Tuesday, December 22, 2015

[Blog Tour] Book Review: Perfect Pain by Anggun Prameswari + Giveaway

.
BOOK review
Started on: 17.December.2015
Finished on: 21.December.2015

Judul Buku : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 324 Halaman
Tahun Terbit: 2015
Harga: Rp 53,550 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4/5
Giveaway berhadiah 1 (satu) buku Perfect Pain di akhir review ini.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------  
"Seperti yang kubilang sebelumnya, meja makan merekam kisah-kisah yang ada di sebuah keluarga. Kadang-kadang aku bertanya, kalau meja makanku bisa bicara, apa benda itu akan memohon untuk berganti pemilik, sehingga bisa merekam kisah-kisah yang lebih bahagia?"
Bidari, atau lebih akrab dipanggil Bi, telah bertahun-tahun menjalani pernikahan dengan suaminya, Bram. Tidak banyak yang tahu bahwa sehari-hari Bi harus bertahan dengan tamparan, pukulan, serta hinaan dari suaminya. Selama ini Bi terus bertahan demi anak mereka, Karel, yang selalu menjadi kekuatannya. Namun pertahanan itu runtuh saat Bram tidak lagi hanya memukulnya, tetapi juga menyakiti Karel. Bi akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dengan sisa kekuatan yang ia miliki.

"Itu masa lalu. Sudah selesai. Aku tidak akan kembali ke masa itu. Sekarang ada Karel dan karenanya, aku akan menjadi orang tua yang lebih baik. Bukan seperti lelaki tua itu, yang menghabiskan seumur hidupnya untuk menghinaku, merendahkan, menganggapku bukan siapa-siapa."
Bi mendapat pertolongan dari Sindhu, seorang pengacara yang sering menangani kasus KDRT. Perhatian dan perlindungan yang diberikan oleh Sindhu adalah sesuatu yang asing bagi Bi; karena selama ini ia hanya mendapat perlakuan buruk dari para lelaki dalam hidupnya. Dan meskipun kesempatan untuk berpisah dari Bram berada tepat di depan mata, Bi masih memiliki keraguan dan ingin terus percaya bahwa Bram akan berubah. Tetapi apakah harapan Bi akan menjadi kenyataan, atau hanya menjadi harapan semu belaka?
"Buatku, ada dua macam luka. Satu, luka yang bisa sembuh. Bekasnya hilang seakan tak pernah terjadi apa-apa...
Namun, ada pula jenis luka kedua, yang semahir apa pun pengobatannya, takkan pernah hilang. Seperti memar-memar di hatiku. Di jiwaku."
image source: here. edited by me.
Ini merupakan kali pertama aku membaca karya Anggun Prameswari, meskipun buku ini bukanlah novel pertama yang ia terbitkan. Ditulis dari sudut pandang karakter utamanya, Bi, novel ini mengangkat tema domestic violence atau kekerasan domestik/kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Aku sendiri sangat jarang atau hampir tidak pernah membaca novel yang mengangkat tema sejenis ini, oleh karena itu apa yang dialami Bi dalam buku ini menjadi semacam pengalaman / pengetahuan yang baru untukku. Alur ceritanya menurutku lebih banyak terfokus pada perkembangan karakter Bi; dari sosok yang memandang rendah dirinya sendiri karena selalu mendapat perlakuan yang buruk hingga kemudian ia bertemu dengan Sindhu dan orang-orang yang menyadarkannya dirinya tentang banyak hal.

