Friday, April 12, 2013

Book Review: Negeri di Ujung Tanduk by Tere-Liye

.
BOOK review
Started on: 5.April.2013
Finished on: 9.April.2013

Judul Buku : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 360 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 46,750 (http://www.pengenbuku.net/)

Rating: 5/5
Buku ini adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas."
Thomas, yang adalah seorang konsultan keungan profesional, kini memperluas bidang kerjanya. Unit baru dalam perusahaan konsultannya berfungsi sebagai konsultan strategi bagi politikus untuk memenangi pemilihan. Saat ini, Thomas sedang membantu seorang politikus berinisial JD yang menjadi kandidat terbaik pemilihan presiden. Thomas amat mendukung politikus ini karena impiannya untuk menegakkan hukum - yang adalah kunci dari semua permasalahan negara. Akan tetapi saat mereka sudah begitu dekat dengan kemenangan yang pasti, serangan balik yang mematikan datang menghancurkan. Dan sasaran utamanya adalah Thomas.

Saat itu Thomas sedang berada di Hongkong, ia baru saja menyelesaikan konferensi internasional tentang komunikasi dan pencitraan politik. Dijemput kapal pesiar baru miliknya yang berisi Opa dan Kadek - orang kepercayaannya. Seorang wartawan review politik mingguan bernama Maryam pun turut serta berada dalam kapal tersebut, setelah susah payah mengejar jadwal Thomas yang penuh. Suasana tenang di dalam kapal pesiar tersebut dikejutkan dengan kedatangan sekelompok pasukan berpakaian taktis yang menodong mereka dengan senjata. Penyelidikan pun dilakukan dengan membongkar kapal pesiar. Anehnya, pasukan tersebut menemukan sejumlah besar bubuk heroin, senjata otomatis, granat, dan juga peledak mematikan dalam kapal pesiar yang masih baru itu. Segera Thomas menyadari, bahwa seseorang yang berkuasa sedang menjebaknya dengan tuduhan dan berusaha menjatuhkannya.
"Ketiga, sekaligus fakta paling penting, kita semua tahu, bahwa prinsip mendasar seluruh kampanye politik klien kami adalah penegakan hukum. Dia berjanji akan menegakkan hukum di negeri ini. Dia bersumpah akan memberantas hingga ke akar-akarnya parasit hukum di negeri ini, orang-orang yang mempermainkan bahkan mengolok-olok hukum itu sendiri. Itu ide besar yang disukai banyak orang, sekaligus dibenci banyak pihak.
Dari ketiga fakta itu, siapa yang melakukan serangan politik ini? Membunuh karakter klien kami? Jawabannya adalah kejadian ini jelas melibatkan konspirasi besar dari banyak pihak, orang-orang yang terganggu jika klien kami menjadi presiden. Aku akan menyebutnya dengan istilah mafia hukum."
Tidak berhenti sampai di sana, Thomas kemudian harus dikejutkan dengan berita bahwa klien politiknya ditangkap atas tuduhan korupsi besar-besaran. Kejadian tersebut membuat status JD sebagai kandidat calon presiden dipertanyakan. Thomas dengan segala kemampuan dan akal pikirannya berusaha keras untuk memecahkan permasalahannya. Dikejar oleh waktu yang terus berjalan, ia harus berhasil meyakinkan anggota partai sebelum konvensi partai besar dibuka. Mafia hukum yang tersembunyi pun terus berusaha menangkapnya dengan berbagai macam cara. Dengan segala hal yang terjadi, permasalahan ini bukan hanya intrik politik biasa, tetapi merupakan sebuah pertarungan besar.
