Sunday, September 16, 2012

Book Review: Kāla Kālī by Valiant Budi & Windy Ariestanty

.
BOOK review
Started on: 12.September.2012
Finished on: 14.September.2012

Judul Buku : Kāla Kālī
Penulis : Valiant Budi & Windy Ariestanty
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 340 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 45,050 (http://www.pengenbuku.net)

Rating: 4/5
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kāla Kālī dengan judulnya yang unik ini telah berhasil menarik perhatianku dan membuatku tidak ragu sama sekali untuk membelinya. Awalnya aku sedikit khawatir saat melihat beberapa orang yang sudah membaca memberikan rating yang kurang untuk buku ini; tetapi sebagai seorang pembaca tentu saja aku ingin membuktikannya sendiri. Tak kusangka, jauh dari bayanganku sebelumnya, aku sangat menikmati buku ini. Dalam GagasDuet kali ini ada dua cerita yang sama sekali berbeda dan tidak berkelanjutan satu dengan yang lain. Meskipun demikian, judul buku ini: Kāla Kālī mengikat kedua cerita tersebut menjadi satu kesatuan.

Kāla (nama panggilan Dewa Shiva dalam kepercayaan Hindu) yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti waktu yang abadi; juga dapat diartikan sebagai hitam dan kematian. Jika Kāla adalah sisi maskulin, Kālī (sang Dewi Waktu dan Perubahan) adalah sisi feminimnya - yang juga berarti waktu dan kematian. Dua kata ini disebutkan sebagai penggambaran kedua penulisnya - yang satu maskulin yang satu feminim yang melengkapi satu sama lain. Dua kisah yang bercerita tentang waktu.

Berikut ringkasan cerita & personal review dariku.
image source: here. edited by me
// R A M A L A N  D A R I  D E S A  E M A S //
by Valiant Budi
"Oooh, apa dosaku, TUHAN?
Ya pasti banyak, sih. Tapi mengapa semuanya harus terjadi malam ini?
Maafkan atas segala kearogananku. Ternyata, keputusanku untuk merayakan ulang tahun sendirian di Sawarna adalah kesalahan besar."
Kisah ini berpusat pada seorang gadis bernama Keni Arladi, yang sebentar lagi akan berusia 18 tahun dan ingin merayakan ulang tahunnya sendirian di Desa Sawarna. Selama ini ia selalu sendirian saat berulang tahun; tinggal berdua saja dengan neneknya membuatnya tidak mengharapkan kue tart berlilin dan kejutan di tengah malam. Akhirnya Keni memutuskan untuk bertualang ke Desa Sawarna alias Desa Emas untuk merayakan ulang tahunnya. Tak ia sangka sebelumnya, perjalanan yang diharap menyenangkan berubah menjadi menegangkan dan menakutkan.