Salah satu hal yang paling aku sukai dari buku ini adalah penulisnya memberikan latar belakang karakter yang menjelaskan mengapa Bi bertahan sekian lama menghadapi suami yang terus-menerus menyakitinya. Masa lalu Bi diselipkan dalam buku ini lewat sejumlah kilas balik dan juga perkataan Ayahnya yang selalu terngiang dalam benak Bi. Latar belakang kisah ini akan membuat pembaca bersimpati dengan karakter Bi dan juga memahami jalan pikirannya. Sepanjang membaca buku ini, banyak momen-momen yang menyayat hati karena aku sangat sedih melihat Bi diperlakukan secara semena-mena oleh Ayah dan suaminya. Itulah sebabnya aku sangat lega dan turut senang saat pada akhirnya Bi berhasil berdamai dengan masa lalunya, terutama dengan dirinya sendiri. Ending-nya benar-benar memuaskan karena konfliknya terselesaikan dengan baik, dan aku senang karena penulisnya tidak memaksakan beberapa hal (no spoiler) untuk terjadi terlalu cepat. Kisahnya diakhiri dengan manis dan meyakinkan pembaca bahwa yang terjadi selanjutnya akan lebih baik daripada apa yang telah tertinggal di belakang.
"Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian."
Selain karakter Bi, karakter-karakter yang lain pun tidak kalah menarik. Karel, anak lelaki Bi yang masih SD, adalah salah satu karakter favoritku. Meskipun usianya masih sangat muda, Karel memiliki sisi dewasa karena keadaan yang terpaksa membentuknya demikian. Kata-kata yang ia ucapkan untuk Bi selalu berhasil membuatku terenyuh. Dan tentunya aku tidak akan melewatkan karakter Sindhu, sang pengacara yang bagaikan sosok malaikat dalam hidup Bi. Aku suka bagaimana penulisnya juga memberi latar belakang masa lalu yang kelam untuk Sindhu. Dengan posisi yang demikian, Sindhu bisa lebih mengerti apa yang sedang dihadapi oleh Bi dan bagaimana cara menanganinya. Di buku ini, Sindhu bisa dibilang nyaris sempurna tanpa cela, sehingga tidak sulit untuk jatuh cinta pada karakternya.

Karakter pendukung yang lain adalah orang-orang di Rumah Puan, yang kemudian menjadi teman-teman baru bagi Bi. Merekalah yang membantu Bi menjadi mandiri, menemukan jati dirinya sendiri, dan terus mendukung Bi melewati berbagai macam masalah. Momen persahabatan yang terjalin antara mereka juga sangat menghangatkan hati. Karakter pendukung yang berkesan untukku adalah Bunda Roem; ialah yang memberi petuah pada Bi tentang mencintai diri sendiri terlebih dahulu untuk bisa merasa layak menerima cinta dari orang lain. Nasihat inilah yang kemudian akan membawa perubahan besar bagi Bi. Dan aku rasa nasihat itu tidak hanya berlaku untuk korban KDRT saja, tetapi juga untuk orang-orang yang kurang bisa menghargai diri mereka sendiri.
"Itulah yang saya bilang dengan tersesat dalam pencariannya sendiri. Seumur hidup, ayahmu selalu mengata-ngataimu. Kamu menerimanya mentah-mentah. Tapi, hatimu menolak. Makanya hatimu terus mencari. Mencari sosok yang mencintaimu. Menghargaimu. Menghormatimu. Sayangnya, pencarianmu tidak dibekali dengan rasa cinta diri sendiri. Makanya, lelaki perrtama yang menunjukkan sedikit jawaban yang kamu cari, langsung kamu telan begitu saja. Langsung kamu percayai. Dan, kamu pun lelah mencari."
Secara keseluruhan, buku ini memberikan sebuah gambaran yang bagus tentang KDRT serta mendalami perasaan dan pikiran korbannya. Penulisan Anggun Prameswari berhasil membuatku bersimpati dengan keadaan yang dihadapi oleh karakternya dan membuatku terlibat secara emosional dengan keseluruhan ceritanya. Sejujurnya, aku akan jauh lebih senang jika karakter Bram juga digali lebih jauh dalam buku ini; pastinya ada alasan tertentu di balik sikap serta tingkah lakunya yang demikian. Pada akhirnya, buku ini merupakan sebuah perkenalan yang manis antara aku dan gaya penulisan Anggun Prameswari. Di kesempatan berikutnya, aku tidak akan ragu untuk membaca apa saja yang ia tulis :)