"Saat semua ini sudah dekat sekali, tidak peduli dengan intrik politik yang mereka lakukan, fitnah kejam atas calon presiden kita, tidak peduli itu semua, kita akan terus maju. Tidak ada yang boleh mendiskualifikasi calon presiden kita. Tidak ada yang boleh membatalkannya. Penangkapan itu dusta, intrik politik untuk membunuh karakter. Kita semua pemilik partai ini, kitalah pemilik suaranya, maka kita sendiri yang akan menentukan nasib partai ini, bukan mereka."
Dengan bantuan beberapa orang yang mempercayai dan mendukung Thomas, ia perlahan-lahan mengorek semua bukti untuk mengungkap orang-orang di balik mafia hukum. Saat yang terselubung mulai terlihat, Thomas baru menyadari bahwa orang yang ia cari adalah bedebah yang tidak pernah lagi ia sebut namanya. Akan tetapi meskipun bahaya berada di depan matanya, Thomas tidak akan menyerah hingga ia berhasil atau bahkan mati saat berusaha. Ia akan melakukan apapun yang perlu dilakukan, untuk menyelamatkan negeri yang berada di ujung tanduk.
"Dengan apa kau melawannya, Tommi?"
"Dengan cara-cara mereka,... Dengan kelicikan, keculasan, pengkhianatan, dan semua cara yang biasa mereka lakukan. Aku mempelajari cara mereka bertahun-tahun."
image source: here. edited by me.
Cukup sulit menggambarkan kebahagiaanku saat mengetahui bahwa sekuel Negeri Para Bedebah akan diterbitkan - karena Negeri Para Bedebah adalah salah satu buku favoritku. Dalam reviewku untuk buku pertamanya, aku mengatakan bahwa aku tidak begitu mengikuti perkembangan ekonomi negara - tetapi aku sangat menikmati ceritanya. Hal yang sama juga terjadi saat aku membaca buku ini. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah politik, dan aku juga bukanlah seorang yang mempunyai minat terhadap dunia tersebut. Akan tetapi, Tere-Liye selalu berhasil membuatku tertarik dan terpesona dengan kisah yang ia tuliskan - apapun tema cerita yang diangkatnya.
"Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang, lantas semua orang berdiri rapat di belakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada?
Maka jawabannya: selalu ada.
Ringkasan cerita yang aku tuliskan di atas sebenarnya tidak terlalu mengungkapkan banyak hal, bahkan mungkin bisa dikatakan itu hanya sebatas pembukanya. Cerita ini jauh lebih kompleks, dan lebih banyak kejadian menegangkan yang terjadi di dalamnya. Oleh karena itu tentu saja aku tidak menceritakan semuanya, agar yang belum membaca dapat menikmatinya sendiri. Jalannya alur cerita Negeri di Ujung Tanduk ini tidak jauh berbeda dengan buku pertamanya. Salah satunya adalah bab pertama buku ini yang mengisahkan Thomas yang akan menghadapi sebuah pertarungan, dan malah berteman dengan lawannya. Dan seperti buku pertamanya juga, buku ini juga menyuguhkan konflik yang penuh intrik, aksi, penjebakan, tuduhan, konspirasi, dan lain sebagainya. Meskipun pada awal pergerakan ceritanya terasa sedikit lambat, semakin ke belakang aku semakin tidak bisa melepaskan buku ini. Sensasi membaca Negeri di Ujung Tanduk terasa menegangkan untukku, karena aku tidak sabar melihat aksi Thomas untuk membuka kedok sang lawan yang sungguh menyebalkan. [ Perlu diketahui juga, bahwa kisah dalam buku ini terpisah dengan buku sebelumnya. Meskipun akan lebih baik jika sudah membaca Negeri Para Bedebah terlebih dahulu agar dapat mengetahui latar belakang beberapa karakter secara mendalam. ]

