku yang pertama.

Selain kisah-kisah yang aku tulis secara singkat di atas, sebenarnya masih banyak lagi cerita lain yang sangat menarik untukku dan ingin kucoba. Antara lain adalah melihat whalesharks dengan panjang 8 meter di Donsol, FIlipina; dan yang paling menarik adalah olahraga (jantung) ekstrem! Selama ini, aku hanya pernah mencoba permainan-permainan ekstrem semacam Rollercoaster atau Free Fall yang ada di taman bermain seperti Disneyland. Akan tetapi olahraga ekstrem yang dicoba Trinity ikut membuat jantung berolahraga juga, salah satu yang paling ekstrem adalah bungy jumping! Bahkan hanya memikirkannya saja aku sudah merinding ketakutan, membayangkan harus melempar diri sendiri sejauh berapa ratus meter. Dalam buku ini, Trinity menceritakan pengalamannya lompat dari Macau Tower setinggi 233 meter. WOW. Aku sendiri bahkan tidak tahu apakah aku punya cukup keberanian dan guts untuk menandatangani "kontrak mati" dan lompat setinggi itu....
"Saat saya mendaftarkan diri, saya malah disarankan untuk melihat dulu orang yang terjun dari luar gedung. Gila, saya tidak melihat apa-apa, sampai saya memperhatikan dengan saksama... Ya ampun, orang yang terjun dari atas keciiil banget sampai hampir nggak keliatan! Ya, ampun, ini beneran tinggiii!"
Sama halnya seperti di buku yang pertama, The Naked Traveler 2 juga memberitahukan banyak hal baru bagi traveling pemula - dan hal apa saja yang perlu diperhatikan; selain itu ada juga pengetahuan tentang negara lain yang unik sekaligus lucu. Salah satu bagian yang berjudul Sekolah di Filipina menceritakan pengalaman Trinity saat melanjutkan pendidikan di negara tersebut. Kebiasaan orang Filipina yang paling lucu adalah mereka menunjuk sesuatu tidak dengan jari telunjuk, tetapi dengan memonyongkan bibir ke arah yang ingin ditunjuk. Tingkah laku tersebut sempat membuat Trinity salah sangka, karena dikira cowok itu mengajak ciuman. Dan dalam bagian Belajar dari Sini, ada banyak sekali pelajaran yang bagus dan cocok untuk para traveler; terlebih lagi bagi para traveler perempuan yang rawan diganggu.
"Jadi, hati-hatilah dengan orang lokal. Pokoknya, kalau merasa nggak nyaman, ya tinggalkan tempat itu. Kalau ada yang ngegombal, ya pasang muka garang. Kalau ada yang tangannya "clamitan", ya teriak saja (atau sekalian gampar biar kapok.) Good luck!"
Wah, sebenarnya masih ada banyak sekali yang bisa dibicarakan tentang buku ini, mungkin bisa membuat review ini review terpanjang yang aku tulis. Akan tetapi aku memutuskan untuk berhenti sampai disini dan lebih ingin kalian membacanya sendiri :)) Masih banyak kisah-kisah lain seperti awal bagaimana Trinity bisa menjadi seorang traveler, sahabat jalan-jalannya, dan tentu saja pengalaman perjalanan mengasyikkan yang beraneka-ragam. Di buku ini, Trinity tetap tidak kehilangan gaya penulisannya yang asyik, lucu, dan sangat mudah untuk dicerna sekaligus dinikmati. Isinya yang variatif dan informatif membuat wawasanku lebih luas saat aku hanya duduk di atas ranjang - membaca buku ini seolah memberiku berbagai macam pengalaman di saat yang sama. Aku berdoa supaya Trinity bisa terus dapat banyak berkat, bisa dapat banyak cuti, bisa terus jalan-jalan, dan terus menuliskan buku The Naked Traveler untuk kunikmati. Without any delay, continuing to the third book!

by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...