Bagi kalian yang tertarik untuk membaca buku ini, tersedia 1 (satu) eksemplar Perfect Pain sebagai giveaway. Ikuti langkah-langkah di bawah untuk berpartisipasi ya ;)

↓↓↓↓↓↓


BOOK GIVEAWAY
22 - 27 Des 2015 | AVAILABLE FOR SHIPPING IN INDONESIA ONLY.

1. Follow blog Bookie-Looker via Google Friend Connect (GFC) atau Bloglovin.
2. Follow akun Twitter @stefanie_sugia ,Twitter penulisnya @mbakanggun dan penerbitnya @GagasMedia
3. Promosikan giveaway ini melalui tweet dan jangan lupa mention ketiga twitter di atas dengan hashtag #GAPerfectPain
4. Tuliskan di bagian komentar: Nama, E-mail / akun Twitter (untuk menghubungi jika kalian menang), link tweet kalian, dan jawaban untuk pertanyaan: "Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?"
Pemenang akan diumumkan tanggal 28 Desember 2015 :) Tersedia 1 (satu) buku Perfect Pain untuk giveaway ini :) Semoga beruntung!


by.stefaniesugia♥ .

20 comments:

  1. Nama: Hana Bilqisthi
    AKun twitter: @hanabilqisthi
    email: jejehana@gmail.com
    link share: https://twitter.com/hanabilqisthi/status/679315392607596544

    Pendapatku: tidak setuju dan berharap kasus KDRT bisa berkurang.
    Hal yang mengagetkanku adalah kekerasan rumah tangga sering kali tidak sesederhana yang kita kira
    korbannya bisa siapa saja:IRT maupun wanita karir
    seringkali orang yang melakukan kekerasan manipulatif, dia bisa meminta maaf dengan begitu baik namun ternyata tetap mengulangi kekerasan di lain kesempatan
    Salah satu alasan korban bertahan adalah mereka menyadari tidak ada pasangan yang sempurnadan kalau kekurangannya adalah dia melakukan kekerasan kepadamu (memamparmu, mencubitmu, dll), apakah kau akan meninggalkannya?
    Alasan lain mereka ngga bisa pergi adalah karena anak-anak atau dilarang oleh keluarga besar.
    sebaiknya korban minta bantuan pihak ketiga, seperti yayasan pulih :)

    ReplyDelete
  2. Nama: Zuhelviyani
    Akun twitter: @evizaid
    Email: zuhelviyani(at)gmail(dot)com
    Link share: https://twitter.com/evizaid/status/679340148484538368
    Jawaban:
    Sepertinya semua orang sepakat kalo KDRT adalah tindakan yg egois. Menurut saya sih, pelaku-pelaku KDRT memiliki gangguan kejiwaan, yaitu memiliki kepuasan setelah menyiksa. Untuk mengatasi hal ini, tentu saja bukan hanya korban yang perlu dilindungi, melainkan memberikan edukasi serta rehabilitasi utk pelaku. Rumah tangga yg memiliki unsur KDRT di dalamnya, bukan berarti tanpa cinta.
    Tetapi caranya saja yang salah. Untuk memperbaikinya, berpisah bukan jalan terbaik, tapi seringkali solutif bagi kedua belah pihak.
    Serahkan kasus-kasus KDRT ini kepada ahlinya.. Menghukum tidak akan menyelesaikan masalah.

    Semoga tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini..

