Monday, April 8, 2013

Book Review: The Sign of Four: Empat Pemburu Harta by Sir Arthur Conan Doyle

.

BOOK review
Started on: 1.April.2013
Finished on: 2.April.2013


Judul Buku : The Sign of Four: Empat Pemburu Harta
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 216 Halaman
Tahun Terbit: 2012
Harga: Rp 29,750 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 4/5

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Otakku, tidak puas dengan berdiam diri. Beri aku masalah, beri aku pekerjaan, beri aku sandi yang paling rumit, atau analisis yang paling berbelit-belit, dan aku akan kembali menjadi diriku yang semula. Aku tidak perlu lagi menggunakan perangsang buatan ini. Tapi aku membenci kerutinan yang membosankan. Aku sangat menginginkan pengerahan mental."
Kisah ini diawali dengan keadaan Sherlock Holmes yang mengenaskan, karena tiga kali sehari selama berbulan-bulan ia menyuntikkan morfin atau kokain. Suntikan itu ia gunakan untuk merangsang dan menjernihkan otaknya yang merasa jenuh saat tidak digunakan untuk bekerja memecahkan sebuah misteri. Dr. Watson yang mulai khawatir dengan keadaan temannya itu merasa bersyukur saat rumah mereka kedatangan seorang perempuan bernama Mary Morstan, yang akan membawakan kasus misterius untuk dipecahkan.

Miss Morstan datang menceritakan kepada Sherlock Holmes dan Dr. Watson tentang kehilangan ayahnya yang sangat misterius. Ayahnya adalah seorang perwira di resimen India, dan saat mendapat cuti untuk pulang, ia memberitahu Miss Morstan bahwa ia sudah tiba di London dan menginap di Hotel Langham. Saat Miss Morstan pergi untuk menemui Ayahnya, tetapi Kapten Morstan ternyata sudah pergi dan belum kembali. Sepanjang hari Miss Morstan menunggu Ayahnya, melapor ke polisi, bahkan memasang iklan di koran. Tetapi sayangnya, sejak hari itu tidak ada kabar apa pun tentang Ayahnya.
"Harta karun India, rancangan yang ditemukan di antara barang-barang Morstan, adegan aneh saat kematian Mayor Sholto, penemuan kembali hartanya yang segera diikuti pembunuhan terhadap penemunya, keanehan kejahatan ini, jejak-jejak kakinya, senjata yang luar biasa, tulisan di kertas, yang sesuai dengan peta milik Kapten Morstan - ini benar-benar sebuah labirin, dan orang yang tidak sehebat temanku pasti sudah putus asa untuk menemukan petunjuk-petunjuknya."
Kapten Morstan menghilang 10 tahun yang lalu, dan 4 tahun kemudian Mary Morstan menerima kiriman mutiara yang amat mahal harganya setiap tahun, pada hari ulangtahunnya. Dan baru-baru ini, Miss Morstan menerima surat dari sang pengirim mutiara untuk mengajaknya bertemu. Lelaki itu bernama Thaddeus Sholto, anak laki-laki dari Mayor Sholto yang adalah teman Kapten Morstan. Thaddeus menceritakan permasalahan yang bersangkutan dengan hilangnya Ayah Mary, yaitu adanya pemburuan harta karun.

Setelah itu, Thaddeus menceritakan bahwa harta karun yang disebut berada bersama dengan saudara lelakinya bernama Bartholomew Sholto. Akan tetapi, saat Thaddeus bersama Sherlock Holmes dan yang lain datang ke rumah Bartholomew, mereka hanya mendapati lelaki itu sudah dingin dan tak bernyawa. Bahkan, harta karun yang seharusnya berada di kamar Bartholomew pun lenyap. Kasus ini pun menjadi semakin dalam dan menimbulkan pertanyaan, karena tidak hanya melibatkan harta karun tetapi juga pembunuhan. Sherlock Holmes dan Dr. Watson pun berniat untuk mengungkap sejarah di balik kejadian tersebut yang berakar dari pengkhianatan.