Permasalahan mulai muncul saat Keni pergi untuk menjelajah Goa Lalay. Ia dengan bersemangat menjelajahi goa tersebut, hingga tanpa sadar telah berjalan terlalu jauh - senter yang dibawanya pun mulai meredup. Penglihatannya tidak jelas, tubuhnya terjatuh, kakinya terjepit. Keni berakhir pingsan di dalam goa tersebut. Saat terbangun, ia berada di sebuah rumah tak dikenal. Seorang Ibu berkata bahwa anaknya menemukan Keni yang pingsan dalam goa. Saat itulah sang anak muncul dan memberikan ramalan atas hidup Keni: "Kakak akan mati sebelum 18 tahun". Pergi dari tempat itu, Keni berusaha untuk tidak mempercayai ramalan aneh itu; akan tetapi kalimat tersebut terus terngiang di ingatannya.
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? Jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu."
Semenjak ramalan aneh itu, banyak hal aneh terjadi pada Keni. Banyak hal aneh yang seolah memang muncul untuk membunuhnya; bahkan orang-orang yang ia ceritai tentang ramalan kematiannya harus mengalami kejadian buruk. Semua ini seolah seperti kutukan, dan ia menanti-nanti hari saat ia beranjak 18 tahun untuk membuktikan bahwa kutukan itu tidak benar. Apakah waktu bagi Keni di dunia ini sudah habis dan sudah saatnya kematian datang menjemput?
"Seandainya mereka semua mati pun, kamu akan tetap gelisah, dan terus hidup dalam pertanyaan juga penyesalan. Satu tak akan cukup, seribu tak akan selesai."
image source: here. edited by me.
// B U K A N  C E R I T A  C I N T A //
by Windy Ariestanty
"Sebut aku lelaki yang tak paham cinta. Tapi, maaf, sejak kapan cinta itu realistis? Beri aku teori tentang cinta paling canggih pada abad ini... Terserahlan. Tapi, Einstein, si manusia paling realistis pun punya teori tentang cinta yang lebih masuk akal bahwa cinta itu tidak realistis sama sekali! Gravity cannot be held responsible for people falling in love. Dan, perempuan di depanku ini masih bilang cinta mereka realistis? Padahal, dia baru saja menunjukkan betapa tidak realistisnya cara dia mencintai."
Bumi dan Akshara - editor dan penulis yang bersahabat akrab. Kisah ini dimulai dengan pernyataan Bumi bahwa Akshara tidak benar-benar mencintai lelaki yang sedang ia pacari; seorang lelaki Beraroma Hutan Pinus bernama Bima. Bima tidak pernah datang ke acara-acara penting Akshara, tidak pernah membaca satu pun buku yang ditulis oleh perempuan itu; semuanya karena alasan-alasan klise seperti sibuk, meeting, dan lain sebagainya. Bima bahkan selalu membatasi Akshara; tidak boleh pulang malam-malam, ditanya sedang pergi dengan siapa, pergi ke mana pun harus melapor. Bumi selalu mempertanyakan masalah itu, tetapi Akshara selalu berkata bahwa ia berusaha mengerti posisi Bima - itulah cinta yang realistis, katanya.
"Namun, lambat laun aku paham. Cinta memang tidak seharusnya membuat cemas. Cemas karena mencintai sesuatu, rasanya bukan cinta. Bisa saja itu obsesi. Atau rasa takut kehilangan barang yang disukai, seperti anak kecil yang takut mainan kesayangannya diambil orang."
Bumi menebak bahwa hubungan Akshara dengan lelaki beraroma hutan pinusnya tidak akan bertahan lama. Hingga muncullah sebuah taruhan antara keduanya; empat bulan lagi, tepat hari ulang tahun Akshara, perempuan itu masih akan bersama dengan Bima. Sebaliknya, Akshara ingin Bumi datang ke ulang tahunnya bersama dengan seorang pacar baru. Bumi tidak memiliki banyak waktu, dan kehadiran teman Akshara yang bernama Koma seperti datang tepat pada waktunya. Perempuan tanda baca itu berhasil memikat Bumi dengan tawanya.

Sejarah cinta Bumi dengan seorang yang disebut Perempuan Kenangan pun dituliskan. Tentang bagaimana Bumi mencintai seseorang yang seperti bayangan dirinya sendiri - terlalu mirip dengannya. Akshara pun mempunyai sejarah cinta dengan seorang lelaki yang sebelumnya tidak diketahui oleh Bumi; kisah cinta yang dulu menyebabkannya patah hati, membuatnya selalu berjaga-jaga karena orang yang dicintai bisa pergi kapan saja - tanpa alasan. Apakah yang akan terjadi dalam jangka waktu empat bulan? Akankah Akshara masih bertahan dengan Bima, dan apakah Bumi akan datang bersama Koma?
"Iya, ketidakpastian. Hidup tak tertebak. Seperti permainan gundu dan dadu. Terkadang, aku takut itu... Bahkan ketika kita merasa segala sesuatu telah ada di genggaman, kondisi bisa berbalik."
Baca kisah selengkapnya di Kāla Kālī.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Duet antara Valiant Budi (Vabyo) dan Windy Ariestanty ini, dapat kukatakan sebagai GagasDuet yang paling unik dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya. Selain karena judulnya sendiri yang sangat unik, bikin penasaran, dan penuh tanda tanya, gaya penulisan dan cerita yang diangkat pun terasa berbeda. Setelah sebelumnya pernah membaca tulisan Windy Ariestanty di Life Traveler, aku ingin membaca lagi tulisannya, kali ini dalam bentuk fiksi. Dan meski belum pernah membaca karya Valiant Budi/Vabyo sebelumnya, tak disangka ternyata aku cukup menikmati cerita yang ia tulis dalam buku ini.
 