    ReplyDelete
  3. Nama: Evita
    Twitter: @evitta_mf
    Email: evita.mf27@ymail.com
    link share: https://twitter.com/evitta_mf/status/679394505443835904

    Harusnya setiap KDRT itu segera dilaporkan. Sebagai seorang korban, teman korban, atau saksi korban KDRT harusnya melaporkan kejadian itu supaya si korban tidak terus menerus jadi pelampiasan kekerasan. Miris sekali melihat KDRT banyak terjadi. Mirisnya lagi tahu-tahu sudah jadi korban KDRT setelah bertahun-tahun baru dilaporkan ke pihak yang berwajib. Sudah berapa kali coba jadi sasak tinju dan menerima pukulan dan cacian. Berapa banyak luka yang bisa diobati dan membekas di badan, tapi luka di hati memangnya bisa diobati.
    Pelaku KDRT juga harus dihukum, dan lebih penting lagi diobati. Sebab biasanya pelaku KDRT memiliki gangguan jiwa. Siapa tahu setelah diobati bisa sembuh dan tidak melalukan kekerasan lagi kepada keluarga.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Nama: Ulfa Nursyifa
    Email: ulfansyifa@gmail.com
    Akun twitter: @ulfaminha
    Link share: https://mobile.twitter.com/ulfaminha/status/679459515373236224

    Pendapatku tentang KDRT?

    Menurutku, KDRT merupakan sikap jiwa keras seseorang. Emosinya yang tidak terkendali membuat seseorang melakukan kekerasan. Dia mementingkan egonya pribadi. Menurutku semua pasangan suami istri harus diberikan semacam penyuluhan mengenai dampak dan hukuman bagi pelaku KDRT. Tidak hanya itu, harus diberi cara2 bagaimana menyikapi permasalahan agar bisa mengontrol emosinya.
    Mengenai hukuman,
    Meski ada hukuman, jika tidak melapor itu tidak akan menyelesaikan. Jadi ketika si korban terkena KDRT harus melaporkannya kepada pihak berwajib, agar si pelaku mendapat hukuman yg membuatnya jera, dan tidak mengulanginya kembali.

    ReplyDelete
  6. Nama: Hapudin
    Email/Twitter: hapudincreative@gmail.com - @adindilla
    Link share: https://twitter.com/adindilla/status/679473351400624132

    Jawaban: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah dosa perkawinan. Harusnya pelaku mengingat janjinya dahulu ketika melakukan sumpah perkawinan. KDRT bukan bagian perjanjian tersebut. Pelaku wajib dihukum pidana. Dan negara sudah memperantarai hal tersebut dengan undang-undangnya.

    KDRT bukan hanya merusak keharmonisan rumah tangga. Tapi merusak jiwa orang-orang yang berada di rumah tangga; Istri dan anak-anak. Lebih luas akan melibatkan orang tua. Bukankah ingatan akan kejadian buruk selalu lebih lama mendiami otak, daripada kenangan manis atau ingatan yang baik. Si Istri akan mempunyai lembar hitam dalam mengenal dan menilai pria. Sedangkan anak, akan menirunya kelak jika tidak dibimbing dan diingatkan bila perbuatan ayahnya adalah dosa.

    Apa yang salah dalam KDRT? Tabiat suami? Atau kelalaian istri?

    Jika tabiat suami, ini yang akan susah dirubah tanpa kesadaran si suami jika hal tersebut salah dan imbasnya akan panjang. Butuh orang-orang terdekat merubahnya. Namun tidak bisa mengorbankan peran istri selama proses itu. Merubah tabiat bukan seminggu dua minggu. Saya lebih suka berpendapat jika perpisahan jalan terbaik. Biarkan si suami berubah dan ikhlaskan membangun keluarga baru dengan sifat baiknya.

    Jika kelalaian istri, salah juga jika suami melakukan hal tersebut. Tugas suami salah satunya membimbing istri. Jika istri lalai, silakan untuk diingatkan, jika perlu ditegur. Namun jika tetap tidak bisa dirubah, silakan kembalikan ke orang tuanya. Bukan dengan kekerasan menyelesaikan.