Baca kisah selengkapnya di The Sign of Four: Empat Pemburu Harta.
image source: here. edited by me.
Ini adalah novel kedua seri Sherlock Holmes yang aku baca setelah sebelumnya membaca A Study in Scarlet: Penelusuran Benang Merah (review here); dan lagi-lagi aku dibuat terkesan dengan penulisan Sir Arthur Conan Doyle sekaligus karakter Holmes yang begitu menawan. Kasus Empat Pemburu Harta ini terasa menegangkan karena kali ini pembaca akan melihat Sherlock Holmes yang sempat kewalahan mencari petunjuk - yang berarti penjahat yang sedang mereka hadapi sangat cerdik. Hal tersebut juga-lah yang membuat karakter Sherlock Holmes terasa sangat dalam untukku; karena meskipun Holmes bisa jadi sosok detektif yang amat hebat dan sempurna, selalu ada saat ketika ia kesulitan dan terhambat. Karakteristik itu membuat tokoh Sherlock Holmes menjadi sangat nyata bagiku.

Alur cerita kisah-kisah Sherlock Holmes, dapat aku simpulkan mempunyai beberapa kesamaan. Pada awal buku ini, digambarkan sosok Holmes yang frustrasi karena otaknya tidak ia gunakan untuk bekerja. Lalu muncullah sang klien yang datang dengan permasalahan mereka, kemudian Holmes pergi menyelidiki, menemukan kasus pembunuhan, mencari bukti, menelusuri jejak penjahat, dan kisah latar belakang sang penjahat dijabarkan dengan jelas kepada pembaca. Meskipun demikian, titik keistimewaan cerita Sherlock Holmes memang tidak terletak pada alurnya; melainkan lebih pada kasus per kasus yang ada dalam ceritanya, dan juga cara-cara Holmes yang berbeda mengungkap setiap kasus. Satu hal yang spesial dalam buku ini adalah pertemuan Dr. Watson dengan pujaan hatinya. Meskipun tidak ada relevansi yang terlalu besar terhadap cerita utamanya, kejadian ini mengembangkan karakter Dr. Watson lebih lanjut. Apalagi buku Sherlock Holmes ditulis dari sudut pandang Dr. Watson sendiri, sehingga perasaannya dapat kita lihat dengan jelas.
"Masalah utama dengan orang-orang seperti itu,... adalah jangan pernah membiarkan mereka menganggap bahwa informasi yang mereka berikan punya arti penting bagimu. Kalau mereka sampai berpikiran begitu, mereka seketika akan menutup mulut seperti tiram. Kalau kau mendengarkan keluhan-keluhan mereka, kemungkinan besar kau akan mendapatkan apa yang kau butuhkan."
Kutipan di atas adalah salah satu momen Sherlock Holmes yang membuatku semakin kagum terhadap sosok dan kepandaiannya (atau mungkin yang pandai sebenarnya adalah Sir Arthur Conan Doyle?). Seperti yang sudah pernah aku katakan pada review-reviewku yang sebelumnya, bahwa aku sangat mencintai karakter Sherlock Holmes. Dalam penyelidikannya kali ini, Sherlock Holmes perlu mencari tahu keberadaan seseorang; tetapi ia tidak langsung memberikan pertanyaan. Melainkan, ia berusaha mencari tahu dengan cara yang lebih tersembunyi, sehingga orang tersebut tanpa curiga memberitahu informasi yang Holmes butuhkan. Meskipun mungkin dalam kehidupan nyata tidak akan selalu demikian kejadiannya, tetapi dalam kasus cerita ini, aku mengacungkan dua jempol untuk Sherlock Holmes.

No need to say, I love this book! Tetapi mungkin ada yang akan mempertanyakan rating-ku yang hanya 4 meski aku sangat menikmati buku ini. Sayangnya, lagi-lagi aku sedikit merasa lelah saat membaca kisah sang penjahat (yang sepertinya selalu ada dalam cerita Sherlock Holmes; untuk membuat pembaca mengerti alasan sang pelaku). Meskipun aku tahu, itu adalah bagian yang penting, tetapi aku merasa ceritanya berbelit-belit. Walaupun demikian, buku ini tetap sangat mudah dinikmati dan dapat dibaca dalam waktu yang cukup singkat. Aku akan membaca kisah-kisah Sherlock Holmes yang selanjutnya setelah aku menyelesaikan timbunan terbaruku ^^

by.stefaniesugia♥ .

No comments:

Post a Comment