Pada tulisan Vabyo yang berjudul Ramalan dari Desa Emas, awalnya aku sedikit bingung cerita ini sedang mengarah ke mana - karena bawaannya seperti bercanda terus. Untungnya, pikiranku yang bertanya-tanya tidak dibuat menunggu terlalu lama; karena tiba-tiba muncul kejutan saat Keni sang karakter utama pingsan di dalam goa. Lebih mengejutkan lagi saat seorang anak yang menolong Keni memvonis bahwa Keni akan mati sebelum berumur 18 tahun. Kejutan-kejutan baru terus muncul, seperti sebuah kisah misteri yang menegangkan - tetapi dibawakan dengan gaya yang menghibur dan menyenangkan. Meskipun sebenarnya alur ceritanya cukup sederhana, gaya bercerita Vabyo-lah yang berhasil membuatku menikmati kisah ini hingga akhir. Twist di akhir cerita benar-benar membuatku bengong dan malah penasaran tentang nasib Keni selanjutnya (tidak akan dijelaskan lebih lanjut supaya tidak spoiler). Thumbs up for the humor and twist! ;)

Sedangkan cerita yang ditulis oleh Windy Ariestanty berjudul Bukan Cerita Cinta, malah berbicara banyak tentang cinta. Satu hal yang membuatku amat menyukai cerita ini adalah gaya penulisan Windy yang penuh makna dan "kaya". Membaca tulisan Windy tidak bisa terburu-buru atau sekadar skimming (berkat cerita ini aku tahu kalau yang benar adalah sekadar, bukan sekedar), setiap kata kunikmati satu-persatu hingga akhirnya aku terbawa oleh arus ceritanya yang mendayu-dayu. Banyak sekali quote menarik yang berulang kali kubaca hanya untuk meresapi artinya lebih baik lagi. Entah mengapa aku sangat menyukai sebutan yang ia buat untuk karakter-karakternya: Lelaki Beraroma Hutan Pinus, Perempuan Tanda Baca, Perempuan Kenangan, Lelaki Beraroma Laut - julukan-julukan sederhana ini berhasil membuatku merasa ceritanya mellow, seperti perasaan saat membaca sebuah puisi. Mungkin aku tidak terlalu baik mengungkapkannya, tapi aku benar-benar jatuh cinta dengan tulisan Windy :)

Overall, I love this book! Dimulai dari judul hingga gaya penulisannya dan ceritanya. Aku memberi rating 4 hanya karena aku merasa alur buku ini tidak terasa memuncak hingga klimaks. Meskipun begitu, keseluruhan ceritanya sangat bisa kunikmati dan menghibur :) Akan mencoba baca karya Vabyo yang lain suatu hari, dan tentu saja menunggu karya terbaru dari keduanya ;) My favorite quote to end this review:
"Sebesar apa kau mencintaiku?"
"Sebesar kuku jari."
Aku yang sedang menggigiti kuku jari tengahku terdiam. "Kuku jari?"
Ibu menatapku dengan tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan, terutama ketika aku ulang tahun dan patah hati. "Iya. Kuku jarimu selalu tumbuh meski kaupotong. Sebesar itulah cinta. Tak pernah sangat besar, tidak juga terlalu kecil. Cinta itu cukup."
Lima belas tahun kemudian, ketika Ibu sudah tak lagi bersamaku, aku baru paham filosofi kuku jari dan mengapa cukup adalah bilangan tak terhingga dari cinta.
by.stefaniesugia♥ .

4 comments:

  1. keren kayaknya.
    Jadi pengen baca. Pas baca sinopsisnya sih aku rasanya nggak mungkin ngerti ceritanya karena terlalu "indah" bahasanya. tapi sepertinya ceritanya menarik juga

    ReplyDelete
  2. kalo aku, 50:50. suka dengan tulisan Vabyo, yang kocak. tapi kadang rada lebay. tapi kalo yang bagian Windy... pusing... :D

    ReplyDelete
  3. @Nana: hihi coba baca ajaa ^^
    @Ferina: iyaa, mgkn karena kbanyakan becandanya yah xDD hihih

    ReplyDelete
  4. nice review :D
    jadi pengen baca nihhh ..
    makasih yaaa infonya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...