    Kembali lagi, KDRT bukan merusak suami istri saja, tapi bisa juga merusak anak, orang tua, saudara dan orang sekitar.

    KDRT tidak pernah dibenarkan dalam perjanjian rumah tangga.

    ReplyDelete
  7. Nama: Sasti
    E-mail / akun Twitter: sastye(dot)malory(at)gmail(dot)com / @legitur15
    link share : https://twitter.com/legitur15/status/679535850112172032

    Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?

    Aku memang tidak begitu mengetagui secara dalam tentang KDRT. Yang aku tahu bahwa dalam keluarga kalau ada kekerasan itu tidak boleh dan sebisanya untu dilaporkan ke bagian perlindungan anak atau ibu (nah, aku masih dongkolbanget masalah kayak gini)..
    Pendapatku sih untuk KDRT, nggak boleh sampek terjadi dalam keluarga. Suami mukul istri, suami mukul anak, bahkan anak mukul ibu... itu bener-bener nggak boleh dan ada hukumnya sendiri kalau sampek melanggar batasan kayak gitu. Sebenarnya, orang itu juga tahu batasannya. Nggak bisa dikatakan juga kalau memukul anak itu untuk mengajari sang anak untuk patuh dan taat sama ortu. Memberi pelajaran sama anak juga ada batasnya. Iya, saya tahu.. nggak semua anak itu nurut dan baik hati kayak saya. Tapi, setiap anak pasti memiliki perlindungan diri yang "tau" kalau mereka harus gini kalau mau dapet hadiah XD
    Intinya, dalam satu keluarga.. ribut.. pasti pernah terjadi. Adu debat antara anak-ayah, anak-anak, ibu-ayah dan ibu-anak nggak bisa dipungkiri. Tapi jangan sampek melewati batas kayak mukul salah satu keluarganya berdarah-darah. Itu yang harus dicegah dan jangan sampek kejadian.
    Nah, kalau kejadiannya kayak gini, salah satu pihak memang wajib untuk lapor ke perlindungan HAM, anak, ibu ato keluarga. Jangan sampek dipendam dalm satu keluarga sendiri. Kalo dipendem sendiri, pasti kejadian KDRT akan terjadi lagi..

    ReplyDelete
  8. Nama : Mukhammad Maimun Ridlo
    E-mail : maimun_ridlo@yahoo.com
    akun Twitter : @MukhammadMaimun
    link tweet : https://twitter.com/MukhammadMaimun/status/679679635416690688

    "Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?

    KDRT ini harus ga ada banget karena bakalan nyusahin semua pihak.
    Si korban akan menderita bahkan bisa trauma yang membuatnya depresi.
    Sementara kalau korbannya orang tua, sang anak akan terkena imbasnya yaitu trauma apabila akan menikah, benci kepada lawan jenis, atau yang paling berbahaya : MENJADI PELAKU KDRT DI KEESOKAN HARI !!
    Maka, perlu undang-undang (produk hukum) yang jelas untuk menjerat para pelaku KDRT. Tapi sebelumnya KDRT itu juga perlu didefinisikan juga supaya tidak menimbulkan salah tafsir.