Sejak buku Negeri Para Bedebah, aku sudah memfavoritkan karakter Thomas. Ia mempunyai karisma dalam meyakinkan orang lain,  juga sangat cekatan dan penuh rencana saat bertindak. Cukup disayangkan karena karakter Opa dan Kadek yang berperan banyak di buku sebelumnya tidak terlalu disorot dalam buku ini. Untungnya Maggie - sekretaris sekaligus orang kepercayaan Thomas - masih tetap berperan banyak dalam membantu atasannya menggali informasi, dan juga memesankan tiket pesawat. Dan tentu saja aku tidak lupa menyebutkan Om Liem - salah satu karakter penting dalam Negeri Para Bedebah. Aku sangat senang dengan perkembangan karakternya di buku ini, dan kesimpulan hubungannya dengan Thomas membuatku amat terharu.
"Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.... Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang."
Ada banyak sekali hal baru yang aku pelajari lewat cerita ini, salah satunya tentu saja tentang dunia politik dan semua yang sulit dimengerti di dalamnya. Bahwa dengan kekuasaan, orang yang tidak bersalah dapat dibuat menjadi bersalah, orang yang bersalah dapat menjalani hidup dengan tenang dan kepala terangkat. Aku juga menyadari bahwa apa yang disebutkan oleh JD dalam buku ini mempunyai kebenaran, bahwa jika hukum benar-benar ditegakkan, banyak permasalahan akan selesai dengan sendirinya. Meskipun tentunya aku sadar bahwa untuk menegakkan hukum tersebut amat sangat tidak mudah. Dan tentunya cerita ini juga memberiku keyakinan bahwa akan selalu ada politikus yang mempunyai niat baik; walaupun tentu ada yang bertindak sebaliknya.

Ending buku ini, sangat membuatku puas karena tidak lagi membuatku penasaran. Jika membaca review-ku untuk Negeri Para Bedebah, aku menyebutkan bahwa ada yang masih menggantung dan satu hal yang belum terselesaikan. Aku sangat senang karena hal itu diselesaikan dalam buku ini, pembalasan telah dilakukan, dan hatiku bisa tenang. Terima kasih Bang Tere karena sudah menuliskannya :)) Epilog-nya pun terasa seperti makanan penutup yang manis dan aku bisa dengan lega menutup buku yang sudah membawaku dalam perjalanan yang penuh ketegangan ini.
"Aku mengangkat kepala, kembali menatap ke depan. Bedebah paling besar dalam seluruh cerita ini telah tiba, bos besar mafia hukum itu telah menemuiku, untuk melakukan rendezvous terakhir denganku."
Tidak perlu diragukan lagi, aku sangat menyukai buku ini - yang kemungkinan besar disebabkan karena aku sudah jatuh cinta dengan tulisan Tere-Liye. Negeri di Ujung Tanduk sudah memberikan banyak pengetahuan baru untukku. Aku sangat puas dengan karya ini (dan juga tidak lupa mengacungkan jempol untuk desain sampulnya), dan akan terus menantikan karya Tere-Liye yang selanjutnya :)

by.stefaniesugia♥ .

9 comments:

  1. Ahhh, sudah baca buku pertamanya. Jadi kepingin punya buku ini juga. >.<

    ReplyDelete
  2. aku udah punya buku pertamanya tapi blum sempet baca :'(

    jadi tambah penasaran karena ada sekuel nya... =]

    ReplyDelete
  3. wah, aku juga penasaran sama ending negeri para bedebah kemarin, Tapi di sekuel ini Julia gak dimunculkan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Julia nggak muncull :(
      digantiin wartawan baru namanya Maryam :D

      Delete
  4. Aihh, padahal aku ngarepnya hubungan mereka berdua bakal berkembang gitu :D hehe,
    Mesti tamatin buku ini segera :D

    ReplyDelete
  5. novel yang luar biasa....
    memacu adrenalin pembaca :)

    ReplyDelete
  6. bener banget suka sama karakter thomas, cuma aku belum baca yang negeri di ujung tanduk penasaran banget... btw di lanjutannya bagaimana kisah julia sang wartawan itu yah???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Julia udh ngga muncul lagi di buku ini :D tp ada wartawan yg lain ;)

      Delete