    ReplyDelete
  9. Nama; Riqza Nur Aini
    Twitter: @riqzanainiee
    Email: moha3451(at)gmail(dot)com
    Domisli: Demak,Jateng
    LinkShare: https://twitter.com/riqzanainiee/status/679819416603897857?p=v
    .
    .
    "Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?"
    .
    .
    Belum ngerti banget sih soal beginian,xixixii masih kecil soalnya:DTapi aku sering liat berita ditelevisi soal KDRT,ada juga dilingkungan sekitar.KDRT/Kekerasan Dalam Rumah Tangga menurutku adalah tindakan yang seharusnya haram dilakukan dalam rumah tangga baik dari isti ataupun suami.Berumah tangga itu kan seharusnya didasari dengan cinta,kasih sayang,ketulusan,dan pengorbanan.Bagaimana bisa ada KDRT dalam rumah tangga??Suami rela memukuli istri dan anaknya bahkan tega membunuh mereka,ibu menyiksa anaknya,membunuh..dll Ck!Dimana fikiran sang suami itu??Memang ada beberapa faktor yang menyebabkan KDRT itu terjadi misalnya faktor ekonomi yang serba kekurangan,sang suami gila mabuk dan judi,selingkuh..Nah banyak sekali.Sebenarnya aku sangat menentang KDRT.Soalnya dirumah itulah para calon pemimpin bangsa diahirkan dan dididik.Bagaimana bisa bngsa ini mau maju jika calon pemimpinnya memiliki keluarga yang hancur berantakan!Penyebabnya tdk hanya dari suami,tapi mungkin juga istrinya yang neko-neko.Intinya ya kita itu tidak boleh menutup mata sebelah pihak,karena KDRT adalah masalah bersama.Rumah adalah tempat dimana anak2 bernaung,mecari kenyamanan dan kaih sayang,serta tempat untuk belajar dari orang tua.Jadi,sekuat tenaga kita harus bisa menyelesaikan masalah dalam keluarga itu bersama-sama:)

    ReplyDelete
  10. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Email: ayamurning@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/murniaya/status/679955676647440384

    Bagiku KDRT tidak sesempit hanya pada soal fisik. Kekerasan dalam rumah tangga pun menurutku tidak hanya dari si lelaki yang menjadi pihak bersalah. Kekerasan dalam rumah tangga menurutku tidak hanya melulu soal siksaan fisik, melainkan siksaan batin juga. Seorang istri yang lebih sering keluar tanpa mengurus anak dan suami, menurutku itu termasuk kekerasan karena sudah menelantarkan keluarganya. Istri mau pun suami yang tega berselingkuh juga termasuk kekerasaan, kekerasan terhadap hati. Siksaan batin. Karena seharusnya sepasang suami istri saling menjaga perasaan pasangannya, memuliakan pasangannya. KDRT merupakan indikasi bahwa suatu rumah tangga tidak bisa dipertahankan lagi. Jika tetap bertahan itu bukan hanya menyakiti pasangan, melainkan menyiksa diri sendiri karena membiarkan dirinya terkungkung dalam tekanan batin dan fisik terus-terusan.

    ReplyDelete
  11. Nama : Veny
    Twitter : @yutakaNoYuki
    Email : himurasora@yahoo.co.id
    link : https://twitter.com/yutakaNoYuki/status/680045147812311040

    Adanya KDRT berarti rumah tangga tersebut sudah bukan lagi sebuah rumah tangga. Maksudku yang namanya rumah tangga itu kan sebuah kehidupan kecil, lalu apa jadinya kalau di kehidupan tersebut ada yang mendominasi ? Ada yang lebih berkuasa dan bebas menyakiti baik secara fisik maupun mental ? Itu mah bukan kehidupan lagi tapi sudah menjadi hutan belantara dengan prinsip siapa yang kuat maka dia yang menang atau berkuasa. Yang namanya kehidupan itu adanya keseimbangan, maka seperti itu juga rumah tangga, kalau sudah tidak ada keseimbangan lagi ya menjauh saja, pergi. Pergi disini juga untuk menyelamatkan semua pihak, supaya korban tidak makin tersiksa dan supaya pelaku tidak sempat bertindak lebih jauh dan malah memperparah keadaan ....

    ReplyDelete
  12. Sabrina
    Sabrinatjo@gmail.com
    https://twitter.com/SabrinaTe/status/680079473190932481

    Menurutku KDRT tidak seharusnya terjadi di dalam berumah tangga. Bukankah berumah tangga itu untuk membentuk sebuah kebahagiaan, bukan kekerasan. Membentuk keluarga yang diisi kasih, pengertian, peduli, cinta dan saling dukung. Bukan amarah, makian, ancaman dan pukulan. Untuk apa membentuk rumah tangga baru jika didalamnya diisi kekerasan, kesedihan, trauma dan tangisan.

    Untuk setiap pelaku KDRT, aku berharap mereka sadar jika menyakiti orang lain. Sadar diri dan mau berubah demi diri sendiri dan keluarganya.
    Untuk para korban KDRT, aku berharap mereka memiliki keberanian yang cukup untuk setidaknya 'keluar' dari kekerasan dan mencari perlindungan yang seharusnya. Jangan pernah berkecil hati dan diri karena setiap korban KDRT layak dikasihi dan dicintai.
    Untuk aparat penegak hukum, tolong bersikaplah adil dan bijak terutama dalam kasus KDRT agar tidak merugikan para korban kekerasan, tidak membuat lingkaran setan yang tidak terputus karena sebab-akibat dari KDRT.
    Untuk para anggota masyarakat, empatilah.

    ReplyDelete
  13. Sabrina
    Sabrinatjo@gmail.com
    https://twitter.com/SabrinaTe/status/680079473190932481

    Menurutku KDRT tidak seharusnya terjadi di dalam berumah tangga. Bukankah berumah tangga itu untuk membentuk sebuah kebahagiaan, bukan kekerasan. Membentuk keluarga yang diisi kasih, pengertian, peduli, cinta dan saling dukung. Bukan amarah, makian, ancaman dan pukulan. Untuk apa membentuk rumah tangga baru jika didalamnya diisi kekerasan, kesedihan, trauma dan tangisan.

    Untuk setiap pelaku KDRT, aku berharap mereka sadar jika menyakiti orang lain. Sadar diri dan mau berubah demi diri sendiri dan keluarganya.
    Untuk para korban KDRT, aku berharap mereka memiliki keberanian yang cukup untuk setidaknya 'keluar' dari kekerasan dan mencari perlindungan yang seharusnya. Jangan pernah berkecil hati dan diri karena setiap korban KDRT layak dikasihi dan dicintai.
    Untuk aparat penegak hukum, tolong bersikaplah adil dan bijak terutama dalam kasus KDRT agar tidak merugikan para korban kekerasan, tidak membuat lingkaran setan yang tidak terputus karena sebab-akibat dari KDRT.
    Untuk para anggota masyarakat, empatilah.

    ReplyDelete
  14. Nama: Maggie
    Twitter: @Miieruu
    Email: maggiechenblogs@gmail.com
    Link Share: https://twitter.com/Miieruu/status/680434591404916736

    Aku merasa KDRT itu seharusnya tidak pernah terjadi atau bahkan ada sih...

    Gimana yah,
    Pertama, kedua orang yang memulai sebuah rumah tangga itu seharusnya saling mencintai kan? Kalau cuma setengah-setengah cintanya sampai rela melukai satu sama lain, sekalian aja engga usah married. Aneh-aneh aja...

    Kedua, yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal logika kita. Kita dapat berpikir dan membedakan mana yang benar dengan yang salah. Kita dapat menghormati orang lain dan hidup menjalankan disiplin. Sebagai seorang manusia, ngerti dong kalau KDRT itu sesuatu yang salah? Dari kecil saja kita dididik oleh orangtua kita untuk menghormati orang lain. Lah, ini, keluarga sendiri loh, bukan orang lain, masa menghormati aja engga bisa?

    Ketiga, aku cuma pengen menyoroti KDRT yang engga cuma dialami wanita sih, tapi pria juga. Karena yang aku perhatiin adalah, kebanyakan orang mengasosiasikan korban KDRT adalah wanita. Padahal ada saja tuh yang korbannya pria. Cuma kok kayak kurang disorot ya? Haha....

    ReplyDelete
  15. Nama : Naning Pratiwi
    E-mail / akun Twitter : chelsea_lovers83@yahoo.com / @chelseas_lovers
    Link tweet kalian : https://twitter.com/chelseas_lovers/status/680642388507799556 "Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?"

    LDRT itu harusnya nggak pernah terjadi dalam rumah tangga. Nggak pantas, nggak layak. Baik KDRT fisik maupun psikis. Kalau sampai terjadi, apa arti komitmen dalam pernikahan yang sedari awak sudah disepakati walaupun secara tidak jelas. Setelah meminta dari kedua orang tua, meminta dari Tuhan, Lalu dengan gampang melayangkan pukulan atau makian pada pasangan? Lantas apakah mahar yang dikeluarkan, hanya untuk menebus serta menghalalkan untuk memukul? KDRT hanyalah tindakan tak bertanggung jawab, tindakan egois, dan tindakan tidak bermoral serta tidak patut untuk dilakukan

    ReplyDelete
  16. Nama: Aulia
    E-mail: auliyati.online[at]gmail[dot]com
    Twitter: @nunaalia
    Link tweet: https://twitter.com/nunaalia/status/680657442519134209

    "Apa pendapatmu tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)?"

    Jawaban:
    KDRT itu sunggunh mengenaskan. Mengapa bisa dalam sebuah rumah tangga yang dibentuk dengan cinta bisa ada kekerasan semacam itu. Kemana perginya cinta yang diagung-agungkan itu? Manusia memang tidak luput dari salah dan khilaf, namun tetap saja KDRT tidak bisa dibenarkan, karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Sering kali peristiwa KDRT menghilangkan nyawa, itu hal yg sangat dikutuk.
    Aku berharap tidak akan ada lagi pelaku, peristiwa dan korban KDRT di Indonesia bahkan dunia ini, amiin.

    ReplyDelete
  17. Nama :Dini Auliana Putri
    Akun twitter:@dini_auliana
    Link tweet :https://twitter.com/dini_auliana/status/680666299521892352

    Menurutku KDRT is not love.

    ReplyDelete
  18. Nama: Frida Kurniawati
    Twitter: @kimfricung
    Link tweet: https://twitter.com/kimfricung/status/680686766639038464

    Kalau rumah tangga diibaratkan sebuah vas bunga dari keramik antik yg tak ternilai harganya, maka KDRT ibarat seluncur tendangan yg menjatuhkannya dan menyebabkannya pecah berserakan. Mungkin akan ada tangan yang memunguti dan menyatukan kembali pecahan2 itu dengan lem, tapi bekas pola pecahannya takkan pernah lenyap.

    ReplyDelete
  19. Nama :Agatha Vonilia Marcellina
    E-mail : agathavonilia@gmail.com
    Akun twitter : @Agatha_AVM
    Link tweet : https://twitter.com/Agatha_AVM/status/681092725815390208

    Pernikahan itu seperti biji sesawi. Kalau biji sesawi itu ditaburkan di tanah yang benar maka kebahagiaan yang didapat, tapi kalau ditabur di tanah gersang pasti penderitaan yang akan didapatkannya. Semua didasarkan pada pilihan. Bi salah memilih menurutku karena hanya dia merasakan kenyamanan dan cinta sesaat. KDRT (kesengsaraan, derita, rasa penyesalan, tenggelam di kegelapan), Bi harus berdamai dengan dirinya sendiri. Bukan tindakan semena-mena ayah Bi lantas dia mencari pelarian pada suaminya sebagai malaikat.

    ReplyDelete
  20. Nama : Sofhy Haisyah
    Email : sofhyhaisyah28[at]gmail[dot]com
    Twitter : @Sofhy_Haisyah
    Link : https://mobile.twitter.com/Sofhy_Haisyah/status/681218952345722881

    Menurutku, KDRT merupakan bentuk bumbu terlarang dalam keluarga yang jika digunakan akan menciptakan ketidakharmonisasian antara rasa kasih, cinta, dan sayang dalam keluarga itu sendiri.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...